
Jam menunjukan pukul 04.00 dinihari, ketika Ratih membuka matanya. Tubuh Tiwi terlihat masih melingkar disampingnya, selimut tebal menutupi seluruh tubuhnya. Ya, suhu udara pagi memang sangat dingin, mungkin karena hujan yang turun sepanjang malam. Ratih bangkit dari ranjangnya dan berjalan kearah kamar mandi, belum lagi kakinya melangkah, didengarnya suara air berderak derak dikamar mandi, seperti ada orang yang tengah mandi.
"Siapa yang sedang mandi sepagi ini? Tiwi masih tidur, apa mas datang ya,? bikin surprise buat aku,"
Ratih baru hendak melangkah menuju kamar mandi, senyum terlihat mengembang dibibirnya, ketika tiba2 handphonenya berdering. Diangkatnya perlahan, dihandphone tertulis dari Cintaku, Ratih terhenyak, perlahan didekatkan handphone itu ketelinganya.
"Hallo...Assalamualaikum mas."
"Waalaikumusallam...hai sayang, sudah bangun,? alhamduillah, mas juga sudah siap2 mau subuhan nih. Sayang maafin mas ya, mas belum bisa kesana, kerjaan mas gak bisa mas tinggal. Mas janji kalau sudah selesai mas langsung kesana. Hallo...sayang kamu gak marah kan,? terdengar suara diujung sana bernada khawatir.
"Iya mas aku dengar, gak.apa apa mas, mas selesaikan saja kerjaan mas, aku gak apa apa koq."
"Oh yasudah, kamu baik2 disana ya. Awas jangan ngelirik yang lain ya.! gurau suara diujung sana.
"Ih...apa sih mas," Ratih merajuk sambil tertawa.
"Yasudah kalo gitu kamu siap2 subuhan ya, nanti kesiangan. Assalamualaikum cinta."
"Waalaikumusallam mas."
Ratih mematikan handphonenya. Suara dari kamar mandi sudah tak terdengar lagi. "Ah...mungkin tadi cuma halusinasi aku saja." gumamnya.
Ratih mulai mandi dan bersiap hendak shalat, ketika didengarnya suara Adzan memecah hening pagi.
Ratih berjalan menuruni tangga, tercium aroma kopi menghampiri hidungnya. Terlihat bi Surti tengah menyiapkan sarapan.
__ADS_1
"Pagi nyonya."
"Pagi bi, hmm wangi kopinya enak banget nih."
"Iya non, ini kopi asli, dipetik langsung dari pohon."
Ratih menyeruput kopi dari cangkirnya, hmm...memang rasa kopi ini betul betul nikmat, dan aromanya amat wangi, beda dengan kopi2 yang ada dipasaran.
"Gimana nyonya, enak gak?."
"Enak banget bi, beda rasanya dengan kopi yang biasa aku minum."
"Oh..iya bi, selain bibi, aku, mang Kardi dan Tiwi, ada lagi gak yang tinggal disini?."
"Gak ada nyonya. Memangnya ada apa?."
Bi Surti meneruskan memasaknya. Terlihat langkah kaki menuruni tangga, Tiwi terlihat cemberut.
"Heh...kenapa waja lo kusut gitu."
"Auah...lo becandanya gak lucu tau."
"Becanda apa?" tanya Ratih sambil bengong.
"Ngapain lo cubit tangan gue?, nih lo liat cubitan lo bikin tangan gue biru.
__ADS_1
Ratih melihat bekas cubitan ditangan Tiwi, terlihat memar disitu. Ia heran siapa yang sudah mencubit lengan Tiwi.
"Yaudah...aku minta maaf ya..please!!, aku janji gak akan ulangi lagi." Ujar Ratih, sambil memasang mimik sedih. Tiwi tak tega dan mulai tersenyum.
"Iya gue maafin. Tapi awas ya kalo lo gitu lagi, gue bales sampe lo nangis2."
"Baik tuan putri." Ratih berseloroh sambil tersenyum.
Keduanya kemudian terlihat asik menikmati sarapan pagi, sambil sesekali terdengar tawa memecah dingin pagi.
------------
Villa putih adalah Villa milik keluarga Herman, yang diwariskan kepada Herman setelah ia menikah. Orang tua Herman adalah keluarga terpandang. Herman adalah anak laki2 satu satunya, dari tiga bersaudara. Dua saudara perempuan dan ibunya telah meninggal beberapa tahun yang lalu, karena kecelakaan, mobil yang dikemudikan Ibunya terserempet sebuah truk dan kecelakaan itu telah merenggut tiga orang yang amat dicintainya. Keajaibanlah yang membuat Herman kecil bisa bertahan hidup. Ia terpental keluar dari jendela. Masih lekat dalam ingatannya, ketika tubuh kecilnya merangkak disisi mobil, wajahnya berlumur darah.
"Mama...mama sakit mah!,"
"Iya sayang, tunggu mama ya, sebentar mama kesitu nak." Ibunya terlihat berusaha melepaskan diri dari himpitan besi yang menekannya. Wajahnya terlihat dipenuhi darah. Sementara kedua kakaknya sudah tak bergerak lagi
"Mama ..sakit mah,.sakit..."
"Ia sayang, mama datang."
Tiba tiba dari kap mobil terlihat percikan api. Herman menjerit sambil menahan sakitnya.
"Mama...awasss...apiiii....!!!,"
__ADS_1
Tidak butuh waktu lama api melalap semua yang ada didalam mobil. Herman menjerit dan tak sadarkan diri. Ia terbangun ketika mendengar suara orang bercakap2. Dibuka matanya, dan terlihat dokter tengah membersihkan luka2nya. Ayahnya terlihat menangis sambil terus berdoa. Peristiwa itu sudah lama tapi Herman terkadang masih dihantui oleh bayang2nya. Villa putih itu adalah Villa yang belum pernah ia kunjungi, juga oleh ibu dan dua kakaknya. Entah bagaimana ceritanya sampai ayahnya, bisa menutup rapat kehadiran Villa itu, dan baru memberikannya setelah ia menikah.