PENGHUNI VILLA PUTIH

PENGHUNI VILLA PUTIH
Part - 17


__ADS_3

Hari mulai gelap, selepas maghrib tadi suasana Villa Putih begitu mencekam. Aura mistis terlihat begitu kental. Asap dupa mengepul memenuhi setiap sudut ruang, wangi tujuh bunga setaman berbaur dengan asap dupa, menghadirkan sensasi magis yang mengundang mahluk mahluk astral hadir dalam perhelatan akbar. Bi Surti mengenakan kebaya lengkap dengan sanggul menghias rambut putihnya. Disampingnya berdiri kakek tua jahanam dengan pakaian hitam hitam, layaknya seorang dukun dalam drama horor. Dihadapannya tergolek sesosok tubuh perempuan muda, yang sudah didandani sedemikian rupa, layaknya pengantin. 


Ruangan yang teramat luas seakan sesak dengan ramainya mahluk astral. Bi Surti mulai menyanyi, suaranya membuat degup jantung berdebar, sesekali tubuhnya bergerak kesana kemari. Sesaat kemudian muncul dua orang berjubah menghampiri bi Surti. Bi Surti terus menyanyi dan menari. Sementara kakek tua jahanam merapalkan mantera mantera pemanggil arwah. Mulutnya terus bergerak, seiring lekuk tubuh bi Surti. 


Malam terus bergerak naik, bulan purnama terlihat indah diangkasa, lolong anjing seperti menyambut datangnya makhluk makhluk tanpa wujud.


Ratih menggamit erat tangan Bimo. Sementara Arya diam tak bergerak. Netranya terarah tepat kearah dua orang berhijab. Tiba tiba bi Surti terdengar mengeluarkan perintah.


"Bukalah jubah kalian...cepatt!!!. Sudah hampir jam dua belas malam."


Dua orang itu membuka jubahnya. 


Desss....Ratih seperti tak mempercayai apa yang dilihatnya


Dua orang berjubah itu ternyata Herman dan Tiwi. Herman terlihat mengenakan baju layaknya pengantin. Sedang Tiwi hanya mengenakan gaun biasa.

__ADS_1


"Sudah siap kalian menjalani ritual ini?." Herman dan Tiwi mengangguk tanpa ekspresi. Kemudian kakek tua jahanam melangkah mendekati Tiwi, dengan keris ditangannya.


"Apa yang hendak ia lakukan kepada Tiwi Bim?."


"Entahlah ai."


Kakak tua jahanam terus mendekat dan semakin dekat. Tiwi terlihat diam tanpa ekspresi. Tiba tiba kakek tua jahanam menggoreskan keris itu ditelapak tangan Tiwi. Darah mengucur deras.


Aah...astagfurullah


Kakek tua jahanam menampung darah itu dalam gelas. Tiwi tetap tak bergeming, diam seperti tidak merasakan sakit. Darah itu masih terus menetes..hingga akhirnya ia terjatuh dan pingsan. Bi Surti terlihat menempelkan sesuatu ketelapak tangan Tiwi dan ajaib luka itu menutup tanpa bekas.


Darah merah segar, bunga setaman dan asap dupa yang merupakan syarat ritual sudah terpenuhi. Bi Surti kembali menyanyi dan menari. Tangan kanannya menggenggam gelas berisi darah, lalu diminumkannya kemulut Bella. Bunga setaman dipercikan disekujur tubuh Bella tepat jam 12 malam. Perlahan terlihat tubuh Bella mulai bergerak, matanya berkejap kejap...sementara ritual masih terus berlangsung.


Beberapa menit kemudian Bella mulai bangkit dari tidur panjangnya. Bi Surti tertawa nyaring.

__ADS_1


Hihihi...hihihihi...Selamat datang anakku...selamat menikmati hidup....hihihi....hihihi


Bella bangkit dari pembaringannya. Bi Surti menghampiri dan memeluknya.


"Malam ini, saat purnama penuh dan disaksikan mahluk mahluk alam ghaib, aku akan mengawinkan dirimu dengan pemuda ini, dialah calon suamimu. Hihihi....hihihihi....hihihihi."


Ratih hendak berteriak, untunglah Bimo dapat mencegahnya.


"Tenang ai, jangan lakukan itu, atau kita semua akan mati." Ratih mengikuti saran Bimo, dia diam dan tak lagi berteriak.


"Herman... kemarilah!!!." Bi Surti memanggil Herman dan menyuruhnya mendekat. Herman berjalan melangkah ke samping Bella. Bi surti membawa keduanya kehadapan kakek tua jahanam untuk dikanikahkan. Akhirnya prosesi pernikahan gaib usai sudah.


"Dengar Herman!!! Kau harus memberinya makan bunga tujuh rupa dan meminumkan darah perawan setiap bulannya, disaat purnama."


Herman mengangguk perlahan dan mengajak Bella menuju kamar, tanpa menghiraukan Tiwi yang sudah terbujur kaku. Ratih menangis, melihat Tiwi terbaring tak bernyawa.

__ADS_1


__ADS_2