PENGORBANAN AISYAH

PENGORBANAN AISYAH
JANTUNG REYSA


__ADS_3

Proses hukum telah berjalan, Beny terbukti bersalah dan mendapatkan hukuman 8 tahun penjara, karena kasus penculikan dan percobaan pembunuhan.


Aisyah sangat bahagia mendengar kabar tersebut, kekhawatirannya terhadap keselamatan Bastian berkurang.


"Alhamdulillah mas, kasusnya sudah selesai" ucap Aisyah sambil menyodorkan segelas kopi untuk suaminya.


"Iya sayang, Alhamdulillah...semua ini berkat kamu" jawab Bastian lalu menarik tangan Aisyah agar duduk di sampingnya.


"Semua berkat doa kita yang dikabulkan oleh Allah mas!" kata Aisyah.


"Apapun itu, aku sangat berterima kasih kepada mu sayang, karena kamu kehidupanku berubah jauh lebih baik" Bastian berbicara dengan memegang kedua tangan Aisyah.


Aisyah tersenyum bahagia, kebahagiaan seperti inilah yang ia inginkan setiap hari.


"Ngomong-ngomong Abella sudah besar ya sayang?" Bastian menyindir soal anak.


"Iya mas...aku tau maksud kamu!" Aisyah mencolek hidung Bastian lalu berdiri meninggalkan Bastian.


"Sayang..." Bastian mengejar Aisyah.


Kebahagiaan Aisyah saat ini benar-benar sempurna. Reysa merasa iri menyaksikan kebahagiaan itu.


"Aku jadi iri melihat kalian seperti itu, huh...Hafiz, kapan kita bisa seperti mereka?" gumam Reysa lalu menghela nafas.


Sementara itu di rumah Hafiz. Hafiz sedang duduk memikirkan sesuatu.


'Reysa, benarkah engkau jodohku? kenapa aku masih ragu untuk melangkah lebih jauh' Hafiz.


"Apa yang kamu pikirkan Hafiz?" tiba-tiba abi muncul di belakang Hafiz.


"Eh abi..." Hafiz sedikit terkejut dengan munculnya abi di belakangnya.


"Lakukan Istiqoroh untuk mendapatkan jawabannya!" abi seperti tau apa yang ada di benak putranya itu.


"Baik abi, tapi bagaimana abi tau?" tanya Hafiz.


"Bagaimana abi tak tau semua yang tertulis di wajah putra abi?" jawab abi dengan pertanyaan.


"Lalu bagaimana menurut abi?" Hafiz meminta pendapat abinya.


"Nak, siapapun dia, kita tidak bisa menolak jika memang itu yang ditakdirkan Allah untukmu!" abi akan menerima siapa saja yang akan menjadi calon menantunya.


Di malam harinya, Hafiz melaksanakan shalat Istiqoroh sesuai yang disarankan abi. Ia pun mendapat petunjuk lewat mimpi. Ia bermimpi bertemu bidadari yang membawa sebuah lilin yang menyala, bidadari itu memberikan lilin itu sebagai penerang jalan yang dilalui Hafiz.


Hafiz bisa mengartikan mimpi itu, Reysa memang jodohnya. Bidadari yang membawa sebatang lilin itu adalah Reysa yang datang padanya dengan membawa seberkas cahaya sebagai penerang rumah tangga mereka kelak.


Hafiz sudah memberitahukan kepada abi, hari ini ia akan menemui Reysa untuk membicarakan hubungan mereka.


Sementara itu Reysa sedang berada di rumah Aisyah. Ia sudah menyelesaikan kuliahnya. Reysa berencana melamar pekerjaan di rumah sakit tempat Aisyah bekerja dulu, namun Aisyah menyarankan agar Reysa bekerja di rumah sakit miliknya saja.


Ponsel Reysa berdering dengan nada dering khusus.


"Assalamualaikum" Reysa menjawab panggilan telepon di ponselnya.


"Waalaikumsalam Reysa...apa kamu ada waktu siang ini?" tanya Hafiz.


