
Adira Melihat Wajah Radit, Wajah lelaki yang pernah dicintainya dimasa lalu itu. Sambil berkata "Tapi Radit masalahnya tidak sesederhana yang kau pikirkan itu, Kau Masih memiliki orangtua bagaimana dengan mereka? Apa mereka bisa menerima aku sebagai menantunya? Mereka pasti menginginkan perempuan yang layak yang akan mendampingi mu, bukan seperti aku yang menyandang status Janda. aku tidak akan layak untuk berada disisi mu"
Radit menatap mata Adira dan meraih tangannya, Ia mengerti dengan ketakutan yang ada dalam diri Adira. Karena wanita yang berada didepannya ini tidak percaya diri dengan statusnya dan yang dia takuti akan di tolak dan tidak dapat Restui dari orangtuanya. Padahal sejak jauh-jauh hari Radit sudah membahas itu dengan sang mama malahan sebelum Adira sah bercerai.
"Kalau masalah restu kau tidak perlu khawatir dengan itu, Karena orang tuaku akan mengikuti keputusanku mereka tidak akan menentang pilihanku. Karena bagi mereka yang terpenting adalah kebahagiaanku, aku juga sudah pernah membahas masalah statusmu itu dengan mama dan mama tidak masalah sama sekali dengan itu. Kau tau malahan mama sangat bahagia ketika mendengar Wanita itu adalah kau, karena kau yang mama ingin kau menjadi menantunya malahan sejak dulu namun kesempatan itu baru datang sekarang." Ucapan Radit dengan Suara yang selembut mungkin dengan wajah yang sangat serius.
Adira menatap mata Radit untuk mencari kebohongan dari dalam bola mata teduh itu, Dan dari semua ucapan yang baru saja Radit ucapan untuknya namun di tidak dapat menemukan sedikit pun kebohongan dari mata itu. Malahan di hatinya merasa damai dan tenang ketika menatap mata itu seakan dia terhanyut kedalam bola mata yang menetapnya dengan penuh cinta dan kekaguman.
Adira segera menguasai dirinya dan berucap " Benarkah seperti itu atau jangan-jangan kau hanya membohongiku saja"
"Tentu saja yang aku ucapkan adalah kebenaran, Sayang. Memangnya sejak kapan aku pernah membohongi mu, apa selama kita bersama aku pernah berbohong. Buanglah jauh-jauh pikiran yang membuat mu meragukan semua ucapan ku, Sayang."Ucapannya dengan tersenyum manis
__ADS_1
"Apa nanti kau tidak akan menyesal? Kau laki-laki yang memiliki semuanya Radit jika kau menginginkan Seorang perempuan aku rasa kau tinggal mengatakan saja pasti perempuan itu akan dengan senang hati menerimamu. Karena kau bisa mendapatkan perempuan yang lebih dari aku yang hanya seorang janda apa kau tidak akan malu" Ucapan Adira dengan segera keraguannya.
"Kenapa harus malu dan untuk apa aku harus menyesal malahan aku akan sangat bahagia memilikimu di hidupku, karena yang aku inginkan itu kamu bukan yang lain. Memangnya apa yang salah dengan statusmu? Ingat Sayang tidak ada satu perempuan di dunia ini yang menginginkan menyandang status janda, Status Jandamu bukan sesuatu yang memalukan dan bukan status yang hina atau aib yang akan membuatku malu, ingat ucapan ku itu Sayang" Jawaban Radit dengan penuh kesungguhan agar Adira dapat menepis keraguan yang ada dalam hatinya.
"Tapikan..." Suara Adira tercekat di tenggorokan karena Radit memotong ucapannya.
"Tidak usah tapi- tapian, jadi sekarang kau akan menerima ku sebagai suamimu kan." Ucapan Radit dengan senyuman yang merekah dari bibirnya.
"Memangnya apa lagi yang kau pikirkan? Apa semua jawaban yang aku berikan padamu belum cukup untuk memantapkan hatimu? Tidak perlu berpikir terlalu lama kau hanya perlu mempersiapkan dirimu untuk Minggu depan aku akan datang dengan kedua orangtuaku untuk melamar mu"
"Aku belum memberikan jawaban atau menyetujuinya"
__ADS_1
"Aku tidak perlu menunggu jawaban mu karena tidak ada pilihan untuk mu"
"Itu sama saja kau memaksa kehendak mu padaku dan kalau begitu kenapa kau bertanya jika tidak perlu jawaban dari ku"Protes Adira
"Terserah kau mau bilang aku memaksa atau apapun itu tentang ku, aku hanya memberi tau mu agar kau dapat mempersiapkan diri itu saja. Karena yang paling penting kau akan menjadi milikku seutuhnya dan tetap berada di sisiku untuk selamanya"
"Kau tidak boleh egois jadi manusia Radit, Biar bagaimana pun juga aku harus memikirkan semua ucapan mu" Jawab Adira dengan jengkel kemudian dia melanjutkan ucapannya " Aku harus segera kembali ke kantor karena ada pekerjaan yang harus aku selesaikan dan juga sepertinya aku sudah terlalu lama berada diluar" Adira melirik jam ditangannya bahwa dia sudah terlalu lama berada diluar
"Ya sudah nanti malam aku akan menghubungi mu lagi untuk berbicara lebih lanjut" Ucap Radit yang mengalah pada akhirnya. Dan Adira segera berdiri dan melangkahkan kakinya untuk segera kembali ke perusahaan.
Adira sangat tau jika berbicara dengan Radit akan memakan banyak waktu untuk membahas masalah ini. Padahal dia harus segera kembali ke kantor untuk menyelesaikan pekerjaan yang menumpuk di Meja kerjanya.
__ADS_1