PENGHUNI VILLA PUTIH

PENGHUNI VILLA PUTIH
Part - 5


__ADS_3

Herman memacu mobilnya perlahan, iya tak dapat menembus derasnya hujan dengan kecepatan tinggi, derasnya hujan membuat netranya tak dapat melihat dalam jarak jauh, ditambah halimun yang mulai merambat turun. Perlahan mobilnya dihentikan, ketika jembatan yang menghubungkan jalan utama dan Villa putih terputus karena longsor.


"Hadeuh...gimana ini ?."


Seorang pria tua, entah dari mana datangnya, menghampiri Herman.


"Mau ke Villa Putih pak?."


"Iya kek, tapi koq jembatannya putus ya."


"Iya nak, kemarin hujan sangat banyak, jadi tebingnya longsor."


"Trus saya mau ke Villa Putih gimana ya kek."


"Bisa nak, nanti kakek tunjukan jalan pintasnya, tapi gak bisa pake mobil."


"Trus kita jalan kaki gitu kek."

__ADS_1


Kakek itu mengangguk perlahan. Herman tak berfikir dua kali, dikenakannya jas hujan yang tersimpan disudut mobil. Hari sudah semakin senja, ketika mereka berjalan menuju Villa Putih. Herman melangkah beriringan dengan kakek tua yang kan mengantarnya ke Villa Putih. Sebenernya dia agak ragu untuk mengikuti kakek tua, tapi rasa cemas akan keadaan Ratih dan Tiwilah yang membuatnya dirinya dapat menepis rasa takut dan keraguan itu.


Perjalanan awalnya baik2 saja, hingga sampai malam menjelang, barulah Herman merasakan keganjilan, Villa yang merka tuju belum juga terlihat, sedangkan suasana semakin gelap dan menyeramkan. Herman mempercepat langkahnya, mengikuti kakek tua, yang berjalan sangat cepat, untuk ukuran orang seusianya. Nafasnya tersengal2, dihapusnya keringat yang mulai memenuhi wajahnya. Kakek tua itu berjalan menuju gubug tua yang ada ditengah hutan. Hanya diterangi pelita kecil, hanya ada tikar pandan dan meja kecil, serta kasur yang sudah sangat usang.


"Kita harus istirahat dulu nak, hari sudah malam, besok kita lanjutkan perjalanannya."


"Masih jauhkah kek."


Kakek tua itu lagi lagi hanya mengangguk, kemudian ia masuk kedalam.gubuk tua, meninggalkan Herman duduk sendiri.


Sudah hampir dua jam Herman duduk di beranda, tapi.kakek tua itu tak terlihat batang hidungnya. Herman melangkah menuju pintu, perlahan diketuknya pintu gubuk, tapi tak ada jawaban dari dalam, dan pintu tak terkunci. Herman melangkah masuk, ia belum shalat maghrib, dan berniat mau ke kamar mandi.


Tak ada sahutan, ruangan itu seperti kosong tanpa penghuni, hanya ada alas tidur dan lampu sentir disudut ruangan. Herman terus melangkah meski rasa takut sudah menyelimutinya.


Sreeek...


Pintu kamat mandi perlahan dibukanya, tiba2 seekor cicak putih jatuh menerpanya.

__ADS_1


"Astagfirullah, apa ini?."


Herman terus masuk dan mulai berwudhu. Air yang mengalir terasa dingin menyentuh kulitnya. Ia tak lagi menghiraukan kakek tua yang hilang entah kemana, dia hanya ingin memasrahkan diri pada sang khalik, jika sesuatu yang tidak diinginkan terjadi, ia hanya ingin kembali dalam keadaan sudah menunaikan kewajiban dan ketaatannya..


"Allahhu Akbar." Herman mengangkat tangannya dan mulai menjalankan shalat. 


Blam...


Terdengar suara berdebum keras, lampu padam dan erangan yang sangat menakutkan. Herman terus membaca ayat2 suci, suaranya menembus pekatnya malam, suara lolongan anjing dan jeritan terdengar sangat jelas dan dekat ditelinga Herman. 


Herman mengucap salam, dia khusuk berdoa. Dia sudah pasrah. Perlahan dibuka matanya. Gubuk yang tadi ia singgahi sudah tak ada lagi. Yang ia jumpai hanya sebuah makam tanpa nama. Bulu kuduknya mulai meremang, desir angin menerobos masuk menembus kemeja tipis yang ia kenakan. 


"Ya...Allah, dimana aku ini." gumam Herman. Herman terus melangkah. Belum lagi rasa takutnya hilang, tiba2 netranya menangkap sosok gadis berbaju putih berjalan didepannya.


"Mbak...mbak..tunggu."


Gadis itu terus berjalan dengan cepat dan tak menghiraukan panggilan Herman. Wangi aroma melati begitu kuat memancar dari tubuhnya. Herman mengikuti gadis itu separuh berlari, tak dihiraukannya bajunya yang koyak terkena ranting, darah mulai menetes dan membasahi bajunya. Hingga disebuah perempatan tiba2 gadis itu menghilang.

__ADS_1


Herman terus berjalan, hingga netranya melihat Villa Putih sudah tidak jauh dari tempatnya. Herman mempercepat langkahnya, ia menarik nafas lega.


"Alhamdulillah, akhirnya aku bisa sampai," ujar Herman sambil terus melangkah menuju pintu Villa. Belum lagi tangannya mengetuk pintu, tubuhnya sudah limbung dan terhuyung jatuh. Ia tak sadarkan diri karena luka yang menganga telah mengeluarkan cukup banyak darah dan sedari siang perutnya belum tersentuh makanan


__ADS_2