
Malam yang dingin, rasa takut yang membungkus raga serta kecemasan yang berkecamuk, membuat Ratih tak dapat memincingkan matanya. Diliriknya jam yang melingkari pergelangan tangannya, terlihat jarum pendek menyentuh angka 2.
"Ah...baru jam 2 pagi." Ratih melirik Bimo yang bersandar tertidur disebelahnya, wajahnya terlihat lelah.
"Kamu masih seperti dulu Bim, perhatian dan sangat baik," gumam Ratih.
Ratih tersenyum, ia teringat masa masa indah bersama Bimo, dan hingga kinipun ia masih belum mengerti mengapa ia dan Bimo harus berpisah. Tiba tiba Bimo membuka matanya, rungunya menangkap sesuatu yang mencurigakan.
srekk....krekkk....krekk
Terdengar suara ranting seperti diinjak orang. Bimo menarik lengan Ratih, dan mengajaknya bersembunyi. Arya berjingkat perlahan dan membenamkan dirinya diantara ilalang. Dari balik kegelapan malam, muncul sesosok wajah yang sangat dikenal Ratih, ya... itu adalah wajah Tiwi. Tiwi terlihat berjalan mengenakan jubah dengan senter ditangannya.
Mulut Ratih sudah terbuka hendak berteriak memanggil Tiwi, untunglah dengan sigap Bimo menahannya, karena tidak berapa lama terlihat ia menghampiri seorang lelaki dikegelapan malam, mereka terlihat berpelukan dan berjalan berangkulan. Sayang wajah laki laki itu tak terlihat, tersamarkan oleh gelapnya malam.
__ADS_1
"Mengapa Tiwi ada disini??, dan siapa laki laki itu??." Pertanyaan demi pertanyaan berkecamuk dikepala Ratih. Ia tak pernah menyangka sepupunya bisa ada di tempat seperti ini, sementara ia sangat menghawatirkannya.
Bimo seakan mengerti kerisauan hati Ratih, dipegangnya jemari Ratih dengan erat, ia ingin mengalirkan energi positif dan memberi kekuatan kepada Ratih.
"Ai, dengar !, besok kita akan cari tau, kenapa Tiwi ada disini dan dengan siapa dia bertemu."
Ratih menganggukan kepalanya. Ia betul betul bersyukur, Allah telah mengirimkan Bimo untuknya, karena disaat seperti ini, kehadiran Bimo adalah energi bagi kerapuhan jiwanya.
******
"Ai...aku janji, aku janji ..akan mencari tau, ada apa dengan semua ini?."
"Kamu percaya dengan aku kan?."
__ADS_1
Ratih mengangguk sambil terisak. Arya tak dapat berkata kata, ia bingung dengan kejadian yang menimpa sahabatnya. Ia hanya berdiri mematung dan memainkan ujung jemarinya perlahan. Arya bergeser menjauh dan tak ingin mengusik perasaan kedua sahabatnya.
"Ai..aku yakin kamu bisa melalui ujian ini. Kamu pasti bisa Ai." ujar Bimo memberi semangat.
Ratih hanya diam dan semakin membenamkan wajahnya ke dada bidang Bimo. Dia merasa begitu nyaman dan terlindungi.
Ratih tertidur dalam dekapan hangat Bimo. Bimo memandang lekat wajah gadis pujaan hatinya. Disusutnya air mata di pipi tirus Ratih. Hatinya sangat terluka melihat penderitaan yang tengah dialami Ratih.
"Ya Allah..persatukanlah kami kembali. Hamba mohon ya Allah," doa Bimo dalam hati.
Arya mendekat sambil menyodorkan minuman kemasan yang dipegangnya.
"Minum dulu bro !."
__ADS_1
"Terimakasih Ya. Alhamdulillah lu akhirnya mutusin ikut, kalau enggak,.gue gak tau gimana nasib gue."
Arya mengangguk perlahan,.sambil menepuk bahu Bimo.