
Ratih merasakan sakit yang teramat sangat disekujur tubuhnya. Terror makhluk ghaib tadi malam begitu hebat, membuat raganya terasa sakit dan lemah. Tubuhnya tergolek lemah dan tak berdaya. Ummi Asiah memberikan ramuan yang dipetiknya dari tanaman obat dihalaman belakang rumah.
"Bagaimana keadaannya ummi?," ustadz Burhan bertanya dengan nada cemas.
"Ummi sudah memberikan ramuan abi, alhamdulillah keadaannya sudah berangsur membaik, tadi sih sempet panas lagi, tapi sudah ummi kompres dan sekarang panasnya sudah turun."
Ummi Asiah berjalan mendekat kearah Ustadz Burhan, dan berbisik :
"Bi..bagaimana rencana kita selanjutnya ?, ummi khawatir sekali bi. Kita tidak mungkin membiarkan penghuni Villa itu meneror nak Ratih, nak Bima dan warga desa. Apa tidak sebaiknya kita datangi Villa putih, dan menyadarkan siapa itu namanya ....?".
"Bi Surti."
"Iya...Bi Surti, kita sadarkan ia secara baik baik. Mudah mudahan dia bisa menyadari kesalahannya dan bertobat."
"Abi sudah membicarakan hal itu dengan ustadz Arif serta beberapa santri. Nanti sesudah shalat dhuha, kita akan putuskan masalah ini."
"Iya bi, lebih cepat lebih bail. Oh...iya bi, abi mau ummi masakin apa?,"
Ustadz Burhan tersenyum memandang istrinya. Asiah selalu seperti ini, ia selalu tau apa yang diinginkan suaminya. Dirangkulnya wanita yang sangat dicintainya dengan penuh kasih. Wanita yang telah mendampinginya selama ini. Wanita shalihah yang Allah tetapkan jadi pendampingnya.
__ADS_1
"Ummi.....dengar baik baik, apapun yang ummi sediakan, abi pasti makan, karena semua yang ummi masak pasti enak," ujar Ustadz Burhan sambil menyentuh puncak hidung Asiah.
Wajah ummi Asiah memerah mendengar ucapan suaminya. Ustadz Burhan tersenyum melihat raut wajah istrinya yang memerah. Terlihat sangat cantik dan menggemaskan.
"Ummi, sekarang abi mau ke masjid dulu. Tolong diawasi nak Ratih ya!!."
Ummi Asiah mengangguk,.sambil mengantar Ustadz Burhan keluar. Ustadz Burhan menghampiri Bima yang sudah menunggunya. Bersama mereka melangkahkan kaki menuju masjid.
Sepanjang perjalannan, Bima diam membisu, wajahnya terlihat lelah. Ustadz Burhan menepuk pundaknya dan memberi semangat.
"Ingat nak Bima, manusia itu derajatnya lebih tinggi dari jin dan syaiton. Jadi kita tidak boleh takut dan tunduk kepada mereka. Bapak lihat nak Bima lelah sekali, semangatt !."
Ustadz Burhan menasihati Bima dan berharap Bima terus semangat. Karena jika kita lemah dan berputus asa, jin dan syaiton akan mudah masuk dan memperdayai manusia.
Bima mengangguk angguk, terlihat raut wajahnya mulai cerah dan bersemangat. Ia sadar ia harus tegar dan kuat, demi Ratih dan demi masa depan mereka.
"Nah gitu dong, sebagai laki laki, kamu harus kuat. Dan ingat !!, kamu itu imam buat istri dan anak anak kamu. Jika kamu lemah, bagaimana dengan istri dan anak anak kamu kelak."
"Iya ustadz, saya mengerti."
__ADS_1
Mereka mempercepat langkahnya, agar cepat sampai.
"Kita harus bergegas nak Bima. Mereka pasti sudah menunggu kedatangan kita."
Ustadz Burhan mengajak Bima untuk bergegas, karena santri santri sudah menunggu.
*****
Suasana dzikir terdengar hingga pelataran, saat Ustadz Burhan dan Bima sampai. Ustadz Arif terus memimpin doa dan dzikir.
Ustadz Burhan mengucapkan salam dan menyalami semua yang hadir.
"Baiklah kita shalat Duha dulu, setelah itu kita lanjutkan pembicaraan kemarin. Mudah-mudahan, seusai shalat hati kita lebih tenang dan keputusan yang akan kita ambil, adalah keputusan yang terbaik."
Aamiin
Jamaah dalam mesjid mengaminkan doa ustadz Burhan.
*Jangan lupa vote dan bintangnya ya
__ADS_1