PENGHUNI VILLA PUTIH

PENGHUNI VILLA PUTIH
Part - 12


__ADS_3

Lanjut yuk ah...sambil ngupi


Ratih menggeliat, dikerjap kerjapkan kedua bola matanya yang bulat indah. Matanya mencari cari dimana gerangan Tiwi dan Herman berada, dia tak menjumpai keduanya. Jantungnya mulai berdegup kencang. Nafasnya terdengar mulai berkejaran.


"Mas....mas Herman!!!, dimana kamu mas?. Mas..mas Herman!!."


"Tiwi..!!!...Wiii..!!! ..Tiwiiii."


Tak terdengar jawaban dari panggilannya.


Ratih semakin panik, tiba tiba dari balik ilalang muncul kakek tua sambil membawa kapak seraya tertawa.


"Huahaha....hahaha...hahahaha," suara tawanya yang parau memecah keheningan. Ratih sontak membalikan badannya dan berlari sekuat tenaga. Dia berlari tanpa berfikir apapun, tujuannya hanya satu terlepas dari kejaran maut kakek tua jahanam.


"Mau kemana anak cantik, mendekatlah. Aku mencium wangi aroma darahmu.....huahahaha....huahahaha."


Ratih terus berlari, hingga sebuah tangan kekar menariknya.

__ADS_1


"Aawwww..!!!."


"Psttt....diamlah," sebuah tangan membungkam mulutnya.


"Ini aku Bimo, aku datang bersama Arya."


Ratih memandang Bimo dan Arya. Perlahan Bimo melepaskan bekapannya.


"Kamu gak apa apa ai?, eh maaf Tih." Bimo memanggil Ratih dengan panggilan kesayangan, seperti saat mereka berpacaran dulu, tapi kemudian dia meralatnya. Ratih tunduk terdiam.


-------------


Bimo adalah mantan kekasih Ratih, hubungan mereka kandas setelah Ratih dengan tiba2 memutuskan hubungan denganny, yang kemudian diketahui penyebabnya adalah hadirnya Herman. Bimo sendiri bingung kenapa Ratih meninggalkannya demi Herman, seorang pria pendatang baru yang belum lama dikenalnya. Hingga mereka menikah, dan munculah petaka ini.


-------------------


Balik lagi ke cerita....

__ADS_1


Ratih menangis, repleks dipeluknya Bimo. Bimo mencoba menenangkan Ratih yang masih terisak. Tiba-tiba jari telunjuknya didekatkan ke bibir Ratih..."psttt ", sambil matanya memandang ke arah semak-semak.


Dikejauhan terlihat kakek tua berjalan sambil tertawa menyeringai. Gigi geliginya yang hitam terlihat sangat menyeramkan dan menakutkan. Dari bibirnya yang hitam karena tembakau, ia terus berteriak memanggil Ratih.


"Ayo manisss...mendekatlah, biar kuhirup darah segarmu...huahaha...huahahahaha. Kau tidak bisa lari dariku sayang....hahahahaha....hahahahaha."


Bimo dan Arya berpandangan, mereka terlihat merencanakan sesuatu. Bimo berjalan mengendap endap, Arya menjauh beberapa langkah dan Ratih dibiarkan tetap disitu. Kakek tua jahanam menyeringai dan tertawa terbahak bahak saat dilihatnya sosok gadis yang sedang diburunya ada di hadapannya.


"Hai.....manis, rupanya kau disitu. Ayo kemarilah, mendekatlah..., aku sudah tak tahan mencium wangi darahmu, pasti sangat nikmat dan hmm... membuatku sangat bergairah ...huahahahaha....huahahahahaha.," kakek tua jahanam terus tertawa, membuat tubuh Ratih bergetar hebat. 


Ratih sudah akan berlari, ketika dilihatnya Bimo memberi kode kepadanya untuk diam. Ratih mencoba melawan rasa takutnya. Perlahan kakek tua jahanam itu mulai mendekat, semakin dekat dan sangat dekat, hingga akhirnya jarak mereka hanya beberapa langkah. Jantung Ratih berpacu dengan cepat, tubuhnya bergetar hebat. Peluh mulai membasahi seluruh tubuhnya, wajahnya semakin pucat. Kakek tua jahanam menjulurkan tangannya. Bola matanya yang berwarna merah dengan wajah dipenuhi luka, menatap tajam kearah Ratih. Ratih menjerit histeris, sebelum akhirnya terjatuh dan pingsan.


Kakek tua dengan semangat mendekati mangsanya. Sebelum ia dapat menjamah tubuh Ratih tiba tiba.


"Dug..dug..dug." beberapa pukulan mendarat ditubuh rentanya. Ia terhuyung beberapa langkah, dan terjerembab. Bimo menggendong tubuh Ratih, lalu membawanya pergi, Arya menyusul dibelakangnya. Mereka terus berlari hingga tiba di tepi sungai. 


Hari sudah semakin gelap, dan halimun mulai turun. Akhirnya Bimo memutuskan untuk istirahat dibalik akar pohon besar, karena mereka tidak mungkin melanjutkan perjalanannya malam ini.

__ADS_1


__ADS_2