
Di pagi hari ketika mentari perlahan menampakkan diri, Hafizah tengah berdiri di depan cermin, mempersiapkan diri untuk melangkah mengejar masa depan yang ia impikan.
'Aku harus bangkit! Aku tak boleh terus-terusan seperti ini!' Hafizah tersenyum di depan cermin. Ia kemudian melangkahkan kakinya keluar kamar, ia menghampiri abi dan Hafiz di meja makan.
Hafizah juga sudah memutuskan untuk kembali ke rumah abi.
"Assalamualaikum abi, kak!" Hafizah mengucapkan salam kepada abi dan Hafiz.
"Waalaikumsalam..." Abi dan Hafiz menjawab salam Hafizah, mereka terkejut setelah melihat penampilan Hafizah.
"Fizah, mau kemana kamu?, rapi sekali!" tanya Hafiz karena tak biasanya Hafizah berpenampilan seperti itu.
"Abi, kak, Fizah sudah memutuskan untuk bekerja, Fizah harus bangkit dan mengejar mimpi Fizah!" Hafizah menyampaikan niatnya kepada abi dan kakaknya. Ia sudah memikirkan matang-matang langkah yang akan ia ambil.
"Bagus sayang! abi senang kamu bersemangat seperti ini!" ucap abi sambil tersenyum.
"Lalu apa yang pertama akan kamu lakukan?" tanya Hafiz.
"Hari ini Fizah akan mengirim lamaran ke berbagai perusahaan di kota ini" jelas Hafizah.
"Apa kamu juga mengirimnya ke perusahaan Bastian?" tanya Hafiz lagi.
"Iya, tapi aku tak mau sampai Bastian tau, aku ingin diperlakukan seperti yang lain tanpa pengecualian" Hafizah akan mengirim lamaran secara diam-diam.
"Baiklah, semoga kamu beruntung" ucap Hafiz.
"Doa abi selalu menyertai mu nak!" tambah abi.
Hafizah menjawab dengan senyuman, lalu mereka sarapan bersama.
Sementara itu di rumah Aisyah. Aisyah dan Bastian sedang sarapan bersama, sedangkan Abella sarapan dengan disuapi bi Minah.
"Mas, sepertinya hari ini aku tidak bisa menemani mu makan siang, aku ada rapat dengan para staf, jadi aku akan makan bersama mereka. Kamu tak apa kan?" tanya Aisyah.
"Iya sayang...aku akan makan siang di kantor bersama Romi!" jawab Bastian.
"Oh ya mas, sepertinya Romi menyukai Hafizah!" kata Aisyah.
"Oh ya...?" tanya Bastian ingin istrinya bercerita.
Aisyah pun menceritakan apa yang ia lihat, yang menandakan rasa suka Romi kepada Hafizah.
Hafizah sudah mendatangi beberapa perusahaan. Perusahaan yang pertama ia datangi adalah perusahaan Bastian. Ia sengaja datang ke perusahaan Bastian di saat jam kerja baru dimulai agar tak bertemu Bastian.
Waktu sudah menunjukan jam makan siang. Hafizah sudah cukup lelah kesana kemari mengantar surat lamaran itu. Ia mengendarai mobil Hafiz untuk semua urusannya itu.
"Oh...ternyata melelahkan juga" Hafizah duduk di sebuah kursi di dalam restoran, ia akan istirahat dan makan siang di restoran itu.
Ponsel Hafizah berdering, ia melihat layar ponsel tersebut.
"Paman...?" Senyumnya mengembang melihat kontak yang memanggilnya.
__ADS_1
"Assalamualaikum paman" ucap Hafizah.
"Walaikumsalam Fizah" jawab pamannya itu.
Merekapun berbicara panjang lebar, saling menanyakan kabar dan juga membahas tentang perusahaan yang Hafizah tinggalkan begitu saja.
Setelah mendengar tentang kecelakaan Nicolas, pamannya menyuruh Hafizah agar kembali ke Malang, menjalankan perusahaan bersamanya. Namun Hafizah menolak, ia ingin memulai karirnya dari awal lagi, ia akan melakukannya di kota kelahirannya itu.
"Baiklah sayang, jika itu maumu. Jika suatu hari kamu berubah pikiran, datanglah kemari!" ucap pamannya.
"Terima kasih paman, jika paman membutuhkan bantuan Fizah, dengan senang hati Fizah akan membantu dari sini" Hafizah tetap ingin membantu pamannya mengembangkan perusahaan walaupun dari jarak jauh.
Setelah panggilan ditutup, Hafizah menikmati makan siangnya yang sudah ia pesan beberapa saat lalu.
Sepasang mata memperhatikan Hafizah lalu menghampirinya.
"Hafizah...?" Romi menyapa Hafizah yang sedang duduk menikmati makan siang sendiri.
"Eh Romi..." Hafizah sedikit terkejut dengan kehadiran Romi.
Tanpa permisi Romi duduk di depan Hafizah.
"Kamu sendirian?" tanya Romi.
"Ya...seperti yang kamu lihat!" jawab Hafizah singkat.
