
Pemandangan pantai di sore hari yang begitu indah,matahari yang mulai memerah di ufuk barat,melengkapi indahnya air laut saat itu.
Anak-anak yang masih bermain di pesisir pantai di temani orang tua mereka. Ada yang membangun istana pasir ada juga yang berlarian ke sana ke mari. Ada juga sebagian anak yang memilih bermain di area taman anak di pinggir pantai.
Keindahan pantai Takisung yang semakin lengkap dengan area bermain dan selfi. Para remaja tengah asyik berselfi ria,tertawa lepas bersama teman-teman mereka.
Hanya seorang dokter Hafiz yang duduk sendiri termenung menyaksikan indahnya ciptaan Allah itu.
Semua tentang Aisyah telah memenuhi pikirannya. Rasa cemas dan takut kehilangan untuk yang kedua kalinya. Tak apa jika ia tidak dapat memiliki Aisyah namun Aisyah harus tetap bahagia. Kini kenyataan telah berbeda,Aisyah tengah melawan penyakit itu sekuat mungkin dalam keadaan hamil besar.
Hafiz khawatir Aisyah tidak mampu melewati masa persalinan karena penyakitnya yang semakin hari semakin parah.
Hafiz harus menerima kenyataan pahit ketika dokter kandungan yang menangani Aisyah menjelaskan keadaan Aisyah. Sebelumnya Hafiz telah memohon dan memaksa kepada dokter kandungan itu agar memberitahukan keadaan Aisyah yang sebenarnya.
"Ais...." Air mata Hafiz menetes. Ia tak sanggup lagi membendungnya.
"Ya Allah cobaan apa lagi yang Engkau berikan kepada Aisyah,ia telah kehilangan ayahnya bahkan sebelum ia dilahirkan,ia juga telah mengorbankan cintanya hanya demi kami orang-orang yang disayanginya,kini Engkau memberikan cobaan ini lagi ketika ia mulai merasakan kebahagiaan...Astagfirullahalajim...hamba tau Ya Allah,Engkau merencanakan sesuatu yang baik untuknya,maka berikanlah kekuatan untuknya" Hafiz berdoa dalam tangisnya.
Tiba-tiba deburan ombak yang besar datang menghantam batu karang dimana Hafiz duduk,air laut membasahi tubuhnya. Seakan alam menjadi saksi doanya itu. Doa yang tulus dari orang yang mempunyai cinta tulus.
Matahari telah bersembunyi di balik lautan yang tak bertepi. Kumandang azan Magrib telah menggema.
"Itu panggilan dari Mu Ya Allah,aku akan datang,aku akan meminta saat di hadapanMu nanti" Hafiz bergegas menuju mobilnya dan mencari mushola terdekat untuk melaksanakan shalat Magrib. Ia selalu membawa baju ganti di dalam mobilnya. Karena jarak pantai dan rumahnya yang jauh,ia memutuskan akan pulang setelah shalat Magrib selesai.
***
Sire itu Aisyah melakukan persiapan untuk persalinannya,ia sudah berada dinrumah sakit. Jadwal cesar akan dilakukan besok pagi.
Aisyah tersenyum sambil terus mengelus perutnya,merasakan gerakan bayi di dalam perutnya.
Bastian yang menemani Aisyah nampak tegang,karena ini adalah pengalaman pertamanya. Dan sampai saat ini jua ia tak mengetahui apa pun tentang penyakit Aisyah.
Pintu ruangan Aisyah diketok,umi datang bersama Hafiz mengunjungi Aisyah di rumah sakit untuk memberikan semangat.
"Assalamualaikum putri umi yang cantik" Ucap umi yang begitu semangat akan menyambut cucu pertamanya.
"Waalaikumsalam umi" Bastian dan Aisyah bersamaan menjawab.
"Sayang,kamu sudah siap kan? Kamu harus bahagia sayang sebentar lagi kamu jadi seorang ibu" Ucap umi.
Aisyah tersenyum dan memejamkan mata,rasa sakit itu datang lagi. Namun ia segera membuka matanya karena tak ingin mereka melihatnya.
