PENGHUNI VILLA PUTIH

PENGHUNI VILLA PUTIH
Part - 25


__ADS_3

Ratih membuka matanya, dilihatnya ummi Asiah sedang duduk menemaninya.


"Eh ..nak Ratih sudah bangun. Ayo cuci muka dan makan dulu, nih sudah ummi buatkan makanan yang enak, lalu minum obat," ujar ummi Asiah sambil tersenyum.


"'Terima kasih ummi, maaf saya sudah merepotkan ummi."


"Bicara apa toh nak, ummi senang bisa membantu nak Ratih dan nak Bima. Jadi jangan sungkan ya."


Tiba tiba pintu terbuka, terlihat Ustadz Burhan dan Bima berdiri di depan pintu. Ustadz Burhan memanggil ummi Asiah mendekat. Ummi Asiah menghampiri ustadz Burhan, dan terlihat mereka terlibat pembicaraan serius.


Bima berjalan mendekati tempat tidur Ratih, dipegangnya tangan gadis itu.


"Ai..pagi ini, aku, ustadz Burhan, santri dan warga desa, akan datang ke Villa Putih. Doain ya ai, semoga gak ada halangan dan gangguan. Aku berharap masalah ini bisa cepet selesai."


Ratih bangkit dari pembaringan dan memeluk Bima erat erat sambil menangis.


"Aku takut Bim, aku gak mau kehilangan kamu. Aku sangat mencintai kamu."

__ADS_1


Bima tertegun sejenak. Ternyata dugaannya selama ini benar, Ratih meninggalkannya bukan karena tidak mencintainya, tetapi karena pengaruh kekuatan hitam. Bima memeluk Ratih, perlahan dipandangnya wajah gadis itu dan diusapnya air mata yang menggenang disudut mata.


"Ai...aku juga sangat mencintai kamu. Aku ingin masalah ini cepat selesai, dan kita bisa menikah secepatnya. Kamu mau kan menikah denganku?".


Ratih menganggukan kepalanya. Bima tersenyum bahagia. 


"Baiklah...sekarang aku pamit dulu ya. jaga diri kamu baik baik. Ingat, jangan jauh jauh dari Ummi ya!!."


Sekali lagi Ratih mengangguk. Bima melangkah menuju pintu, tapi langkah kakinya terhenti oleh ucapan lembut Ratih.


Bima tertegun, Ratih memanggil dengan sebutan mas. Dipandangi dan dihampiri tubuh gadis itu.


"'Mas janji, mas akan kembali sayang. Dan kita akan hidup bahagia." Bima merengkuh tubuh Ratih dan memeluknya erat.


ehm...ehm


Bima dan Ratih terkejut dengan suara dehem dari ustadz Burhan. Mereka melepaskan pelukannya.

__ADS_1


"Ayo Bima...nanti kita kesiangan sampai di Villa. Nak Ratih ingat ya, jangan jauh jauh dari Ummi," ujar Ustadz Burhan.


"Baik Ustadz."


******


Hari mulai merangkak siang, ketika mereka tiba dibatas desa. Ustadz Burhan meminta semua yang ikut untuk istirahat, makan dan shalat. Ummi Asiah dan beberapa ibu telah membekali mereka dengan bekal makan dan alas shalat. Mereka tau perjalanan kali ini sangat berat dan membahayakan. Ustadz Burhan dan warga desa membutuhkan energi yang besar untuk menghadapi bi Surti dan kekuatan hitamnya.


*******


Ustadz Burhan meminta ustadz Arif untuk memimpin shalat. Dikeheningan batas desa dan diantara semilir angin yang bertiup, shalat mereka terasa begitu khusuk, apalagi mereka sadar, bahwa musuh yang mereka hadapi kali ini adalah kekuatan hitam yang belum terukur. Mereka berserah diri dan memohon perlindungan pada Allah.


Ustadz Burhan mengangkat kedua tangannya dan mulai berdoa. Jamaah mengaminkan dan beberapa ada yang menitikkan air mata. Bima diam, netranya tertutup dan tangannya menengadah. Dia meminta pada yang kuasa agar masalah ini cepat selesai dan berlalu. Dia berharap dapat segera meminang pujaan hatinya dan hidup bahagia.


*******


Langit batas desa siang itu seperti ikut merasakan apa yang ada dalam hati Ustadz Burhan dan warga desa. Mentari siang itu bersinar tak terlalu terik, udara terasa begitu nyaman sehingga warga desa tidak terlalu lelah.

__ADS_1


__ADS_2