
Ratih dan Tiwi berpegangan erat, mereka menyusuri jalan yang dipenuhi semak belukar. Suasana disekeliling mereka sangat gelap. Tiba tiba Ratih melihat seorang wanita berkebaya sedang menyenandungkan tembang Lengser Wengi.
"Ratih...itu bi Surti bukan sih."
"Kayaknya ia Wi, tapi ngapain dia ditempat gelap gini ? Nyanyi lagu Lengser Wengi lagi, itukan lagu manggil kuntilanak...iihhh." bisik Ratih.
Wanita itu tiba tiba menoleh. Ratih dan Tiwi terbelalak dan berteriak histeris, wanita itu wajahnya rusak dan pucat. Ratih menarik tangan Tiwi dan terus berlari. Mereka terus berlari, mereka tak perduli lagi dengan kaki mereka yang berdarah.
"Tih...berenti dulu, aku gak kuat, kakiku saki," Ratih melihat kaki Tiwi dengan luka cukup serius, dipapahnya tangan sepupunya itu
"Wi...kita masih punya Allah. Percayalah kita akan bisa keluar dari perangkap ini. Aku janji wi, kita akan keluar dengan selamat."
Tiwi mengangguk lemah. Ratih kemudian mulai membaca ayat ayat suci. Keikhlasan dan kepasrahan telah memberikan kekuatan padanya. Jika mereka harus meninggal, mereka akan meninggal karena Allah, bukan karena jin atau setan. Ratih dan Tiwi memejamkan mata, tiba2 mereka merasakan tubuh mereka terlempar kuat, begitu mereka membuka mata, mereka sudah ada di ruang tamu Villa Putih.
"Tih...lihat kita sudah balik lagi." Seru Tiwi dengan gembira.
__ADS_1
"Alhamdulillah," Ratih menengadahkan tangannya penuh syukur.
Perlahan dan dengan terseok seok ia mencari Herman.
"Mas...mas Herman!!, kamu dimana mas?,"
Herman mendengar suaranya dipanggil bangkit berdiri, belum lagi ia melangkah, terlihat olehnya sebuah mobil terparkir di gerbang Villa. Seorang laki laki turun dari mobil itu. Sontak saja Herman berteriak.."Ayah!!."
Tapi orang yang dipanggil terus melangkah dan tak menghiraukan panggilannya. Dia terlihat memanggil nama seseorang.
"Bella...Bella...Bella, papa datang nak."
Gusar tak mendapat jawaban, laki laki itu berjalan ke arah kolam. Tiba2 netranya menangkap dua sosok tubuh yang sudah tak bergerak lagi, mengapung di dalam kolam.
Laki laki itu berteriak2 panik, dia langsung menceburkan diri kedalam kolam, dan menarik dua wanita itu menepi. Perlahan direbahkannya tubuh itu ditepi kolam. Air terlihat menyembur dari tubuh yang sudah tak bergerak lagi.
__ADS_1
Laki laki itu terlihat bingung, kemudian terlihat ia berlari menuju mobil dan meninggalkan dua tubuh yang sudah tak bergerak tanpa rasa bersalah. Mobilnya melaju dengan cepat.
Herman terlihat bingung dan panik. Kemudian ia berlari mencari bantuan. Dia tak menjumpai seorangpun, ditempat yang sepi ini. Kemudian ia berlari ketempat dua wanita tadi terbaring. Alangkah terkejutnya ia, karena tubuh dua wanita itu sudah tak ada lagi..bak raib ditelan bumi.
"Aku bener2 gak nyangka, ayah tega melakukan tindakan keji dan gak berprikemanusiaan."
Lalu Herman merasakan sekitarnya gelap gulita dan ia tak sadarkan diri, hingga terdengar suara memanggilnya.
"Mas...mas Herman, kamu dimana mas'?,"
"Itu suara Ratih." gumamnya, dibuka matanya dan bergegas ia berlari kearah datangnya suara. Benar saja, suara itu berasal dari orang yang sedang ia cari. Ratih dan Tiwi. Sontak saja ia berlari dan memeluk keduanya dengan penuh sukacita.
"Ya Allah , akhirnya kamu kembali sayang. Sayang kamu dari mana saja ? mas khawatir banget, mas bingung. Kamu gak apa-apa kan?", ujar Herman sambil memandangi wajah dan tubuh istri yang sangat disayanginya.
"nggak mas, Alhamdulillah."
__ADS_1
Ratih tidak meneruskan kalimatnya direngkuhnya tubuh lelaki yang ada dihadapannya dengan tangis terisak.