
Malam semakin larut, tapi pesta belumlah usai. Kakek tua jahanam terlihat membopong tubuh Tiwi ke atas ranjang yang tadi ditiduri Bella. Tubuh Tiwi yang tak lagi bernyawa terlihat pucat. Kakek tua jahanam memandangi tubuh Tiwi dengan pandangan penuh nafsu. Didekapnya tubuh gadis itu. Dan mulutnya yang hitam mulai melakukan aksinya menyusuri tubuh molek Tiwi. Melihat aksi kakek tua jahanam, api cemburu bi Surti membara, dengan gusar dilemparnya tubuh renta kakek tua jahanam dengan bokor pembakar dupa. Untunglah kakek tua jahanam cepat berkelit, kalau tidak tubuhnya pasti terkena percikan bara dupa.
"Kurang ajarrr !!, apa yang kau lakukakan dengan gadis itu ki??, jangan sentuh dia!!!," bentak bi Surti dengan nada keras.
"Aku tidak ngapa ngapain Surti. Aku cuma meletakan gadis ini diranjang. Kenapa ?? Kamu cemburu ya...hahaha....hahaha."
"Apa kau bilang?? Aku cemburu?? Cuih..aku tidak pernah cemburu dengan kakek peot sepertimu. Kau dengar itu!!."
"Dengar Surti!!. Dulu kau mau meninggalkan Ringgo demi aku, kenapa?? Karena aku lebih ganteng dan gagah dari Ringgo. Kau ingat, setiap malam kita bercinta disaat Ringgo tidur. Dan kau ingat, kau akan gelisah jika aku tidak ada dirumah...hahaha...hahaha...hahaha." Kakek tua jahanam terus tertawa sambil menghampiri bi Surti dan memeluk tubuhnya.
"Diammm..!!!, sekali lagi kau sebut nama Ringgo, kubunuh kau!," Ujar bi Surti marah, sambil menghempaskan tubuh kakek tua jahanam.
"Kenapa Surti??, kau takut??, kau takut rahasiamu akan terbongkar dan Bella akan tau, siapa bapaknya...hahaha....hahaha."
psttt....
__ADS_1
Kakek tua jahanam meletakan telunjuk dimulut tuanya dan memberi isyarat, bahwa ia tak akan membocorkan rahasia. Dengan senyum kemenangan, dipeluknya kembali tubuh tua bi Surti. Kali ini ia tak mengelak dan membalas pelukan itu dengan rangkulan manja.
Ratih, Bimo dan Arya bergerak perlahan keluar dari kamar itu. Dengan mengendap endap, mereka meninggalkan ruangan dan berlari meninggalkan Villa. Ternyata perjalanan keluar tak semudah perjalanan masuk. Hampir satu jam mereka berjalan, tapi ternyata perjalanan mereka berakhir di Villa putih lagi.
"Bim...koq kita balik lagi kesini?." tanya Ratih
"Iya Bim, kenapa kita balik lagi kesini ya?," ujar Arya bingung.
"Entahlah...aku juga bingung." Ujar Bimo sambil mengernyitkan dahinya.
hihihi....hihihihi....hihihihi
"Kalian tak akan dapat keluar dari sini. Kalian akan menjadi tumbalku...hihihi....hihihi."
Tiba tiba tubuh bi Surti sudah ada dibelakang mereka, sambil tertawa. Kakek jahanam menyeret kapaknya sambil berjalan ke arah mereka. Bimo menarik tangan Ratih dan terus berlari. Tiba tiba, terdengar pekikan Arya.
__ADS_1
"Bimoooo...!!!!..akhhhh..."
Bimo dan Ratih berbalik, dilihatnya tubuh Arya sudah bersimbah darah. Kakek tua jahanam menghantamkan kapaknya mengenai lambung Arya. Arya berusaha untuk bangkit, tetapi satu pukulan telah merobohkannya. Arya terkapar dan tak bergerak lagi.
hahaha...hahaha...hahaha
"Pergilah..!! Temui Ringgo di neraka. Hahaha....hahahaha!!."
Ratih mencengkeram lengan Bimo dengan kuat.
"Bagaiman ini Bim?, apakah kita juga akan berakhir seperti temen2? aku takut Bim." Ujar Ratih sambil menangis.
"Tenang ai, selama aku hidup, tidak ada seorangpun yang bisa menyakitimu."
Bima dan Ratih terus berlari, hingga disebuah persimpangan, Bimo membaca ayat Al Qur'an. Tiba tiba dihadapan mereka terbentang jalan, menuju jalan raya.
__ADS_1
"Bim....ini jalan raya, yang aku lewati kemarin." Kita bisa keluar dari pengaruh ghaib Bim....Alhamdulillah."
Ratih memeluk tubuh Bimo dan mendekapnya erat.