
Hafiz tak mau menunggu lama, Ia menyampaikan keinginannya untuk segera menikahi Reysa kepada abi. Abi pun merestui niat baik Hafiz.
Hari ini Reysa akan pulang ke rumah orang tuanya, ia akan meminta restu kepada papa dan mamanya.
Dengan senang hati, Bastian mengantar adiknya. Namun ia tak membawa Aisyah dan Abella. Rencananya Aisyah akan menyusul dengan rombongan Hafiz yang akan melamar.
Pak Doni tentu saja setuju dan merestui hubungan putrinya dengan Hafiz. Sejak awal pak Doni memang sudah menyukai Hafiz.
Hafiz memang tipe pria idaman, tak hanya wajahnya yang rupawan, ia juga mapan dan soleh.
Reysa dengan semangat menyampaikan kabar baik ini kepada Hafiz.
Hafiz dan keluarganya datang untuk melamar Reysa di rumah pak Doni.
"Kak, apa iya aku harus tinggal sendiri di rumah?" tanya Hafizah yang sebenarnya ingin sekali ikut.
"Apa kamu harus ikut juga? sekalian saja kita ajak para santri, supaya penuh rumah Reysa" Hafiz tak ingin membawa banyak rombongan. Ia hanya ingin membawa abi, Aisyah dan Abella karena Bastian sudah lebih dulu berangkat bersama Reysa.
"Ih...kakak" Hafizah meraju seperti anak kecil.
"Ada apa ini?" tiba-tiba abi muncul di tengah mereka.
"Abi...Hafizah takut di rumah sendiri!" Hafizah merengek kepada abi.
"Hei...kamu kan bisa menginap di rumah umi, jangan merengek seperti anak kecil, huh..." Hafiz menunjukan kekesalannya.
"Abi..." Hafizah bergelanyut manja di lengan abi.
"Kamu boleh ikut! Aisyah akan dijemput oleh sekertaris Bastian!" ucap abi, karena memang Bastian telah menyuruh Romi untuk mengantarkan Aisyah.
"Yes...pokoknya abi the best!" ucap Hafizah seraya mencibir kakaknya.
Mereka akan berangkat setelah shalat zuhur, dan akan menginap satu malam di rumah pak Doni.
"Fizah, kamu temani kakakmu Aisyah supaya Bella ada yang mengurus!" perintah abi agar Hafizah satu mobil dengan Aisyah dan Romi.
"Baik abi" jawab Hafizah lalu pindah ke mobil Aisyah.
Dua mobil perlahan meninggalkan kota Martapura.
__ADS_1
Di dalam mobil Aisyah duduk di kursi belakang bersama Abella dan Hafizah, sedangkan Romi yang mengemudi.
Romi menatap Hafizah melalui kaca spion di atas kepalanya.
'Hafizah...begitu sempurnanya dirimu, aku harap suatu hari aku juga bisa datang melamarmu seperti ini' Romi.
Aisyah menyadari bahwa Romi terus menatap bayangan Hafizah di kaca spion.
"Ehem...Rom, lampu merah tu!" ucap Aisyah berhasil membuat Romi gelagapan, sontak Romi menginjak pedal rem, membuat mobil berhenti mendadak.
"Rom, hati-hati dong!" seru Hafizah yang kepalanya hampir membentur kursi depan mobil.
"Maaf, kamu baik-baik saja?" tanya Romi mengkhawatirkan Hafizah.
"Hafizah tentu baik, tapi Abella sepertinya tidak!" ucap Aisyah karena Abella mulai menangis.
"Maaf, maaf Bella! Om tidak sengaja!" Romi merasa bersalah karena Abella menangis ketakutan.
"Kita jalan lagi ya...?" Romi perlahan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
"Mobil mereka kenapa bi...?" tanya Hafiz kepada abi, karena melihat mobil Aisyah yang berada di depan mobilnya, tiba-tiba berhenti.
