PENGHUNI VILLA PUTIH

PENGHUNI VILLA PUTIH
Part - 7


__ADS_3

Malam mulai datang menyelimuti. Halimun mulai turun perlahan. Aura mistis mulai tercium di sekeliling Villa Putih. Wangi dupa dan melati tiba tiba memenuhi seisi ruangan, suhu udara yang mendekati 11 derajat tidak menjadikam suasana menjadi dingin, tetapi terasa panas dan pengap. Ruangan yang besar itu seperti penuh sesak. Ratih dan Tiwi terlihat berulang kali membasuh keringatnya, Tangan Tiwi terus menggamit Ratih, sementara Herman sedang berusaha menyalakan genset. Karena sudah lama tak terpakai, agak sulit menghidupkannya. Setelah bersusah payah akhirnya genset itu bisa dihidupkan.


"'Alhamdulillah."


Herman berjalan menghampiri Ratih dan Tiwi yang sedang ketakutan. Kemudian ia meletakan jari telunjuk dibibirnya.


Psttt...


Kemudian dia berjalan kearah luar, demi dilihatnya sekelebat bayangan melintas di kegelapan malam. Tiba tiba angin keras menerpa wajahnya. Herman surut beberapa langkah, seperti ada kekuatan gaib yang mendorongnya. Ratih dan Tiwi berteriak ketakutan. Herman mengumpulkan kekuatan yang masih tersisa, mulutnya komat kamit membaca doa. Hawa panas sesaat menghilang, lolongan anjing terdengar bersahut2an. Tiba tiba...


Blammm


Sebuah dentuman keras terdengar dari lantai atas. Ratih dan Tiwi Cumiik takut, Herman meningkatkan kewaspadaan dan terus berdoa, peluh mengucur deras membasahi wajahnya. Perlahan ia menaiki tangga ruang atas, dilihatnya semua tidak ada yang berubah. "Tapi darimana datangnya ledakan tadi?," gumam Herman.


Belum lagi hilang rasa penasaran dan takutnya, tiba tiba sebuah tangan besar seperti mencengkram bahunya dan menghempaskannya. Lengannya kembali mengeluarkan darah.

__ADS_1


"Astagfirullah...ya Allah beri hamba pertolonganMu." Herman terus berdoa.


Perlahan gangguan itu menghilang. Herman berjalan cepat menuruni tangga, perasaannya terasa tidak nyaman. Betul saja, ketika ia sampai dibawah ia tidak menjumpai Ratih dan Tiwi. Bingung dan takut mulai menyelimutinya. Herman mulai mencari kesetiap sudut ruangan sambil berteriak memangil istri dan sepupunya.


"Ratih....Tiwi....dimana kalian?,"


"Ratihhh....."


"Tiwiiii....."


"Ya..Allah dimana istriku? Tolong aku ya Allah, tunjukan dimana istriku." 


Peluh mulai membasahi tubuhnya. Rasa cemas yang sedari tadi coba diredam, tak bisa lagi ia kendalikan. Jantungnya berdegup cepat, nafasnya tersengal-sengal.


Suasana sepi, tak ada jawaban. Herman menyusuri seluruh sudut Villa, kosong. Herman terduduk disudut ruang tamu, ia menangis, bingung dan takut mulai menyergapnya.

__ADS_1


"Ya..Allah, apa dosaku hingga aku harus mengalami semua ini. ? kenapa ya Allah ?."


Herman berteriak sambil menangis, karena tak kuasa menahan beban yang dialaminya.


"Ayah!!..mengapa kau wariskan Villa terkutuk ini kepadaku ?, Kenapa ayah?? Kenapa??."


Herman terus meracau sambil memukul mukulkan tangannya ke wajah. Herman bangkit berdiri, dan kembali menyusuri setiap sudut ruangan berharap kali ini ia bisa menjumpai Ratih dan Tiwi. Hari terus merangkak naik, tapi tak satupun dari keduanya ia jumpai.


"Ratih!!...sayang !!, kamu dimana ?."


Herman bergumam dengan wajah kuyu dan bersimbah air mata. Perutnya mulai terasa sakit, karena sedari tadi belum terisi apapun.


Dibaringkan tubuhnya dilantai, ia sudah tak perduli lagi dengan keadaan sekitar. Karena teramat letih, tanpa disadari ia tertidur. Herman tak menyadari kalau sedari tadi ada yang sedang mengawasinya dengan sorot mata tajam. Wajah menyeramkannya terus mengawasi gerak gerik Herman, bahkan disaat Herman terbaring dilantai, ia mencoba menyentuh dengan tangannya yang dipenuhi rambut.


"Hrrrr....hrrrrr...hrrrrrrr"

__ADS_1


suara erangannya terdengar sangat menakutkan. Perlahan jemarinya yang besar menyentuh tubuh Herman. Herman yang terlalu lelah tak bergeming saat tangan besar itu menyentuh tubuhnya, hingga saat tangan itu mulai menyentuh bagian sensitifnya, ia terbangun.


__ADS_2