
Matahari mulai naik sepenggalah, ketika tiba tiba tubuh Surti terhempas ke lantai, rupanya Ustadz Burhan telah melepaskan ilmu pamungkasnya, dengan dibantu doa dari para Santri. Ternyata kekuatan Surti terletak pada keris gagak hitamnya. Disaat keris itu terlepas dari tangannya, maka ia sudah tak lagi berdaya, dengan satu pukulan tenaga dalam, ia terhuyung, sebelum akhirnya terhempas ke lantai.
Arghhh....oarkhh
Ustadz Burhan menghampiri bi Surti, yang terbaring lemas dengan darah segar keluar dari mulutnya.
"Surti !!....bertobatlah !!, sebelum ajal datang menjemputmu. Mohon ampunlah pada Allah, atas semua dosa yang telah kau perbuat."
"Cuih....tobat katamu, aku tak akan pernah bertobat, aku kuat. Akulah penguasa kegelapan....hahahaha....hahahah, tak ada yang bisa membuatku ma...tii....aarrggh...oarrghhh
Tiba tiba tubuh Surti mengejang, matanya membelalak, dengan erangan yang sangat menakutkan. Wajahnya yang sebelumnya masih terlihat muda dan segar, berubah menakutkan dan menghitam.
Aarrrghhh....aaarrrrgghhh
Seiring dengan hembusan nafas terakhir Surti, tiba tiba terdengar jeritan dan lolongan kematian dari lantai atas, rupanya tubuh Bella sudah tidak kuat untuk bertahan, darah segar yang menjadi sumber kekuatan hidupnya, sudah tidak lagi ia dapatkan, dan ia pun menghembuskan nafasnya.
Ustadz Burhan mendatangi santrinya.
"Anak-anak, mari kita kuburkan jasad jasad ini dengan layak, sesudah itu kita tinggalkan tempat ini secepatnya."
"Baik ustadz."
Ternyata tugas mereka begitu berat, mereka harus menguburkan jasad2 itu tanpa peralatan yang memadai.
__ADS_1
Selepas ashar tugas itupun selesai. Ustadz Burhan mengajak rombongannya untuk kembali ke desa.
"Ayo anak2 kita tinggalkan tempat ini, sebelum hari menjadi gelap."
Ustadz Burhan meminta santrinya berdoa sebelum perjalanan di mulai. Semilir angin yang bertiup disekitar villa terasa begitu dingin dan tetap memancarkan aura mistis yang membuat bulu kuduk meremang.
"Ayo kita pulang anak-anak !!."
Perjalanan pulang terasa begitu cepat, tidak seperti saat mereka berangkat.
Menjelang maghrib, mereka sudah memasuki batas desa. Mereka ingin secepatnya kembali ke rumah, bertemu dan berkumpul bersama sanak keluarga yang sudah menanti dengan rasa cemas.
"Mas Bima !!," Ratih menghambur kedalam pelukan Bima, saat dilihatnya pemuda itu berjalan memasuki halaman rumah. Bima mendekapnya erat dan penuh kasih.
Sementara itu ummi Asiah mencium tangan ustadz Burhan sambil berlinang air mata.
Ustadz Burhan mencium lembut kening ummi Asiah dan mendekapnya. Tak terasa iapun menitikan air mata. Pertempuran di Villa putih hampir saja merenggut nyawanya.
"Alhamdulillah ummi."
*****
Ratih masih belum melepaskan pelukannya, saat ustadz Burhan dan ummi Asiah berjalan menghampiri dua insan yang tengah melepas rindu.
__ADS_1
Ehmm...ehmm
Suara deheman ustadz membuat Ratih tersipu, semburat merah terlihat jelas di wajahnya yang putih.
"Sebaiknya kalian segera menghalalkan hubungan ini, biar tak ada fitnah dan kalian lebih nyaman."
Bima tersenyum sambil menganggukan kepala.
"InsyaAllah ustadz, sepulang dari sini, saya akan mengajak orang tua saya untuk berkunjung ke rumah Ratih."
"Bagaimana Ratih, kamu maukan menikah denganku?."
Ratih menundukan wajahnya lebih dalam, suaranya lirih terdengar.
"Iya..aku mau."
"Alhamdulillah," ujar Bima senang.
*******
Villa Putih penuh misteri itu kini akan benar benar menjadi Villa yang penuh dengan pesta pora mahluk astral tanpa akhir, dan tawa Surti yang menggema disetiap sudutnya.
hihihihi.....hihihihi.....hihihihi...selamat datang tampan.....hihihihi
__ADS_1
T A M A T
Terimakasih sudah setia sampai akhir. Jangan lupa votenya ya..😍