PENGHUNI VILLA PUTIH

PENGHUNI VILLA PUTIH
Part - 10


__ADS_3

Lanjut ah...


Gemuruh petir seperti kejar kejaran dilangit. Anginpun bertiup dengan kencang. Meski hujan belum lagi turun, tapi suasana di Villa putih itu terasa begitu mencekam. Ratih terlihat mondar mandir membantu Herman menyalakan perapian, Tiwi terlihat sedang mencari cari, makanan apa yang bisa mereka santap malam ini. Ini sudah hari ke lima mereka terjebak di Villa Putih, sedangkan orang yang ditelpon Herman belum juga terlihat batang hidungnya. Malam ini bertepatan dengan malam jumat kliwon. Ah entah sudah termakan kisah2 sinetron atau cerita2 horor tentang malam jumat kliwon yang membuat Ratih dan Tiwi terlihat begitu ketakutan atau suasana Villa itu yang memang memancarkan aura magis.


"Tih....gue takut banget nih. Apalagi ini malam jum'at kliwon, kata orang banyak setan.....iiiihhhh," ujar Tiwi sambil merapatkan tubuhnya ke Ratih.


"Gue juga takut wi. Apalagi gensetnya udah gak nyala, jadi gelap banget. Nih lo pegang tangan gue, bulu kuduk gue berdiri semua." Ratih berujar tak kalah takutnya.


Herman melirik istri dan sepupunya. Lalu ia berjalan kearah mereka. 


"Sayang kamu kenapa?,"


"Takut mas...aku takut banget."


"Iya man, apalagi tuh burung hantu, bunyi terus...hiyyy." Tiwi menimpali ucapan Ratih, sambil badannya terus merapat.


"Daripada gitu, mending kita dzikir dan baca doa, biar kita tenang."

__ADS_1


Ratih dan Tiwi mengangguk bersamaan. Tiba2 netra mereka melihat sosok bi Surti di kegelapan malam, wajahnya terlihat jelas ketika cahaya petir menyinari tempatnya berdiri. Terdengar ia tertawa dengan lengkingan yang teramat tinggi dan menakutkan.


hihihi.....hihihihihiiiii


Sontak Tiwi dan Ratih memejamkan matanya sambil berteriak. Herman berusaha menenangkan keduanya, meski iapun merasa sangat takut. Dengan membawa sepotong bambu, Herman berjalan kearah datangnya suara, yang jujur saja, terasa begitu menyeramkan. Ketika ia sampai ditempat itu, wanita itu sudah tak ada lagi. Herman menoleh kearah Ratih dan Tiwi, ia mengangkat bahunya, memberi tanda bahwa gak ada seorangpun disana, mungkin yang mereka lihat dan dengar tadi cuma khayalan atau halusinasi. Tiba tiba, ia melihat Ratih dan Tiwi berteriak.


"Mas Herman awassss!!!, dibelakang kamu ."


Mendengar teriakan itu, Herman spontan berpaling. Alangkah terkejutnya ia, dihadapannya berdiri seorang wanita berkebaya, dengan senyum yang menyeringai dan tiba2..


Tiba tiba saja wanita menghantam punggung Herman dengan sebuah balok kecil


Herman terhuyung sesaat, sebelum semuanya benar benar gelap. Ratih dan Tiwi berlari keluar ruangan sambil menjerit. Terdengar suara balok yang diseret perlahan, menaiki tangga.


"Keluarlah!!!!, keluar kalian," ujar si nenek sambil terus menyeret balok kayu.


"Aku akan masak daging bayi untuk kalian...hihihiihihi.....hihihihi."

__ADS_1


Ratih dan Tiwi terus bersembunyi, hingga tiba tiba terdengar suara parau memanggil bi Surti.


"Surti!!!!....Surtiiii, dimana kamu???."


Bi Surti yang sekarang mereka temui bukanlah bi Surti yang mereka kenal kemarin. Wajahnya terlihat sangat menakutkan dan menyeramkan. Ia berjalan meninggalkan tempat persembunyian Ratih dan Tiwi.


Ratih dan Tiwi menarik nafas lega. Mereka berjalan perlahan membuntuti bi Surti. Mereka sangat khawatir dengan keselamatan Herman.


"Surtiii...sudah kau temui dua gadis itu?." Terlihat seorang kakek memanggil nama bi Surti.


"Belum. Aku belum bisa mendapatkan dua gadis itu."


"Ini malam Jumat Kliwon, saatnya kita menghidupkan Bella , dengan darah perawan gadis2 itu. Dan kita akan kawinkan dengan laki2 ini. Cepatttt atau Bella tak dapat kia hidupkan lagi." laki2 itu berteriak keras.


Bi Surti melangkah menyusuri Villa dengan menyeret balok kayu. Tertawanya mulai terdengar lagi.


"Hiiihiii....hiihiiihii...hihihihi

__ADS_1


__ADS_2