"Em...sepertinya aku tidak ada acara! Kenapa kak?" Reysa sudah kegirangan saat Hafiz baru menanyakan hal itu padanya.


"Kita makan siang ya? aku tunggu di restoran dekat rumah sakit!" Hafiz memang tidak pandai berbasa basi.

__ADS_1


"Iya kak, aku pasti datang tepat waktu!" jawab Reysa.


Setelah panggilan ditutup, Reysa melompat-lompat kegirangan.


"Yes...yes...yes...!" karena terlalu gembira sampai-sampai Reysa tak sadar, ia melompat-lompat di atas sofa dan akhirnya terpeleset.


"Aw...aduh.." Reysa kesakitan karena terjatuh.


Saat makan siang telah tiba, Reysa sudah sampai di restoran lebih dulu. Ia duduk dengan anggun, menunggu Hafiz datang menemuinya. Reysa mengenakan gamis modern yang dipadukan dengan jilbab pasmina, terlihat cantik elegan.


Sepuluh menit kemudian Hafiz datang, ia melihat ke sekeliling mencari sosok bidadarinya. Senyum mengembang di bibir Hafiz setelah menangkap bayangan yang ia cari. Ia pun berjalan menghampirinya.


"Assalamualaikum Reysa" sapa Hafiz.


"Waalaikumsalam...kak" Reysa terkejut karena tak menyadari kedatangan Hafiz.


"Maaf membuatmu menunggu!" ucap Hafiz.


"Tak apa kak, belum lama juga!" sahut Reysa.


Tiba-tiba Hafiz memberikan buket bunga kepada Reysa. Reysa semakin terkejut, hatinya yang sudah dipenuhi bunga-bunga, kini semakin penuh dengan bunga-bunga yang bermekaran.


Reysa menerima bunga itu dengan senyum bahagia yang luar biasa.


"Terima kasih kak" ucap Reysa lalu mencium bunga itu.


Hafiz menjawab dengan senyuman, lalu ia menarik kursi di depan Reysa untuk duduk.


Keduanya tampak canggung, namun Hafiz memberanikan diri untuk memulai pembicaraan.


"Reysa...eee..." Hafiz mengalami kesulitan untuk memulai pembicaraan.


Tak lama kemudian makanan datang dan dihidangkan di meja.


"Lebih baik kita makan dulu kak, baru nanti bicara" Reysa berharap setelah perutnya kenyang, ia bisa mengontrol perasaan gugupnya di hadapan Hafiz.


"Iya" jawab Hafiz.


Mereka pun makan tanpa suara, masing-masing hanya menunduk menikmati makan siang itu.


'Ya Allah, kenapa jadi gugup seperti ini? rasanya jantungku mau meledak!' Reysa.


'Panas sekali, padahal resto ini full ac. Ah...jantungku, kenapa aku seperti orang jantungan, rasanya susah untuk menelan makanan!' Hafiz.


Masing-masing berdialog dengan hatinya sendiri. Reysa sudah selesai dengan makanannya, namun Hafiz tak mampu menghabiskan makanan itu. Ia terlalu gelisah sehingga seperti tak bisa menelan makanan.


"Kak, gimana kerjaan kamu?" tanya Reysa mengusir kecanggungan.


"Eh...itu, pekerjaanku baik, semuanya lancar" jawab Hafiz.


"Alhamdulillah kalau begitu" sahut Reysa.


"Eem...Reysa, sebenarnya ada yang mau aku tanyakan padamu" Hafiz berusaha keras memulai pembicaraan itu.


"Ada apa kak?" tanya Reysa dengan perasaan yang tak bisa ia ungkapkan.


'Tanyakan saja Hafiz, akan aku jawab dengan kata iya aku bersedia menikah denganmu' Reysa tersenyum dengan pikirannya.


"Reysa...?"ucapan Hafiz menggantung.

__ADS_1


"Ya..." sahut Reysa.


'Maukah kau menikah dengan ku? ayo ucapkan Hafiz..!' Reysa menebak pertanyaan Hafiz dalam pikirannya.


"Maukah kau menikah denganku?" akhirnya kalimat itu keluar dari bibir Hafiz.


