PENGHUNI VILLA PUTIH

PENGHUNI VILLA PUTIH
Part - 6


__ADS_3

Ratih dan Tiwi terbangun oleh suara hentakan yang cukup keras di pintu. Mereka berdua melompat berbarengan dari tempat tidur.


"Suara apa tuh Tih?"


"Aku gak tau Wi?."


Ratih dan Tiwi memperhatikan kamar yang mereka pakai. Ruangan itu tidak seperti kemarin2, terang dan bersih, tetapi terlihat sangat kotor, gelap dan pengap. Sarang laba2 terlihat dimana mana. Belum lagi selimut yang mereka pake, dipenuhi debu dan sudah sangat usang.


"Ihhh....koq kotor amat, gelap lagi. Ada apa ini ?," ujar Tiwi kaget dan takut.


Awww....


Ratih menjerit ketika seekor tikus melintas dihadapannya. Perlahan mereka menuruni anak tangga, gelap dan kotor.


"Bi....bi Surti!!, bibi dimana?," Ratih memanggil bi Surti, tak terdengar sahutan, dan tak terlihat tanda2 ada orang diruangan itu selain mereka berdua. Tiwi menggamit tangan Ratih erat2, mereka begitu takut, karena Villa Putih itu sudah berubah menjadi sangat menyeramkan dan menakutkan. Ratih membuka handle pintu, alangkah terkejutnya ia, dihadapannya Herman terbaring bersimbah darah, wajahnya pucat dan tak sadarkan diri.


"Masssss...!!!."


"Mas bangun mas, apa yang terjadi sama kamu mas?, bangun mas...bangun!!!," ujar Ratih sambil menangis. Tiwi ikut menggoyang2 tubuh Herman.


"Rat...kita bawa kedalam dulu yuk. Pelan2 angkatnya, lengan dan pahanya terluka nih," ujar Tiwi.

__ADS_1


Kemudian berdua dengan susah payah mereka membawa Herman masuk ke dalam. Ratih menyingkap penutup sofa dan membaringkan Herman disana. Tiwi sudah melupakan rasa takutnya, diambilnya tas kerja yang masih tersimpan didalam mobil. Tiwi adalah dokter muda yang ditugaskan disebuah puskesmas. Dengan cekatan dibersihkannya luka Herman dan mulai menjahitnya. Herman terlihat mengerang kesakitan, meski masih belum sadarkan diri.


Ratih bergegas menuju dapur, melihat apa yang bisa dimasaknya. Ia tertegun sejenak,.dapur yang kemarin terlihat bersih, sudah berubah menjadi kotor dan dipenuhi sarang laba2.


"Ada apa ini, kenapa kotor seperti ini?"


Perlahan dibukanya pintu kulkas.


Uekkkk


Ratih menutup hidungnya dan perutnya seperti diremas2, ia ingin muntah, melihat isi kulkas dipenuhi makanan yang sudah membusuk. Apalagi ketika ia membayangkan, apa yang sudah ia makan bersama Tiwi selama ini. Sepertinya isi perutnya ingin menghambur ke luar. Ratih melihat sekeliling...netranya melihat beberapa kantong keresek yang belum tersentuh sama sekali. Diambilnya kantong2 itu, isinya masih utuh, semua yang ia bawa,.masih ada disana.


"Alhamdulillah...terimakasih ya Allah,.untung kemarin aku belanja banyak waktu kesini, trus yang dimasak bi Surti??, ".


Uhekkkk..Uhekkk..


Ratih memuntahkan semua isi perutnya.


"Ratih...tih, lo.gak apa apa??," Tiwi terlihat berlari menghampiri Ratih. Ia tertegun melihat isi dapur. Sama seperti Ratih, iapun mulai muntah.


"Jadi dari kemarin, yang kita makan.... astagfirullah!!," Tiwi menjerit

__ADS_1


"Iya wi, kita makan....," Ratih tak meneruskan kalimatnya, karena perutnya kembali mual. 


Usai dapat menguasai keadaan Ratih dan Tiwi mulai merapikan semua ruang. Mereka tidak dapat kembali saat ini, karena jembatan yang menghubungkan mereka ke jalan desa terputus. Jadi terpaksa mereka harus menginap di Villa Putih. Menjelang siang, kegiatan bersih2 hampir selesai. Mereka berbagi tugas. Tiwi merapikan ruang atas, dan Ratih ruang bawah.


Herman membuka matanya, ia kaget karena sudah ada didalam Villa. Perlahan ia berjalan menyusuri ruang demi ruang, hingga didapur dijumpai istrinya yang tengah memasak.


"Sayang..., kamu gak apa apa?,"


"Mas...mas sudah sadar," Ratih menghambur kepelukan Herman, dipeluknya pria yang sudah resmi menjadi suaminya seminggu yang lalu.


"Aduh..!!!." Herman menjerit ketika tangan halus Ratih menyentuh lukanya.


"Oh..maaf mas, sakit ya mas." Ujar Ratih sambil meniup2 lengan suaminya. Herman tersenyum melihat tingkah istrinya. Dibelainya rambut ratih dengan lembut.


"Alhamdulillah, kalian gak apa apa." Ujar Herman.


"Iya mas, tapi aku takut," ujar Ratih sambil menangis dan membenamkan kepalanya didada Herman. Herman memeluk istrinya dan menenangkannya.


"Tenang sayang, ada mas disini. Mas akan jaga kamu dan Tiwi." Ratih menghentikan tangisnya, meski tangannya terus memeluk Herman.


----------

__ADS_1


Siang itu mereka makan seadanya. Mereka berbincang tentang keadaan Villa yang sangat menyeramkan. Herman terlihat sangat kaget mendengar cerita Ratih dan Tiwi. Ia merasa sangat bersalah dan berdosa, karena ia sudah membawa mereka ke Villa Putih.


__ADS_2