PENGHUNI VILLA PUTIH

PENGHUNI VILLA PUTIH
Part - 11


__ADS_3

Malam semakin larut, tapi bi Surti belum menemukan Ratih dan Tiwi. Di depan perapian terlihat Herman terbujur dengan kaki dan tangan terikat. Disebelahnya terbaring tubuh seorang gadis, lebih tepatnya mayat seorang gadis. Entah apa yang sudah mereka berikan pada tubuh gadis itu, hingga jasadnya masih terlihat utuh dan cantiik.


Ratih dan Tiwi tak dapat menyembunyikan rasa takutnya. Tubuh mereka bergetar hingga menimbulkan bunyi dan membuat si kakek menoleh.


"Oh..rupanya kalian disitu. Ayo mendekatlah, kita akan mengadakan upacara pembangkitan ruh. Hahaha....hahaha...hahaha." ujar ujar kakek sambil tertawa.


Tiba tiba tubuh Ratih dan Tiwi tersungkur, ketika sebuah balok kayu menghantam punggung mereka. Suara tawa bi Surti terdengar nyaring dan melengking.


Hihihi....hihihi...hihihi...hihihi


"Akhirnya....Bella anakku, akan dapat hidup lagi, dengan darah perawan. Hihihi....hihihi...hihihi."


"Cepatlah Surti. Atau kita akan terlambat."


Kakek tua dan bi Surti terlihat menyiapkan perlengkapan upacara. Asap dupa mengepul memenuhi udara, hingga menyesakan dada. Suara kidung Lengser wengi terdengar disenandungkan bi Surti sambil menggerak gerakkan badannya. Tiba tiba si kakek menghentikan ritualnya. Wajahnya terlihat kesal dan marah.


"Surtiiiii..mana ayam hitam dan kembang tujuh rupa?."


Bi Surti menghentikan senandungnya. Ia mencari cari kesana kemari.

__ADS_1


"Tadi aku letakan disini?, siapa yang sudah memindahkannya."


"Dasar wanita tua jelekk. Kita tidak mungkin melanjutkan ritual tanpa benda benda itu."


"Kurang ajarrr. Kau bilang apa?, aku jelekkk?, dulu kau tergila gila padaku. Kau lampiaskan nafsumu padaku. Hingga aku melahirkan anakmu, dan tidak diakui suamiku. Sekarang kau bilang aku jelek, kurang ajarr!!." bi Surti terlihat sangat marah dan melemparkan benda benda yang ada dihadapannya hingga semua berantakan.


Kakek tua itu menghampiri bi Surti. Dan mulai merajuk. Ia tau betul bagaimana menenangkan wanita itu. Hingga akhirnya wanita itu kembali tertawa. Mereka kemudian terlihat berjalan meninggalkan ruangan itu mencari ayam hitam dan kembang tujuh rupa.


Ratih yang sejak tadi sudah sadar dan pura2 masih pingsan menggoyang goyangkan badan Tiwi.


"Wiii...Tiwiii bangun. Cepet sebelum mereka datang."


"Heh..sudah, mesra mesraannya nanti aja, nanti mereka keburu datang."


Belum usai Tiwi mengucapkan kata2nya tiba2 terdengar langkah kaki dan suara kakek dan bi Surti memasuki ruangan. Herman menarik tubuh Ratih dan Tiwi, membawanya keluar dari Villa. Terdengar suara teriakan sangat keras.


"Kurang ajarrr. Kemana kalian??, kalian tak akan lolos. Aku akan menangkap kalian dan ******* tubuh kalian. Kalian dengar..???." Suara parau kakek tua terdengar marah.


Herman, Ratih dan Tiwi terus berlari. Mereka tak perduli meski kerap mereka terjerembab dan berdarah. Malam terus merangkak naik, Herman melirik jam yang melingkar ditangannya, jarum jam menunjuk kearah tiga, berarti sebentar lagi subuh akan datang. 

__ADS_1


"Mas....istirahat dulu, aku capek," ujar Ratih, sambil menghempaskan tubuhnya di rumput.


"Iya...aku juga, kakiku berdarah nih man."


Herman mendekati Tiwi, terlihat darah mengucur dari betisnya yang terluka. Herman menyobek lengan kemejanya dan mengikatkannya di luka sepupunya itu.


"Aduh...!!!, pelan pelan Man, sakit."


"Iya Wi, ini juga sudah pelan, tapi luka kamu memang sangat dalam." Ujar Herman sambil terus merapikan balutannya, agar darah tak lagi mengucur. Kemudian pandangannya beralih ke Ratih.


"Kamu gak apa2 kan sayang??." Ujarnya cemas, sambil memperhatikan tubuh istrinya.


"Nggak mas, alhamdulillah." Ujar Ratih sambil tersenyum.


"Tau gak sayang, sepertinya capek dan lelah aku hilang, begitu lihat senyum kamu."


"Iihhh...mas Herman apa sih??," ujar Ratih sambil mencubit pinggang Herman.


"Kalian tuh ya, dalam keadaan gini aja masih bisa mesra mesraan." Ujar Tiwi, pura pura marah, sambil memasang muka cemberut. Ratih dan Herman hanya tertawa. Mereka mencoba memejamkan mata mereka bersandar pepohonan. Mereka terbangun ketika cahaya Matahari menerobos dedaunan menerpa wajah mereka.

__ADS_1


__ADS_2