
Pembicaraan dengan Radit di cafe tadi membuat Adira menjadi tidak fokus dalam bekerja, Pikirannya selalu terngiang-ngiang tentang ucapan Radit yang ingin melamarnya seminggu ke depan.
Padahal untuk saat ini Adira belum ada pikiran untuk menjalin mahligai rumah tangga kembali, Dia masih ingin menikmati kesendiriannya dan fokus menjadi wanita karir. Akhirnya dia memutuskan untuk pulang lebih awal agar bisa berpikir dengan jernih sama saja walaupun dia sudah mencoba untuk fokus bekerja tapi tetap saja tidak bisa.
Dari pada pekerjaannya semakin berantakan lebih baik di pulang, Pekerjaan yang dia tinggalkan ia percayakan pada Pram sang sekertaris dan juga orang kepercayaan sang papa.
Sesampainya Adira Rumah, lebih tepatnya didalam kamar miliknya. Sehabis membersihkan dirinya ia sedang duduk memikirkan ucapan Radit. Dia ingin menolak Radit namun di satu sisi sudah hatinya yang lain seakan tidak bisa membohongi hatinya, dia merasa bahagia.
Adira yang begitu larut dalam pemikirannya sendiri, sampai sang mama masuk dan duduk di sampingnya tidak dapat membuat kesadarannya kembali
"Sayang" Panggil sang mama yang kesekian kalinya sambil menepuk pundak sang putri cantiknya.
Adira yang terkejut mendapat tepukan dipundak sehingga membuat kesadarannya kembali "Mama, ngagetin Adira saja" Ucapan Adira
"Habisnya sejak tadi mama panggil-panggil nggak ada sahutan sama sekali padahal jelas-jelas mama sudah melihat mu pulang" Ucap sang mama yang melihat wajah Adira dan melanjutkan ucapannya" Apa badanmu tidak enak sampai kau pulang lebih awal dari biasanya, Sayang." Ucapan sang mama dengan nada yang khawatir
"Tidak kok ma, Adira baik-baik saja" Ucapannya sambil tersenyum manis
"Atau ada yang kau pikirkan soalnya mama lihat kau duduk sambil melamun seperti banyak pikiran saja?" Ucap sang mama
"Tidak ma hanya saja" Adira menggantungkan Ucapannya
"Hanya saja apa, Kalau ada yang kau pikirkan cerita sama mama. Mama akan siap mendengarkan semua keluhan mu" Ucapan sang mama sambil mengusap rambut panjang Anaknya
__ADS_1
"Apa menurut mama Aku Pantas bersanding dengan Radit " Tanya Adira yang sudah berbaring sambil menaruh kepalanya di pangkuan sang mama.
"Memangnya kenapa tidak pantas?"
"Statusku" Jawab Adira singkat
"Jika dia mencintai mu dan bisa menerima mu apa adanya, Lalu kenapa tidak. Jangan menjadikan alasan status mu untuk menghalangi kebahagiaan mu, Sayang" Ucap sang mama
"Tapi untuk saat ini Adira belum kepikiran untuk menikah lagi ma, Apa lagi baru Dua bulan pasca perceraian ku. "
"Keputusan ada ditangan mu, Mama atau pun papa tidak bisa mengambil keputusan. Karena kebahagiaan mu yang paling penting untuk kami, Walaupun mama lihat Radit sangat serius dengan mu bahkan dia tidak mempermasalahkan status mu" Ucapan sang mama sambil mengusap kepala putri tercintanya
Adira menatap wajah sang mama sambil sambil tersenyum "Nanti Adira pikirkan lagi" Adira yang merasa nyaman dengan usapan sang mama tanpa sadar ia sudah terbuai ke alam mimpi ia tertidur dengan sangat lelap di pangkuan sang mama.
Beberapa jam telah berlalu Tepat pukul 08:00 Adira terbangun dari tidurnya karena dering ponsel yang sedari tadi berbunyi minta diangkat.
"Aku ketiduran, Jam berapa ini?" Lirihnya sambil mengambil ponsel yang sedari tadi tidak berhenti berbunyi dan siapa lagi kalau Bukan Radit sebagai pelakunya.
Dia segera menyentuh layar ponselnya dan menaruh benda pipi itu ke telinganya.
"Halo" Suara Adira yang masih mengantuk
"Sayang, apa kau sudah pikirkan ucapan ku tadi siang?" Tanya Radit tidak sabaran
__ADS_1
Adira menghela nafas karena mendengar ucapan Radit yang sudah memboyongnya dengan meminta jawaban saat baru saja mengangkat telpon
"Sepertinya untuk saat ini aku belum ada pikiran untuk kembali menikah dan menjalani rumah tangga. Aku hanya ingin fokus bekerja di perusahaan, Dan aku baru dua bulan pasca perceraian jadi aku belum siap. Aku harap kau mau mengerti "
Radit yang mendengar ucapan Adira menghela nafas berat dari seberang telepon yang dapat di dengarkan oleh Adira.
"Setidaknya kita telah bertunangan, Agar aku lebih tenang karena kau sudah terikat dengan ku. Aku takut ada orang diluar sana yang menginginkan mu dan kau berpaling lagi dari ku" Ucapnya terdengar Takut Adira berpaling
"Itu hanya pikiran mu"
"Jadi sampai kapan aku harus menunggu" Tanya Radit dengan suara yang tak bersemangat seperti awal menelpon
"Satu tahun, Sampai tahun depan saja"
"Satu tahun terlalu lama, Enam bulan saja" Ucapannya menawar
"Sepuluh bulan"
"Tidak empat bulan" Tawar Radit lagi
"Tidak aku tidak memberikan mu penawaran lagi, jadi terserah kau mau atau tidak sama sekali" Jawaban Adira dengan suara terdengar tidak bisa dibantah
"Ya baiklah, Aku akan tunggu Sepuluh bulan. asal kau nantinya tidak akan berpaling" Jawab Radit pada akhirnya yang mau mengalah dan mau mengikuti keinginan Adira.
__ADS_1