Hafiz tak bisa melihat Aisyah berpura-pura kuat,ia keluar ruangan untuk menghubungi dokter yang menangani Aisyah.
"Assalamualaikum,dengan dokter Rizki?" Ucap Hafiz.
__ADS_1
"Waalaikumsalam,iya dengan saya sendiri!" Ucap dokter Rizki.
Hafiz pun memperkenalkan diri,dan tentu saja dokter Rizki mengenalnya walaupun mereka tidak bekerja di rumah sakit yang sama.
Dokter Rizki adalah dokter terbaik di kota itu,ia bekerja di rumah sakit swasta. Dokter yang selalu menghabiskan waktunya untuk bekerja dan bekerja. Kesembuhan pasien adalah prioritas hidupnya.
Tak buang-buang waktu,Hafiz menceritakan tentang keadaan Aisyah yang kini akan melakukan cesar. Dokter Rizki mengerti kondisi Aisyah,namun karena ke egoisan Aisyah yang tak mau satu orang pun mengetahuinya membuatnya tak bisa melakukan apa pun.
"Hanya satu yang bisa menyelamatkan Aisyah untuk menghadapi persalinannya,Aisyah harus bahagia. Dengan keadaan mental yang baik maka semuanya akan terkontrol,sehingga ia bisa melewati masa itu. Tapi setelah persalinannya saya harap kita bisa fokus dengan penyakitnya. Kita akan melakukan operasi kanker otak" Ucap dokter Rizki panjang lebar.
Bastian mengerti,kali ini tidak ada hal lain yang bisa dilakukan selain membuat Aisyah bahagia. Ia juga berjanji di dalam hati kebahagiaan dan keselamatan Aisyah adalah segalanya,ia akan melakukan apapun untuk Aisyah.
Hafiz kembali ke ruangan Aisyah,mereka yang ada di ruangan itu tampak bercakap-cakap dengan rona wajah bahagia seperti tak sabar menyambut bayi Aisyah.
Hafiz memperhatikan wajah Aisyah yang pucat dan terkadang memejamkan mata seperti menahan rasa sakit.
'Ais,apa yang bisa ku lakukan untuk mu,apa yang bisa membuatmu bahagia untuk sekarang ini' Hafiz
"Bas,sebaiknya kamu pulang untuk istirahat,besok pagi kamu harus menemani Aisyah di ruang operasi,biarkan malam ini aku dan umi yang menemani Aisyah" Ucap Hafiz.
"Benar nak,sebaiknya nak Bastian pulang dan istirahat,seharian tadi nak Bastian belum istirahat kan" Tambah umi.
"Iya mas sebaiknya kamu pulang saja,biar aku sama umi" Aisyah ikut menimpali,ia khawatir suaminya kelelahan karena sepulang dari kantor langsung ke rumah sakit untuk menjaganya.
"Persiapkan diri mu untuk bayi kita!" Bastian berbisik di telinga Aisyah.
Aisyah tersenyum mendengar bisikan suaminya. Bastian berpamitan untuk pulang.
Setelah Bastian meninggalkan ruangan itu,kini tinggal Aisyah,Hafiz dan umi Maryam. Hafiz mendekat ke tepi ranjang Aisyah,umi Maryam masih duduk di samping Aisyah.
"Ais,apa yang kamu lakukan? Apa kamu tidak menganggap kami keluarga mu lagi? Apa memang kamu sudah tidak menyayangi kami? Jika itu benar maka yang telah kamu lakukan adalah benar?" Hafiz ingin marah karena terlambat mengetahui tentang penyakit Aisyah.
Umi bingung dengan perkataan Hafiz,sedangkan Aisyah hanya diam membuang pandangannya ke arah lain.
"Apa maksud mu nak Hafiz?" Tanya umi.
"Umi,umi harus tau Aisyah tak lagi menyayangi kita,Aisyah menderita kanker otak stadium akhir dan tak pernah memberitahukannya kepada kita!" Hafiz berbicara keras sambil menangis.
"Kak Hafiz..." Teriak Aisyah.
"Kenapa...apa aku salah jika aku mengetahuinya,kami semua berhak tau karena kami menyayangi mu" Hafiz pun berbicara sedikit berteriak.