'Yes..!' Reysa.


"Kak, kak Hafiz serius?" tanya Reysa dengan seyuman lebar.


"Iya Reysa, aku serius. Selama ini memang aku telah menyukai mu, aku juga tak tau sejak kapan perasaan itu muncul!" jelas Hafiz.


'Aku tak perlu tau sejak kapan itu, yang penting sekarang kamu menyukaiku kak, oh Ya Allah...hatiku rasanya meleleh, jantungku seperti mau meledak! hatiku, jantungku...oh aku mau pingsan!' karena terlalu gembira Reysa benar-benar pingsan.


"Reysa...Reysa...!" Hafiz mulai panik dan menggoncang tubuh Reysa. Ia lalu membopong tubuh Reysa dan membawanya ke rumah sakit tempatnya bekerja.


Keadaan Reysa baik-baik saja, ia hanya sedikit syok dan butuh istirahat. Hafiz merasa lega setelah memeriksa keadaan Reysa.


'Alhamdulillah dia baik-baik saja, sepertinya dia terlalu gembira dengan semua ini' Hafiz tersenyum.


"Dok, apa pasien perlu dipindahkan ke ruangan lain?" tanya Sela asisten Hafiz, karena saat ini Reysa berada di ruang kerja Hafiz.


"Tidak perlu, sebentar lagi dia akan sadar, biarkan dia tetap di sini! Kamu istirahat saja, karena ini masih jam istirahat!" perintah Hafiz kepada Sela.


"Tapi dok..." Sela tak rela jika Hafiz hanya berdua dengan wanita lain di dalam satu ruangan. Terlebih lagi Sela melihat cara Hafiz membawa wanita itu.


"Tak apa Sela, aku akan menunggunya sadar, silahkan kamu lanjutkan istirahatmu!" ucap Hafiz.


" Baik dok" Sela terpaksa meninggalkan ruangan Hafiz dan menuju ruang istirahat untuk para perawat dan dokter.


'Sepertinya dia wanita yang istimewa bagi Hafiz' Sela.


Sela merasa kesal dengan kejadian ini. Ia menghabiskan waktu istirahatnya di ruang istirahat.


Sementara itu di ruangan Hafiz, tidak lama kemudian Reysa sadar. Ia membuka matanya perlahan, melihat ke sekeliling ruangan itu.


"Dimana ini?" Reysa bergumam.


"Kamu sudah sadar?" suara Hafiz mengejutkan Reysa.


"Eh...kak..." Reysa berpikir apa yang terjadi.


"Kamu tadi pingsan usai makan siang!" Hafiz memberitahu yang terjadi pada Reysa sambil berjalan mendekat ke arah Reysa.


'Oh iya, ah...aku belum menjawab pertanyaan Hafiz tadi' Reysa.


"Kak, soal tadi..." Reysa belum menyelesaikan kalimatnya.


"Kamu tidak harus menjawabnya sekarang, kamu masih punya banyak waktu untuk memikirkan!" jelas Hafiz.


"Yei kak Hafiz, justru pertanyaan ini yang sudah aku tunggu selama ini!" Reysa berbicara blak-blakan, jiwa agresifnya kembali.


"Aku bersedia menikah kak Hafiz, dan aku bahagia dengan keputusanku ini!" jawaban Reysa membuat Hafiz lega dan tersenyum malu.


"Benarkah?" tanya Hafiz. Reysa mengangguk dengan mantap.


"Baiklah aku akan membicarakan ini dengan Bastian dan ayahmu, dalam waktu dekat keluargaku akan datang untuk melamarmu." Ucap Hafiz. Keduanya diselimuti dengan senyum bahagia. Mereka merasa lega, karena semuanya sudah diungkapkan dan sesuai yang diharapkan.


Hai readers jangan lupa read,like & vote ya,,,untuk readers baru jangan lupa juga rate 5 sebagai penyemangat author. Author sangat berterima kasih atas partisipasi kalian semua,semoga kita selalu dalam keadaan sehat Wal'Afiat dan murah rejeki...aamiin

__ADS_1


__ADS_2