
Herman terbangun ketika ada tetesan air jatuh diwajahnya. Dipandangnya langit langit Villa, dia tak melihat ada genangan air disana, semua terlihat biasa saja. Hingga tiba tiba netranya menangkap bayang hitam berdiri tepat didepannya dengan senyum menyeringai...gigi giginya yang runcing dipenuhi oleh cairan yang mengeluarkan aroma busuk. Herman merasakan mual yang teramat sangat, digulingkannya badannya menjauh dari makhluk hitam jelek. Mahluk hitam itu terus memburu dan mengejarnya. Herman terus menghindar. Nafasnya tersengal sengal, keringat membasahi wajah dan bajunya. Mahluk hitam jelek itu seperti ingin menelan Herman hidup hidup. Herman terus berdoa dan tak membiarkan dirinya dipengaruhi oleh mahluk hina. Mahluk hina itu perlahan menjauh dan meninggalkan Herman yang duduk kelelahan
"Astagfirullah tempat apa ini?, mengapa banyak mahluk astral disini?."
Herman kembali menyusuri setiap sudut di Villa itu, nihil...tak ada jejak kemana Ratih dan Tiwi pergi. Herman berusaha menghubungi temannya...tapi sinyal disini teramat buruk, hingga kadang hilang kadang timbul.
Setelah sekian lama akhirnya Herman dapat menghubungi temannya.
"Assalaamualaikum.."
"Waalaikumusallam.."
"Bimo ini aku ....Herman."
"Iya Her, ada apa?, apa yang terjadi sama kamu ??,"...Her....Herman, kamu denger aku??."
__ADS_1
"Iya Bim, Bimo!!!....Bim...tolong aku, tolong aku Bim,...aku dalam bahaya Bim."
"Herman!!!...Her...kamu dimana?? suara kamu gak jelas."
"Villa Putih...C****O."
"Herman...Her...Her...."
Herman berjalan lesu, darah masih terus menetes, merembes membasahi kemejanya. Herman menghidupkan semua lampu, dibersihkan badannya, diambilnya kaos dan celana pendek milik Tiwi. Dengan bersarungkan tirai, Herman mulai melaksanakan shalat. Tangisnya tak dapat dibendung lagi saat ia meminta, agar Ratih dan Tiwi dikembalikan padanya.
Herman terus mengaji dan berdzikir, hingga kantuk membungkusnya. Entah hanya ilusi atau nyata, tiba tiba Herman berada pada suatu situasi yang benar benar berbeda. Ia seolah olah berada diantara dunia nyata dan mimpi.
Dihadapannya terbentang pemandangan yang sangat berbeda. Seorang wanita berkebaya, muda dan cantik terlihat sedang bersama seorang gadis belia yang tidak kalah cantiknya.
"Mah...papah kapan pulang ?."
__ADS_1
"Entahlah nak, mama gak tau."
"Koq mama gak telpon?, bilang sama papa, aku juga kangen!!. Kenapa papa cuma sayang sama istri dan anaknya yang di sana, aku juga kan anaknya."
"Bella..!!!, gak baik kamu bicara seperti itu, mama gak suka."
"Mama yang gak pernah mikirin aku. Mama tau gak aku malu??, malu mah...malu diejek sama temen2, kata mereka aku anak haram, aku gak punya bapak. Apa emang betul aku ini anak haram?...betul mah...jawab??."
"'Bellaaaa...!!," sebuah tamparan mendarat di pipi gadis cantik itu. Bella mengerang menahan sakit. Dengan rasa marah Bella berlari ke kolam renang di samping Villa, dia berlari dengan marah, setan telah memperdaya gadis cantik itu, untuk menceburkan diri dan ....
BYURRR
tubuh gadis cantik itu masuk kedalam kolam, ia terlihat megap2 ditengah kolam, sebelum akhirnya diam tak bergerak. Herman berusaha menolong gadis itu, tapi sepertinya mereka berada di dimensi yang berbeda, tangannya tak bisa menyentuh Bella, meski ia berusaha sekuat tenaga. Wanita berkebaya menyusul berlari kearah kolam. Melihat Bella sudah tidak bergerak, ia menjerit dan berteriak teriak histeris, panikk...diapun menceburkan dirinya ketengah kolam.
Karena tak bisa berenang, akhirnya wanita itupun ikut tenggelam dan meninggal. Herman berteriak sekuat tenaga, tapi tak ada satupun yang mendengar. Herman diam membeku seperti patung, ia tak percaya dengan pemandangan yg ada dihadapannya. Entahlah ia harus menangis, berteriak atau apa...dunia seperti berputar.
__ADS_1