
Surti memandang kearah bola kristal yang ada disamping meja altar. Tatapan matanya penuh amarah, dikernyitkan dahinya yang mulai berkerut, perlahan ia bergumam.
"Ayo...buka pintu itu sayang, masuklah !!, hihihi...hihihihi...hihihihi."
Kemudian tubuhnya yang sintal berjalan mengambil bokor berisi menyan dan mulai membakarnya. Asap dupa membumbung dan mulai memenuhi ruangan Villa, baunya tercium hingga ke luar Villa.
Ustadz Arif berbisik sambil menatap cemas ke arah Ustadz Burhan.
"Ustadz...kelihatannya Surti sudah menunggu kita."
"Benar Ustadz Arif, kita harus hati-hati dan waspada."
Ustadz Arif menganggukan kepalanya. Ustadz Burhan berjalan perlahan memasuki Villa. Belum lagi beberapa langkah, tiba2 kakinya seperti tak dapat digerakkan.
"Astagfirullah !!, apa ini ??
Terlihat seekor ular besar membelit di kakinya dan berusaha untuk mematuknya. Ustadz Burhan memejamkan matanya, sambil berdoa. Ustadz Arif dan santri yang lain, dengan tegang menunggu reaksi Ustadz Burhan. Perlahan Ustadz Burhan membuka matanya, dan menghentakan kedua tangannya.
"Allahu Akbar."
__ADS_1
Tiba tiba ular itu menghilang. Surti yang tengah memperhatikan lewat bola kristal, tersenyum genit sambil memainkan ujung rambutnya.
"Burhan...ternyata kamu begitu tampan, datanglah padaku !!, hiduplah bersamaku sayang, habiskan waktu bersamaku...hihihi....hihihihi."
Kemudian, pandangannya diarahkan ke jasad kakek tua jahanam.
"Kau gak usah cemburu kakek tua, dia hanya selingan, penghangat tidurku, selagi tubuhmu terbujur kaku. Aku butuh kehangatan Dirga...hihihi...hihihi...hihihi."
Ustadz Arif, memberi isyarat kepada Ustadz Burhan. Ia menunjuk kesebuah kamar yg tertutup rapat, dilantai atas.
"Ustadz !!!, sepertinya Surti ada disana."
Ustadz Burhan mengangguk dan melangkah menaiki anak tangga. Sesaat Ustadz Burhan diam terpaku, ia seperti tidak asing dengan tempat ini, dan ada rasa rindu yang begitu kuat pada seseorang, ya..ia merasakan kerinduan yang teramat sangat dengan Surti, entahlah. Perlahan ia melangkah sambil merapikan bajunya, bibirnya dipenuhi senyuman.
Ustadz Arif berbisik sambil memandang heran pada Ustadz Burhan.
"Rif, aku sudah lama gak kesini. Aku kangen sama Surti. Aku ingin cepet cepet ketemu dia."
"Astagfirullah !!, Ustadz istighfar !!."
__ADS_1
Ustadz Arif berlari kearah Ustadz Burhan dan berusaha untuk menyadarkannya. Diluar dugaan, Ustadz Burhan menyerang Ustadz Arif. Pertarunganpun tak terhindarkan. Noval, Bima dan beberapa santri tak bisa menghentikan pertarungan itu . Ustadz Burhan mengarahkan jurus jurus maut, yang membuat Ustadz Arif harus menghindar.
"Ya Allah, bantu aku menyadarkan sahabatku, yang tengah dibawah pengaruh sihir, kirimkan pertolonganmu ya Allah."
Ustadz Burhan terus menyerang dengan garang, hingga satu serangannya melukai lengan Ustadz Arif.
"Aduh..!!!," darah mengucur deras.
Bima dan Noval yg menyaksikan hal ini terkejut. Refleks mereka melompat dan mulai menyerang Ustadz Burhan. Ustadz Arif meringis kesakitan. Beberapa santri membebatkan sorban ke lengannya. Ustadz Arif mengambil air minum yg tergantung dipinggangnya. Pertarungan dua lawan satu masih berlangsung. Tiba tiba Bima tersungkur, dan hidungnya mengeluarkan darah. Ustadz Arif melangkah mencari sela mendekati Ustadz Burhan. Dengan sisa tenaga yg ada, dia melompat dan memercikan air yang sudah dibacakan doa kearah Ustadz Burhan.
"Bismillahirahmanirahim..," lalu ia membaca Ayat Kursi.
Ustadz Burhan yg awalnya garang, menjadi lemah lunglai dan terjatuh. Dengan bingung, ia menatap Ustadz Arif."
"Ada apa ini Ustadz ??, kenapa dengan tangan Ustadz ??."
Ustadz Arif tersenyum.
"Surti tadi sudah mempengaruhi pikiran Ustadz. Dia melemparkan sihir ke Ustadz."
__ADS_1
"Astagfirullah !!, benarkah itu ??, dan aku juga yang telah melukai Ustadz dan Bima ??."
Ustadz Arif mengangguk sambil tersenyum. Tak ada sedikitpun rasa marah diwajahnya, karena ia tau, Ustadz Burhan tidak sadar saat melakukannya.