"Tapi kenapa mobilnya harus berhenti mendadak seperti itu...? hah...apa...? Romi menyukai Fizah..?" Hafiz tekejut setelah sadar dengan ucapan abi.
"Ya...sepertinya" tambah abi.
"Darimana abi tau? itu tidak mungkin abi! Hafizah tidak mungkin menyukai Romi!" ucap Hafiz tidak percaya jika Hafizah juga menyukai Romi.
"Siapa yang bilang Fizah menyukai Romi?" abi menarik lembut telinga Hafiz. "Abi bilang Romi menyukai Fizah!" abi menegaskan kalimatnya.
Beberapa jam kemudian mereka telah sampai di rumah Pak Doni. Pak Doni dan keluarga menyambut mereka dengan gembira.
"Alhamdulillah kalian telah sampai dengan selamat" ucap Pak Doni.
"Selamat datang di kediaman kami Pak Abdullah!" Pak Doni memeluk abi.
"Terima kasih Pak Doni" jawab abi.
Lalu mereka masuk ke dalam rumah Pak Doni.
__ADS_1
"Papa..." Abella berteriak setelah melihat Bastian.
Abella turun dari gendongan Aisyah dan berlari untuk memeluk papanya.
Bastian duduk berjongkok menyambut pelukan putrinya itu. Abella dan Bastian berpelukan.
"Sayangnya papa" ucap Bastian mengelus kepala Abella. Bastian lalu menggendong Abella masuk ke dalam rumah bersama yang lain.
"Papa, tadi Om Romi bikin Abella takut" Abella mengadu kepada Bastian.
"Memang Om Romi kenapa sayang" tanya Bastian, Abella pun menceritakan yang dialaminya di perjalanan.
"Benar Rom?" tanya Bastian.
"Maaf Bas, aku tidak sengaja melakukannya!" Romi meminta maaf.
"Rom, kamu tidak boleh ceroboh hanya karena kamu menyukai seseorang, kamu harus tetap fokus dengan pekerjaanmu!" ucapan Hafiz membuat semuanya bingung.
"Silahkan di minum Pak Abdullah, nak Hafiz" Pak Doni mempersilahkan tamunya setelah asisten rumah tangga mereka datang membawakan minuman.
"Eh iya, terima kasih!" ucap Hafiz gugup.
Setelah istirahat dan minum sambil berbincang, mereka pun lalu membersihkan diri untuk segera melaksanakan shalat magrib. Shalat Azhar mereka lakukan saat di perjalanan tadi.
Usai Shalat magrib mereka berkumpul di ruang tengah.
Sesi lamaran pun berlangsung, mereka juga membicarakan tentang tanggal pernikahan.
Hafiz dan Reysa tentu sangat bahagia. Kebahagiaan mereka itu tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata lagi.
'Andaikan waktu itu aku bisa lebih sabar menanti, seperti yang dilakukan Reysa, mungkin acara lamaranku dengan Aisyah juga akan menjadi moment bahagia seperti ini. Maafkan aku sayang, sebagai gantinya aku akan membuat mu bahagia sampai akhir hanyatku' Bastian.
'Andaikan waktu itu...ah sudahlah semua sudah berlalu, sekarang pun aku sudah sangat bahagia bersama anak dan suamiku' tanpa terasa Aisyah menitikan air mata menyaksikan kebahagiaan adik iparnya itu dengan Hafiz, lelaki yang pernah mengisi relung hatinya begitu lama.
'Aisyah...akhirnya aku bisa membuka hatiku untuk wanita lain, sebentar lagi aku akan menjadi milik Reysa. Maafkan aku tidak bisa menjadi cinta sejatimu' Hafiz.
Untuk para readers semoga kalian suka ya....
Jangan lupa like komen positif dan votenya
__ADS_1
Author sangat berterima kasih atas semua dukungan kalian,tanpa kalian author bukan apa-apa,,,thanks!!! Love you readers!!!