PENGHUNI VILLA PUTIH

PENGHUNI VILLA PUTIH
Part - 13


__ADS_3

Ratih mendekapkan lututnya kedada, udara malam ini terasa menusuk tulang...dingin, ditambah lapar yang mulai terasa begitu menyiksa. Bimo membuka ranselnya dan mengeluarkan sepotong roti.


"Makanlah ai, kamu pasti lapar."


Ratih menatap Bimo, perlahan tangan mungilnya meraih roti itu dan mulai memakannya. Wajahnya memerah tersipu ketika sadar Bimo sedang menatapnya. 


"Kamu masih seperti dulu ai.....cantik" Ujar Bimo perlahan. Ratih menundukan wajahnya. Tanpa menghiraukan ucapan Bimo, ia melanjutkan makannya. Ia merasa sangat berdosa karena telah meninggalkan Bimo demi hidup bersama Herman. Bimo mengulurkan segelas minuman, lalu terlihat ia melepas jacketnya dan memberikannya pada Ratih.


"Pakailah...udara sangat dingin."


"Bim...kenapa kamu masih baik sama aku, padahal aku sudah sangat jahat sama kamu." ujar Ratih perlahan.


Bimo menatap lekat wajah manis yang ada dihadapannya.


"Bim, aku juga gak ngerti kenapa waktu itu, aku bisa meninggalkan kamu dan menikah dengan Herman. Maafkan aku ya Bim, aku betul betul bingung," ujar Ratih sambil menitikan air mata.

__ADS_1


Tiba tiba dikejauhan mereka melihat bayang bayang Herman. Dia sedang berjalan dengan seseorang, sambil membawa lampu sentir. Sepertinya seorang wanita jika dilihat dari cara berjalan dan postur tubuhnya. 


Ratih baru hendak membuka mulutnya, ketika tiba tiba Bimo memberi isyarat untuk diam. Mereka terus memperhatikan, hingga keduanya hilang dikegelapan malam


"Sedang apa Herman disana?, dan siapa yang jalan bersamanya?."


Bimo mengernyitkan dahinya perlahan, dia merasa ada yang tidak beres dengan Herman. Tapi apa??


Belum usai keterkejutan mereka, tiba2 terdengar sorak sorai dikejauhan, seperti sedang ada acara ritual pemujaan. Ya...suara itu berasal dari Villa Putih.


Keberaniannya muncul, saat ia menyadari sepupunya dalam bahaya.


Ratih hendak berjalan kembali ke Villa. Langkahnya terhenti saat tangan kekar Bimo memegang pergelangan tangannya. Bimo meminta Ratih untuk tenang dan jangan terburu buru.


"Ai..tenang!, jangan gegabah !. Besok pagi saja kita ke Villa itu, sekarang kita istirahat dulu, kita kumpulkan kekuatan untuk besok."

__ADS_1


Ratih diam mematung, sebelum akhirnya mengangguk dan mulai menenangkan fikirannya. Bimo membimbing Ratih ke sebuah pohon besar dan memintanya untuk beristirahat. Ratih duduk dan menyandarkan tubuhnya yang mungil ke akar pohon. Karena letih iapun akhirnya terlelap. Bimo dan Arya berbagi tugas jaga. Khawatir kakek tua jahanam dan bi Surti tiba tiba muncul. 


Malam ini terasa begitu panjang dan mencekam, lolong anjing terdengar bersahut sahutan dikejauhan, suara serangga malam terdengar bagai harmoni kematian. Brrrr....tiba tiba angin dengan kekuatan besar bertiup, membuat pohon pohon berderak, meliuk liuk.


treeek....krekkkk...


..brakkk


Sebuah dahan jatuh persis di depan Ratih. Jika saat itu Bimo tidak sigap menarik tubuh Ratih, mungkin ia sudah tertimpa dahan itu. Kuatnya tarikan Bimo, membuat tubuh mereka bersentuhan teramat dekat. Sesaat mereka hanyut dalam nostalgia, hingga deheman Arya menyadarkan mereka.


"Ma..ma..maaf Ai, aku gak sengaja." ujar Bimo sambil melepaskan pelukannya.


"Gak apa apa Bim. Aku yang harusnya berterima kasih, karena kamu sudah dua kali nyelametin aku. Kalau gak ada kamu, mungkin aku sudah tertimpa batang pohon itu."


Bimo mengangguk pelan. Gemuruh didadanya berusaha ia redam dengan menjauh dari Ratih. Perasaan cinta masih tersimpan rapi dalam hatinya dan tak bisa ia hilangkan.

__ADS_1


__ADS_2