
Lanjut ah....
Ratih berjalan keluar Villa, udara sore ini terasa dingin, halimun yang turun semakin lama semakin tebal. Ratih menarik nafasnya dalam2 dan perlahan dia hembuskan. Sesaat ia menebarkan pandangan kesekelilling, sepi. Villa putih ini memang agak jauh dari pemukiman warga, letaknya begitu terpencil, sehingga tak ada seorangpun yang lalu lalang disana. Suasana begitu hening, hanya terdengar suara serangga malam dikejauhan. Ratih tersentak dari lamunannya ketika sebuah tangan menyentuh pundaknya.
"Astagfirullah."
Tiwi tertawa ngakak mendengar teriakan sepupunya itu.
"Tiwiiii....hampir saja jantungku copot," ujar Ratih sambil istigfhar .
"Kenapa sih lo? Kayak habis lihat hantu aja," ujar Tiwi sambil terus tertawa.
"Tiwi...jangan tertawa kayak gitu, ini mau maghrib loh!."
"'Yaelah Ratih, hari gini lo masih percaya sama takhayul, ada2 aja," ujar Tiwi sambil memonyongkan bibirnya. Tiba tiba Tiwi melihat Ratih diam, matanya membelalak dan mulutnya berdesis.
"Tih...nggak lucu. Gak usah main2 deh, gue gak bakal ketipu tau." Ratih tetap mrmbelalakan matanya, sambil terus berdesis. Tiwi mundur selangkah, wajahnya terlihat ketakutan.
__ADS_1
"Ratih...!! Sadar ini gue Tiwi," ujar Tiwi sambil terus mundur, wajahnya semakin pucat.
Ratih tak bisa menyembunyikan tawanya, melihat raut wajah Tiwi, Tawanya pun akhirnya pecah.
"Ratih...!!!, awas lo ya. Gak lucu tau," ujar Tiwi sambil melayangkan pukulan ke bahu Ratih.
"Tadi katanya gak percaya sama takhayul, masa gitu aja dah takut....hihi...hihi," ujar Ratih sambil terus tertawa.
Tiba tiba dari kejauhan, dibalik pepononan terdengar suara tertawa mengikuti suara tawa Ratih. Ratih dan Tiwi berpandangan, lalu lari berhamburan masuk ke Villa.
"Tih...tadi suara tertawa siapa ya?," ujar Tiwi.
"Ah....masa lo gak denger, suara ketawa orang, seudah lo ketawa."
"Tiwi...Tiwi, penakut banget si lo. Itu tadi suara gue, guekan pinter drama. Lo tau kan waktu SMA gue dijuluki Ratu Drama."
Tiwi diam, dalam hati ia mengakui kehebatan Ratih dalam bermain peran.
__ADS_1
"Yaudah lah...yuk kita makan, gue dah laper nih." Ujar Ratih sambil menarik tangan Tiwi. Menu hari ini betul2 menggugah selera, Ratih dan Tiwi terlihat begitu menikmati makan malamnya. Bi Surti tersenyum, melihat semua hidangan yang ia sajikan, habis.
"Bi Surti top deh...makanannya enak tenan." Ujar Tiwi sambil mengacungkan dua jempol.
"Syukurlah kalau non Tiwi dan nyonya suka sama masakan bibi."
"Iya bi, masakan bibi enak banget," ujar Ratih menimpali kata2 sepupunya.
Bi Surti membawa piring2 kotor kedapur, sementara Ratih dan Tiwi, beranjak ke ruang tengah. Tanpa mereka sadari, mereka tertidur di kursi. Haripun semakin larut, dan kesunyian semakin menyelimuti.
------------
Malam semakin larut, suara burung han tu terdengar diantara rimbunnya pohon. Ratih terbangun, merasakan terpaan angin yang mengenai wajahnya. Dilihatnya gawai HP menunjukan angka satu, Ratih melihat daun pintu terbuka. Tiba tiba terlihat sosok seorang gadis berjalan melintas disisinya, Ratih tersentak, perlahan diikuti gadis itu. Betapa terkejutnya Ratih, melihat gadis itu berjalan menuju kolam, dan tanpa menoleh, gadis itu terus berjalan memasuki kolam. Ratih berteriak, tapi suaranya seperti tercekat. Hingga akhirnya ia terbangun, karena Tiwi menggoyang goyangkan badannya
"Tih...Ratih...bangun, bangun!!."
" Kenapa sih Wi ?,"
__ADS_1
" lo tu tadi teriak2, gue aja sampe kaget."
"Ngimpi apa sih lo?," pasti lo mau bilang , Gak apa2 Wi, udah tau gue apa jawaban elo." Ujar Tiwi sambil tersenyum. Ratih tersenyum mendengar seloroh Tiwi