Penghianatan Suami Dan Sahabatku

Penghianatan Suami Dan Sahabatku
Bab 64


__ADS_3

Hari ini Adira bekerja seperti biasanya, Adira bekerja dengan sangat serius dia sedang memeriksa dan menandatangani berkas tersebut.


Namun ketika ia sedang fokus bekerja ponselnya berdering


Dreeeet... Dreeeet... Adira mengambil ponsel miliknya dan melihat nama sang mama yang tercantum pada layar ponselnya. Tanpa Rasa curiga ia mengangkat.


"Sayang bisa kamu menyusul mama ke rumah sakit" Ucap sang mama dari sebrang Dengan suara yang sedang khawatir.


"Ada apa ma'' Siapa yang sakit?" Tanya Adira dengan terkejut karena sang mama yang menyuruhnya untuk datang kerumah sakit secara tiba-tiba padahal sejak ia keluar meninggalkan orangtuanya untuk bekerja semuanya nampak baik-baik saja.


"Papamu nak, papa tiba-tiba pingsan didalam kamar mandi. Sehingga mama dan supir segera melarikan papa kerumah sakit, Sayang" Ucapan sang mama dengan suara yang menahan tangisan.


Adira yang mendengarkan Ucapan sang mama bahwa papanya masuk rumah sakit, sehingga membuat dirinya menjadi syok dan tak dapat berucap apa-apa. Air matanya tiba-tiba keluar karena mendengar kabar tersebut.


"Baik ma, Adira akan segera ke sana" Jawab Adira dengan suara yang sangat khawatir

__ADS_1


"Mama membawa papa kerumah sakit AA. Cepat kau datang sayang"


"Baik ma, Adira ke sana sekarang juga. Mama tunggu ya " Ucapannya yang langsung memutuskan sambungan telponnya dan berjalan dengan tergesa.


Beberapa jam kemudian, Adira sudah berada sampai di rumah sakit ia berjalan dengan sangat terburu-buru agar bisa sampai ke ruang rawat papanya. Karena kebetulan sang mama telah mengirimkan nomor kamar perawatan sang papa melalui pesan ketika ia sedang berkendara tadi.


"Ma, apa kata dokter tentang kondisi papa? papa baik-baik saja kan?" Tanya Adira dengan raut wajah yang sangat khawatir setelah ia sampai di ruangan rawat sang papa.


"Kata dokter, papa kena serangan jantung" Jawab sang mama dengan air mata yang berderai


"Apa papa masih bisa diobati " Tanya Adira lagi


"Kata dokter jangan membuatnya pikiran dan mendengar kabar yang tidak baik, Karena itu akan mempengaruhi jantungnya" Ucap sang mama setelah melepaskan pelukan Dari sang putri.


Adira menghela nafasnya, mengatur agar dia tidak boleh menunjukkan kekhawatiran didepan sang mama. Dia harus terlihat kuat agar sang mama tidak terlalu pikiran dan khawatir yang akan mengakibatkan sang mama berakhir dengan jatuh sakit juga.

__ADS_1


Tidak lama sang papa terlihat bergerak dan membukakan matanya. Ia telah tersadar dari pingsannya. Adira yang melihat itu segera memanggil dokter untuk memeriksa keadaan papanya setelah itu ia berjalan mendekati sang papa.


Setelah dokter datang dan memeriksa keadaan papanya " pak Bobi perlu banyak beristirahat dan tidak boleh banyak pikiran apalagi mendengar berita yang dapat membuatnya terkejut itu bisa sangat membahayakan beliau " Ucap dokter dan segera undur diri dan keluar dari ruangan tersebut.


"Pa, Maafkan Adira. Mungkin karena papa memikirkan Adira sehingga papa menjadi seperti ini" Ucapannya dengan penuh rasa bersalah dan tanpa sadar setetes air mata jatuh dari kelopak matanya.


"Tidak sayang, Ini bukan salah mu. Mungkin karena papa sudah tua sehingga terjadi seperti ini " Ucap sang papa sambil mengusap kepala sang putri yang kebetulan telah duduk di kursi samping ranjang pasiennya.


"Sayang, apa papa boleh meminta sesuatu padamu" Ucap sang papa lagi


"Papa ingin meminta apa? papa tidak perlu khawatir jika Adira bisa pasti akan Adira penuhi permintaan papa" Ucapannya sambil memegang tangan sang papa


Papanya memandang sang mama yang berbeda di samping Adira kemudian kembali menatap Adira lagi. Sambil berucap


" Papa ingin kau segera menikah dengan Radit, Apa kamu bisa memenuhi permintaan papa yang satu itu" Melihat Wajah putrinya dengan penuh harap.

__ADS_1


__ADS_2