"Baiklah, karena kamu sendirian aku akan menemanimu!" Romi berbicara dengan percaya diri.
"Halo bos, maaf makan siangmu akan sedikit terlambat, aku sedang menolong seseorang dari kesendirian, aku tidak tega jika harus meninggalkannya sendiri di tempat seperti ini!" Ucap Romi kepada seseorang di dalam telepon, lalu segera menutup panggilan itu.
"Jadi kamu sedang membelikan makan siang untuk Bastian? sebaiknya kamu segera kembali dan membawa makan siang itu untuknya! jika kak Aisyah tau suaminya terlambat makan gara-gara kamu,dia pasti memberikan tendangan mematikan untukmu!" ucap Hafizah panjang lebar.
"Ah...kamu, kalian berdua itu sama saja, sama-sama mengerikan jika marah. Tapi kamu lebih mengerikan, sebab kamu tidak hanya bisa membunuhku tapi juga bisa membunuh hatiku jika aku tak melihatmu!" Romi sedikit membual, agar Hafizah tau tentang perasaannya.
Hafizah tercengang dengan kalimat Romi. Namun ia segera menguasai dirinya.
"Rom, sebaiknya kamu cepat pergi! aku mulai sakit perut mendengar ocehanmu!" ucap Hafizah lalu tertawa.
"Hafizah...!" seru Romi namun ia senang Hafizah bisa tertawa karenanya.
Di kantor Bastian.
"Romi....! apa yang kamu lakukan? beraninya kamu membuatku terlambat makan siang!" Bastian geram dengan sikap Romi.
"Siapa yang kamu tolong dalam kesendirian?, ah...jangan-jangan...?" cerita Aisyah tentang Romi dan Hafizah pun terlintas di pikiran Bastian.
"Baguslah, jadi kamu tidak akan jadi jomblo sejati" Bastian tersenyum.
Romi tergesa-gesa menyelesaikan makan siangnya bersama Hafizah, ia tak tega jika Bastian harus kelaparan karenanya.
"Fizah, maaf ya...aku harus pergi lebih dulu!" ucap Romi sambil berdiri.
__ADS_1
"Iya Rom tak apa, kasihan Bastian" jawab Hafizah.
"Assalamualaikum" ucap Romi.
"Waalaikumsalam" Hafizah memjawab salam Romi.
"Terima kasih Rom....!" seru Hafizah saat Romi sudah berjalan meninggalkannya.
Hafizah mulai menyadari perhatian Romi selama ini.
'Apa mungkin Romi menyukai ku? ' Hafizah menghela nafas.
Di rumah sakit, Aisyah memimpin jalannya rapat. Pada saat seperti ini Aisyah tak terlihat sebagai seorang dokter, tapi lebih sebagai seorang presdir wanita yang bijaksana dan cerdas.
Jam makan siangnya ia lewatkan bersama para staf di kantin rumah sakit.
Aisyah cukup dekat dengan para stafnya, mereka berbincang dan bercanda di sela waktu rapatnya.
"Dok, ada seorang pria yang ingin bertemu dengan anda!" ucap seorang staf yang mendapat telepon dari bagian resepsionis.
"Siapa? saya tidak ada janji dengan siapapun hari ini!" jawab Aisyah.
"Apa kita perlu menyuruhnya membuat janji lebih dulu dok, dan kembali dilain waktu?" tanya staf itu.
"Tidak perlu, saya akan menemuinya sebentar, kalian segera kembali ke ruang rapat, rapat akan segera kita mulai!" perintah Aisyah, lalu ia berdiri meninggalkan kantin untuk menemui pria yang mencarinya.
"Baik dok" sahut para staf secara bersamaan.
Seorang pria memang sedang menunggu Aisyah di lobi.
'Siapa dia?' Aisyah.
"Assalamualaikum, anda mencari saya?" sapa Aisyah.
"Waalaikumsalam, Aisyah...?" jawab pria itu.
"Siapa anda? anda mengenal saya?" tanya Aisyah kembali, Aisyah sedikit bingung, karena sepertinya pria itu mengenal dekat dirinya.
"Aku akan menjelaskan semuanya, tapi apa kamu ada waktu? aku butuh pertolonganmu?" ucap pria itu.
"Maaf, saya sedang ada rapat sekarang, dan staf saya sudah menunggu di ruang rapat!" ucap Aisyah.
"Tapi pertolongan apa yang bisa saya berikan untuk anda? apa anda terluka? kalau begitu silahkan daftarkan diri anda di bagian pendaftaran! para dokter akan memberikan penanganan kepada anda! saya permisi, Assalamualaikum" ucap Aisyah panjang lebar.
Aisyah lalu meninggalkan pria itu menuju ruang rapat.
'Aisyah....benarkah kau tidak mengenali ku lagi?' Pria itu terlihat frustasi.
Bersambung***
Hai readers jangan lupa read,like & vote ya,,,untuk readers baru jangan lupa juga rate 5 sebagai penyemangat author. Author sangat berterima kasih atas partisipasi kalian semua,semoga kita selalu dalam keadaan sehat Wal'Afiat dan murah rejeki...aamiin
__ADS_1