
Malam semakin larut, waktu mendekati jam 11.45 menit, halimun dingin yang turun bersama rinai hujan semakin membuat suasana terasa begitu mencekam. Suara lolongan anjing dikejauhan terdengar semakin keras. Ratih belum bisa memejamkan matanya, kelopak matanya masih belum bisa diajak kompromi untuk tidur dan melupakan semua kejadian2 aneh yang semakin sering ia temui. Diperiksanya jendela dan pintu. Aman, semua sudah dalam posisi terkunci. Bergegas ia menaiki ranjang, belum lagi satu kakinya naik, tiba tiba terdengar langkah kaki, menapaki satu demi satu anak tangga.
"Wi..Tiwi bangun Wi!!," Ratih menggoyang goyangkan bahu Tiwi. Tapi Tiwi terus dalam dengkurnya.
"Ah...kelewatan banget sih nih anak, gimana kalo ada gempa, bisa mati duluan ketimpa bangunan." Ratih menggerutu.
Suara langkah itu tiba2 hilang, Ratih terus memperhatikan dari sudut ranjang. Tiba2 netranya menangkap sekelebat bayang putih melintas dengan cepat. Bulu kuduknya meremang, jantungnya berdegup kencang, keringat mulai membanjiri sekujur tubuhnya. Suhu saat itu menujukan angka sebelas derajat, tapi keringat Ratih mengucur deras. Belum lagi rasa takut hilang tiba2 saja terdengar ketukan didinding yang teramat keras, disertai suara jeritan yang entah dari mana asalnya. Ratih semakin gemetar, tubuhnya berguncang hebat, wajahnya pucat. Mulutnya tak henti melantunkan doa.
"Ya..Allah lindungi hamba. Hamba lebih mulia dari mahluk ini, beri hamba kekuatan."
Tiba2 suasana kembali hening tidak terdengar suara apapun. Ratih diam. Tiwi menggeliat, dilihatnya Ratih masih belum tidur, duduk disudut ranjang.
"Koq lo belom tidur Rat, kangen ya sama Herman," tanya Tiwi sambil bangkit dari ranjang.
__ADS_1
"Gue haus, mau minum, lo mau gak?,". Ratih menganggukan kepalanya, dengan tanpa suara. Tiwi bergegas turun, menapaki anak tangga, Ratih masih belum bergerak dari tempatnya, ketika tiba2 terdengar jeritan Tiwi, disertai suara gelas yang pecah mengenai lantai. Ratih berlari menuju suara teriakan Tiwi. Dilihatnya Tiwi pingsan didekat dispenser. Sementara pecahan gelas berserakan di lantai. Bi Surti, sudah ada disana merapikan serpihan2 gelas.
"Ada apa bi?, ada apa sama Tiwi."
"Gak tau nyonya, tadi waktu bibi datang dia sudah terkapar disini."
Ratih, memperhatikan bi Surti, dilihatnya baju Bi Surti basah dan ada bercak darah dikebayanya. Bi Surti adalah seorang wanita produk lama? yang kemana2 memakai kebaya.
"Bi Surti dari mana?, kenapa baju bibi basah, dan itu ada darah dikebaya bibi."
"Yasudah bibi ganti baju dulu, nanti sakit lagi."
Tanpa mendengar perintah kedua, bi Surti melangkah meninggalkan Ratih yang duduk disisi Tiwi.
__ADS_1
"Wi bangun wi," Ratih mengoleskan minyak kayu putih dibawah hidung Tiwi. Tiwi perlahan membuka matanya.
"Gue ada dimana?, perempuan tadi kemana perginya?"
"Ini diruang tamu non?, elo tadi pingsan. Gak ada siapa2 disini wi."
"Enggak.... gue lihat ada cewek tadi di dapur, rambutnya panjang sepinggang, tapi gue gak lihat mukanya, soalnya dia membelakangi gue, tapi suara tawanya...hiii, aku takut banget Tih."
"Ah...lo halu kali, gue gak liat siapa2 tadi."
"Bener Tih, gue liat. Netra gue masih belum rabun."
"Tih, besok kita pulang ya, gue gak mau disini, gue takut," ujar Tiwi dengan mimik muka ketakutan.
__ADS_1
"Ih..gak ada apa2 Wi. Kita kan gak bisa pulang. Jembatan yang menghubungkan kita ke jalan utama putus, kita belum bisa pulang, sabar ya." Ratih berusaha menenangkan Tiwi. Tiwi diam sambil memeluk erat tubuh Ratih. Hingga pagi menjelang mereka berdua belum juga bisa memincingkan mata. Suara adzan subuh terdengar dari Hp Ratih, Ratih dan Tiwi shalat berjamaah. Selepas subuh, barulah mereka bisa tidur nyenyak.
Jangan lupa Vote ya