Tentu saja umi syok mendengar semua ini,ia terlihat bingung dan tak percaya air matanya pun mengalir tanpa aba-aba.
"Ais,,,," Umi mendekap tubuh Aisyah yang berada di atas ranjang.
__ADS_1
"Umi,maafkan Ais..." Ucap Aisyah.
Semua yang ada di ruangan itu pun menangis,tanpa di sadari seseorang mendengarkan dari balik pintu. Bastian belum meninggalkan rumah sakit. Tentu saja ia tak rela meninggalkan Aisyah bersama Hafiz walaupun ada umi di situ. Ia hanya berpura-pura pulang untuk membuat Aisyah senang.
"Dokter Rizki bilang semua bisa dilewati jika kondisi mental mu baik,kamu harus merasa bahagia dan tanpa beban apa pun" Hafiz menjelaskan semua tentang apa yang disampaikan dokter Rizki padanya.
"Sekarang katakan pada ku apa yang kau inginkan,aku akan memenuhinya apa pun itu. Kamu harus tenang dan bahagia" Hafiz berbicara dengan air mata yang terus mengalir.
"Apa kakak janji akan mengabulkan semua permintaan ku?" Tanya Aisyah.
"Tentu!" Jawab Hafiz singkat.
"Apa pun itu?" Tanya Aisyah lagi.
"Ya...apa pun itu,aku pasti memenuhinya" Jawab Hafiz,ia akan melakukan apa pun untuk Aisyah walaupun harus kehilangan nyawanya.
"Aku ingin Bastian menikah dengan Hafizah,sebelum aku melakukan operasi cesar,karena aku tak tau apakah setelah cesar aku bisa membuka mata dan bernafas kembali..." Ucap Aisyah.
"Harus kah dengan itu?" Tanya Hafiz.
"Ya...kali ini hanya itu yang bisa membuat ku bahagia. Mereka saling mencintai sejak dulu,aku hanya menjadi penghalang hubungan mereka,karena aku lah mereka tidak bisa bersatu. Aku ingin membuat Bastian bahagia,aku harus mengembalikan cinta pada tempatnya sebelum aku pergi" Aisyah berbicara panjang lebar.
Bastian masih mendengarkan ucapan Aisyah di balik pintu.
"Apa kak Hafiz bersedia memenuhi keinginanku itu?" Tanya Aisyah.
Hafiz mengangguk dengan berat hati.
"Aku tau kak Hafiz mencintai ku dengan tulus,dan sampai saat ini kamu tetap menyayangi ku,karena itu kakak akan melakukan apa pun untuk ku,maafkan aku kak yang tak bisa bersamamu dan membuat mu bahagia" Ucap Aisyah.
"Cukup Ais...semua pengorbanan yang telah kamu berikan untuk ku dan pesantren,itu sudah lebih dari cukup dari tanda cinta dan sayang mu kepada kami,aku hanya ingin kamu bahagia,kamu harus berjuang,kamu harus kuat,dan kamu harus bahagia untuk melawan penyakit mu,itu adalah tanda cinta mu pada ku" Hafiz berbicara panjang lebar memberi kekuatan kepada Aisyah.
Mereka saling mencurahkan perasaan yang ada di hati,kebersamaan yang mereka lalui sejak kecil,rasa saling menyayangi dan melindungi,tidak akan pupus hanya dengan tidak bisa saling memiliki.
Seakan terjadi banjir air mata di ruangan itu,isak tangis umi menyaksikan anak-anaknya mencurahkan rasa sayang. Umi terharu menyaksikan cinta mereka yang tulus dan benar.
Aisyah tetap menjaga cintanya tanpa menyakiti Bastian,ia sudah melakukan yang terbaik untuk keluarganya.
Aisyah berharap ia akan tetap berbahagia dengan suami tercinta dan kelak Hafiz pun akan bahagia dengan wanita lain yang dicintainya.
Untuk para readers semoga kalian suka ya....
Jangan lupa like komen positif dan votenya
Author sangat berterima kasih atas semua dukungan kalian,tanpa kalian author bukan apa-apa,,,thanks!!! Love you readers!!!
__ADS_1