Penghianatan Suami Dan Sahabatku

Penghianatan Suami Dan Sahabatku
Bab 62


__ADS_3

Di Pertengahan hutan yang sangat jauh dari perkotaan dan juga dari jangkauan Orang, Seorang perempuan dengan penampilan berantakan dan kurus dari pertema mereka menehannya. Dengan suara yang terus berteriak seperti orang gila bagaimana ia tidak berteriak kalau setiap harinya dia disiksa. Namun bukanlah fisiknya melainkan mentalnya yang disiksa.


Nadia yang setiap harinya melihat orang-orang jahat seperti dirinya yang dibunuh dan digeluti hidup-hidup lalu dilemparkan dagingnya pada binatang buas yaitu harimau. hal itu Membuat dirinya selalu menggigil ketakutan jika nasibnya akan sama seperti orang-orang itu.


"Tolong lepaskan aku, jangan siksa aku seperti ini "


"Ampuni aku, aku mohon"


Bahkan dalam tidurnya sekalipun dia selalu berteriak meminta ampun namun Anak buah Johan tidak pernah merespon ucapannya. Bahkan teriakannya menjadi hiburan tersendiri untuk mereka.


"Kalian semua bukan manusia, kalian psikopat. Tolong jangan lakukan itu padaku lepaskan aku" Teriaknya yang setiap hari merasa frustasi dengan apa yang setiap hari Dia lihat.


Orang-orang suruhan Johan melihatnya dan tersenyum menyingrai, senyum yang sangat menyeramkan yang Nadia lihat.


"Berteriak lah sampai kau merasa puas dan lelah dengan sendirinya, Karena Sekencang apapun teriakan mu tidak akan ada yang mendengarkan apalagi membantu mu. Tenang saja secepatnya akan tiba giliran mu yang akan berada diposisi mereka. Kau hanya perlu persiapkan dirimu dengan baik"


Nadia yang mendengarkan ucapan seperti itu semakin membuatnya berteriak histeris. "Tidak kalian tidak boleh lakukan semua itu padaku" Ucapannya dengan Suara tangisan yang sangat menyayat hati jika ada yang mendengarkan tangisannya pasti orang akan sangat mengasihaninya tapi tidak dengan anak buahnya Johan bagi mereka tangisan dan teriakannya menjadi hiburan tersendiri untuk mereka.


"Kenapa tidak, Kau hanya perlu bersabar" Ucapan mereka dengan suara tertawa keras tertawa yang didengar Nadia sebagai ancaman.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Radit yang sejak hari dimana bertemu dengan Daniel manjadi uring-uringan sendiri, Dia harus segera mencari cara agar Adira mau untuk menikah dengannya secepatnya.


Sehingga dia memiliki ide cemerlang untuk bekerja sama dengan calon papa mertuanya, Mungkin dengan mereka bekerja sama Adira bisa luluh dan menerima pinangannya.


"Ya aku harus bekerja sama dengan calon papa mertua agar bisa merayu putrinya untuk segera menikah dengan ku" Ucapannya dengan tersenyum bangga karena ia dapat ide cemerlang.


"Kau memang pintar Radit" Ucapnya Lirihnya membanggakan diri sendiri.


Setelah dia mendapatkan ide yang sangat cemerlang menurutnya itu, Sehingga membuat dirinya kembali bersemangat melakukan pekerjaannya.


"Hugh, Jam pulang kantor Masih lama ternyata " Ucapnya yang tidak sabaran untuk bertemu dengan papa Adira Agar dapat menyampaikan keinginannya untuk membantu dirinya. Kemudian ia kembali melanjutkan pekerjaannya.


Radit yang tidak sabaran, Selalu melirik jam ia berharap semoga jam cepat berputar agar ia bisa keluar dan dapat merealisasikan rencananya untuk bertemu dengan papa Adira tersebut.


"Kenapa jamnya berputar lama sekali, Apa karena jamnya telah Rusak. Tapi tidak mungkin ini masih bergerak, Ah menyebalkan kenapa Waktunya berputar dengan begitu lambat. Perasaan aku kerja sudah sangat lama" Padahal dia yang tidak sabaran


Ketika Radit sedang pusing memikirkan jam yang menurutnya lambat, bersama dengan itu pintu Ruangannya diketuk

__ADS_1


Tok....tok..


"Masuk" Ucapan Radit pada orang dibalik pintu yang sudah ia tahu pastinya orang tersebut adalah Johan sang sekretaris.


Pintu dibuka disana Nampak Johan yang masuk dan berjalan mendekati Radit.


"Tuan, Ada berkas yang harus segera anda periksa dan perlu ditanda tangani, Tuan." Ucap Johan setelah berdiri di samping Radit dan menyerahkan berkas tersebut.


Radit yang mengambil dan hendak memeriksa berkas tersebut mengurungkan niatnya kemudian menatap Johan dan berucap "Sekarang sudah jam berapa, Coba kau lihat di jam tangan milikmu"


Johan melihat wajah tuanya dengan bingung, karena tuannya sendiri juga memakai jam jadi untuk apa menyuruhnya lagi. Pikirannya


Radit yang menyadari wajah kebingungan sang sekretaris melanjutkan ucapannya


"Karena sedari tadi aku melihat jam punya ku baru menunjukkan pukul 14:30 Apa jamku sudah rusak"


Radit yang mendengarkan ucapan sang tuan pun melirik jam tangannya kemudian ia berkata "Benar tuan, jam saya juga menunjukkan pukul yang sama. Ada-ada saja masa jam semewah itu bisa rusak tanpa sebab" Kalimat terakhirnya ia hanya berani melanjutkan didalam hati saja. Mama mungkin ia berani mengungkapkan kata seperti itu secara langsung, bisa-bisa pekerjaannya menjadi taruhannya.


Radit yang mendengarkan ucapan Johan hanya mengangguk dan melanjutkan memeriksa berkas yang sempat tertunda. Radit hanya bisa menahan keinginannya untuk bertemu dengan papa Adira beberapa jam kedepan.

__ADS_1


__ADS_2