
Lanjut ya.
Malam semakin larut, dan dingin terasa menusuk tulang. Kabut tipis terlihat turun perlahan. Ustadz Burhan memberi isyarat dengan tangannya kepada Ustadz Arif, agar waspada. Belum lagi usai Ustadz Burhan memberi tanda, tiba2 terdengar Bima berteriak keras, matanya merah membelalak.
"Astagfirullah...Ustadz !!!, Bima kena serangan," ujar Ustadz Arif, sambil memegang keras tubuh Bima. Bima terlihat meronta, tangannya berusaha mencakar dan mencekik, siapapun yang dekat dengannya. Tiba2 seorang santri, terkena cakaran Bima. Dia mundur beberapa langkah, kemudian diam. Lima menit kemudian, santri itu juga menunjukan reaksi yang sama seperti Bima.
Ustadz Burhan bertindak cepat, ia melompat mendekati tubuh Bima dan terlihat mulutnya komat kamit merapal ayat2 suci. Tiba2 dari mulut Bima keluar sejenis Hewan, yang menyerupai cacing. Ustadz Burhan terus menghujani tubuh Bima dengan ayat2 suci, hingga akhirnya tubuh Bima lemas dan jatuh. Bima terkulai tak berdaya, wajahnya pucat dan nafasnya tersengal sengal. Ustadz Arif memberikan air putih ketangan Ustadz Burhan yang langsung memberikannya kepada Bima, setelah dibacakan doa, sebagiannya dibalurkan ke wajah Bima.
*******
Disudut lain, Ustadz Arif tengah bertarung dengan santri yang terkena cakaran Bima. Santri itu terus menyerang Ustadz Arif. Ustadz Burhan bergegas datang memberikan bantuan melihat Ustadz Arif yang kewalahan.
"Ustadz pegang tengkuknya !!!," teriak Ustadz Burhan.
Ustadz Arif bergegas meraih tengkuk santri itu, sambil membaca ayat2 suci. Santri itu meronta, matanya membelalak dan mulutnya mendesis, sebelum akhirnya jatuh pingsan.
__ADS_1
"Ustadz, bagaimana ini ?, apa yang harus kita lakukan ?," ujar Ustadz Arif.
"Tunggu mereka sadar, balur badan mereka dengan air ini !!," jawab Ustadz Burhan, sambil menyerahkan air yang sudah dibacakan doa.
Ustadz Arif dibantu beberapa santri, membaluri tubuh Bima dan Noval, santri yang ikut kena serangan.
Ustadz Burhan terlihat lelah, keringat mengalir deras dari dahinya. Meski udara sangat dingin, tapi baju Ustadz Burhan dan Ustadz Arif, basah oleh keringat.
"Teman-teman, dengar !!, musuh yang kita hadapi, adalah musuh tak kasat mata, mereka bisa menyerang kita kapanpun, untuk itu saya harap teman-teman tetap waspada, dan ingat .. jangan putus dzikir!!, faham ?."
"Teman-teman, jangan takut Allah beserta kita. InsyaAllah, kita akan dapat melalui ini semua, aamiin."
Semua santri serempak mengaminkan ucapan Ustadz Burhan.
------------------
__ADS_1
Sementara itu didalam Villa Putih, Surti menambah kemenyan di meja altar. Asap mengepul memenuhi ruangan, menebarkan bau yang menusuk hidung. Sejurus kemudian tangannya meraih sebuah kendi, dan menuangkan isinya keatas sebuah keris.
"Gagak hitamku, inilah minuman kesukaanmu, darah ayam hitam, agar kekuatanmu tak tertandingi ," ujar Surti sambil menyiramkan cairan dalam kendi.
[B]bhuahahaha...bhuahahahaha....bhuahahahaha[/B]
Surti tertawa lepas, mulutnya yg dipenuhi sirih dan gambir, terlihat menyeringai. Lalu diarahkan tangannya keatas.
"Hai...penguasa kegelapan, datanglah !!!, datanglah !!!!, aku memanggilmu."
Dihentakan kakinya, dipukulkan tongkatnya ke sebuah bejana.
[B]Dhuarrrr......Buummm[/B]
Terdengar sebuah ledakan disertai melesatnya bola api berwarna merah, menyilaukan mata.
__ADS_1
"Pergilah kalian semua ke Neraka !!!, kalian tak akan mungkin bisa mengalahkan aku. Aku Surti...Dewi kegelapan...[B]hahahahaha....hahahaha[/B], aku tak akan membiarkan kalian hidup. [B]cuihh[/B]." Surti terkekeh2, sambil meludah. Wajahnya terlihat marah dan memerah. Setelah itu ia kembali menari dan merapalkan mantera. Gagak hitam ditangannya bergerak mengikuti gerak tubuh Surti.