
Suasana kamar yang sangat hening, pantulan cahaya mentari masuk menembus kaca jendela kamar itu. Romi masih terbaring tak berdaya di rumah sakit. Sudah berhari-hari ia tak sadarkan diri. Dokter menjelaskan bahwa dosis racun yang mengalir di pembuluh darahnya terlalu tinggi, sehingga menyebabkan kelumpuhan pada saraf-sarafnya, dan sampai kapan kondisinya bisa membaik dokterpun tidak bisa memprediksikan.
Setiap hari Hafizah datang mengunjungi Romi bersama Nicolas, bagaimanapun Romi sudah menyelamatkan Hafizah, seperti itulah yang dipikirkan Nicolas dan Hafizah.
Entah kenapa Nicolas merasa menjadi pria tak berguna, ia tidak bisa melindungi istrinya. Bahkan orang lain bersedia mati demi istrinya, ia merasa hampa di dalam hatinya.
Tidak ada yang bisa dilakukan Hafizah untuk membalas kebaikan Romi. Cinta Romi bukan main-main, ia sudah membuktikannya. Untuk saat ini ia hanya bisa memberikan perhatian dengan mengunjungi dan merawat Romi di rumah sakit setiap hari.
Romi adalah seorang yatim piatu. Sejak kecil ia hidup dengan keluarga Bastian. Oleh karena itu, Bastian sangat bertanggung jawab atas Romi.
Dua bulan kemudian, saat Hafizah mengunjungi Romi seorang diri, dikarenakan Nicolas harus kembali bekerja. Untuk pertama kalinya Romi membuka mata.
Setitik cahaya terang yang memantul di wajahnya membuat Romi harus membuka matanya. Semua tampak terang dan menyilaukan, itulah yang dirasakan Romi saat pertama kali membuka mata.
Melihat Romi membuka mata, Hafizah terkejut dan sangat bahagia.
"Romi...? kamu sudah sadar?" Hafizah mendekat dan berusaha mengajak Romi berbicara.
__ADS_1
Romi tak menjawab, ia masih bingung dengan apa yang dialaminya.
"Romi, aku Fizah! kamu ingat?" tanya Hafizah lagi, namun belum ada respon dari Romi.
Hafizah pun baru teringat bahwa ia harus segera memanggil dokter untuk memeriksa Romi yang baru saja sadar.
Dokter datang dan memeriksa Romi. Dokter itu menjelaskan bahwa Romi memang sudah sadar, namun belum sepenuhnya dan dokter menyarankan agar Romi selalu diajak berkomunikasi untuk melatih saraf otaknya.
Hafizah segera menghubungi suaminya dan Bastian serta Aisyah untuk memberitahukan kabar gembira ini.
"Pasti Rom, aku pasti bahagia karena keadaanmu semakin membaik" jawab Hafizah yang saat itu hanya berdua saja di ruang rawat Romi.
"Kamu harus janji, apapun yang terjadi jangan menyalahkan dirimu sendiri, jalanilah hidupmu dengan kebahagiaan! aku akan selalu mendukung mu" Romi menatap mata Hafizah penuh harap.
"Iya Rom, tenang saja! aku pasti selalu mengingat kata-katamu" jawab Hafizah dengan tersenyum.
"Terima kasih sudah menyelamatkan ku waktu itu" tambah Hafizah.
__ADS_1
"Bisa tinggalkan aku, aku merasa sangat lelah, aku mau tidur!" pinta Romi.
"Baik beristirahatlah!" Hafizah hendak berdiri dan meninggalkan ruangan Romi.
"Fizah, aku memcintai mu, dan akan selalu mencintai mu!" ucap Romi sebelum Hafizah meninggalkannya.
Hafizah hanya terdiam saat mendengar pengakuan Romi.
Romi menutup matanya, lalu Hafizah perlahan melangkahkan kakinya keluar ruangan Romi.
Hafizah berjalan kearah taman rumah sakit, ia duduk dan merenungi perkataan Romi.
'Apa yang terjadi padamu Rom? tak biasanya kamu bertingkah seperti itu!'
'aku minta maaf, sungguh minta maaf, aku tidak bisa membalas cintamu, aku sudah menjadi istri orang lain dan aku sangat mencintai suamiku' Hafizah menangis karena tak kuasa menahan rasa sedih.
"Rom, aku akan selalu ingat pesanmu, aku akan selalu bahagia! kamu juga harus cepat pulih dan menemukan orang yang tepat, kamu juga harus bahagia" Hafizah berbicara dan memberikan semangat pada dirinya sendiri.
__ADS_1