
Malam itu Aisyah tengah duduk di depan meja riasnya. ia menunggu Bastian yang tengah berada di ruang kerjanya untuk mengerjakan beberapa file. Aisyah menatap lekat wajahnya dalam pantulan cermin,ada rasa bersalah yang besar ketika ia mendapati kenyataan dalam kehidupan rumah tangga suaminya dengan Hafizah.
'Maafkan aku mas,jika aku telah menyebabkan kamu menggali dosa yang besar karena tak bisa memberikan nafkah batin kepada Hafizah,sungguh aku tak bermaksud seperti itu' Aisyah.
Pintu kamar terbuka,tampaknya Bastian telah selesai dengan pekerjaannya. Ia kembali ke kamar karena ada istri tercintanya yang tengah menunggu.
Hafizah berada di kamarnya,entah kenapa saat ini ia seperti tak tenang,ia gelisah. Hafizah memutuskan untuk mengunjungi Abella di kamarnya. Abella sudah tertidur nyenyak. Hafizah memandangi wajah cantik dan lucu Abella. Tak disangka air mata menetes.
"Abella sayang maafin mama nak jika nanti mama harus meninggalkanmu,karena mama Aisyah sudah kembali maka mama akan pergi. Mama tidak bisa terus seperti ini" Hafizah merasakan sakit hati yang berlipat saat harus meninggalkan Abella,bayi yang ia rawat sejak lahir hingga sekarang berumur dua tahun lebih.
Sementara itu di kamar Aisyah.
"Mas,ada yang ingin aku tanyakan padamu" Ucap Aisyah.
"Ya...kenapa sayang?' Bastian memeluk pinggah Aisyah.
"Emmmm...sebelumnya aku minta maaf jika aku harus menanyakan ini padamu" Ada sedikit kekhawatiran di dalam hati Aisyah,ia khawatir Bastian akan marah dan tak mau jujur dengan jawaban yang ingin diketahui Aisyah.
"Iya sayang...ada apa?" Tanya Bastian yang semakin mengeratkan pelukannya.
"Mas,apa benar yang aku dengar bahwa selama ini kamu dan Hafizah tidak pernah tidur satu kamar bahkan makan bersamapun kalian tak pernah?" Tanya Aisyah,namun Bastian hanya terdiam dan tidak menjawabnya.
"Mas,bagaimanapun juga Hafizah itu istri kamu,ia berhak atas semua yang kamu miliki,dan kamu juga berkewajiban menafkahinya lahir dan batin. Kamu tidak boleh seperti ini mas,amu harus memperlakukan kami secara adil!" Ucap Aisyah pajang lebar
__ADS_1
"Aisyah...!!" Bastian seidikit berteriak,sebenarnya ia juga merasa bersalah kepada Hafizah,namun bagaimanapun juga ia benar-benar tak bisa menganggap Hafizah sebagai istriya,ia benar-benar tak bisa membagi cintanya.
Aisyah tertunduk,ia merasa Bastian akan marah.
"Sayang maafin mas,mas tidak bermaksud membentakmu" Ucap Bastian lalu memeluk dan mencium kening Aisyah.
"Mas tau sayang,mas juga merasa bersalah kepada Hafizah,mas tidak bisa menjadi suami yang baik untuk kalian" Tambah bastian.
"Maafkan aku mas,akulah yang meyebabkan kamu dalam posisi ini" Aisyah merasa bersalah,memang dialah yang telah memaksa Bastian dan Hafizah menikah.
"Sungguh aku tidak berniat meyakiti kalian,aku pikir kalian akan hidup bahagia karena kalian masih saling mencintai,aku hanya ingin mengembalikan apa yang telah ku ambil dari Hafizah" Tambah Aisyah.
"Sayang perlu kamu tau,sekarang,saat ini dan selamanya aku hanya mencintai kamu,dan kamu satu-satunya istriku. Mungkin dulu aku dan Hafizah memang saling mencintai,namun itu dulu sebelum kita bertemu. Setelah pertemuan kita maka semuanya berubah,dan aku tak perduli sebesar apa dosa yang telah aku lakukan untuk melindungi cinta ini" Ucap Bastian.
"Lalu apa yang seharusnya kita lakukan untuk Hafizah mas? Aku ingin dia juga bahagia,aku harus menebus dosaku ini,selama dua tahun ia menggantikannku sebagai ibu dari anakku. Ia telah merawat anak dan suamiku dengan baik walau ia tak pernah mendapatkan haknya sebagai seorang istri" Aisyah menyesali perbuatannya dua tahun yang lalu.
"Kita harus melepaskan Hafizah,biarkan dia hidup dengan kebahagiaanya sendiri,aku akan menceraikannya" Ucap Bastian.
"Tapi mas,Allah tidak menyukai adanya perceraian" Kata Aisyah.
"Walapun itu untuk menyelamatkan hidup seseorang? Bahkan menimbulkan dosa untuk orang lain?" Pertanyaan Bastian tak bisa dijawab oleh Aisyah.
"Baiklah mas,tapi sebaiknya kita menanyakannya dulu kepada Hafizah" Aisyah memutuskan untuk mengabulkan apapun yang menjadi keputusan Hafizah.
__ADS_1
Pagi itu sebelum shalat subuh ia berjalan menuju kamar Abella,ia ingin melihat putrinya. Aisyah melihat Hafizah masih terlelap memeluk Abella. Hati Aisyah merasa sakit ia melihat Hafizah yang begitu menyayangi Abella seperti anak kandungnya sendiri.
"Maafkan aku Fizah,karena aku kamu harus seperti ini. Seharusnya kamu hidup bahagia,namun kenyataannya kamu menderita dan itu semua karena aku. Terima kasih atas pengorbananmu selama dua tahun ini" Aisyah berbicara setengah berbisik,iapun menitikan air mata.
"Kak Aisyah.." Seruan Hafizah membuyarkan lamunan Aisyah.
Dengan cepat Aisyah menghapus air matanya.
"Kamu sudah bangun Fizah? Kakak mau shalat subuh dulu" Aisyah tergesa-gesa meninggalkan Hafizah.
Hafizah juga bergegas bangun dan melaksanakan shalat subuh di kamarnya.
Kini semua sudah terbangun dan beraktifitas dengan kesibukan masing-masing. Abella juga sudah selesai mandi,kini Hafizah tengah memakaikan baju Abella dan mengikat rambut indah Abella,namun rambut itu jarang terlihat karena sejak lahir Abella sudah dibiasakan memakai hijab oleh orang tuanya.
Hafizah
***Hai readers jangan lupa read,like & vote ya,,,untuk readers baru jangan lupa juga rate 5 sebagai penyemangat author. Author sangat berterima kasih atas partisipasi kalian semua,semoga kita selalu dalam keadaan sehat Wal'Afiat dan murah rejeki...aamiin
Author minta maaf akhir-akhir ini sering telat upnya dikarenakan sesuatu hal. Mohon readers bisa memaklumi. Sekali lagi terima kasih banyak sudah mampir dan memberikan dukungan kepada author***.
__ADS_1