
Bulan demi bulan telah berlalu, namun Nicolas tak pernah kembali. Orang tua Nicolas langsung terbang ke Indonesia setelah mendapat kabar tentang kecelakaan putranya itu, kini mereka sudah kembali ke Amerika membawa duka.
Hafizah benar-benar putus asa, ia tak tau lagi harus berbuat apa. Ia pun tak bisa lagi menata masa depannya, waktu demi waktu ia jalani begitu saja tanpa sebuah rencana.
Hari itu Bastian melakukan perjalanan bisnis ke luar kota. Ia membawa serta Romi sebagai sekertarisnya. Perjalanan jauh yang melelahkan membuat keduanya langsung tertidur saat sampai di penginapan.
Aisyah selalu berdoa untuk keselamatan suaminya dimanapun dan kapanpun.
Perusahaan Bastian berkembang semakin pesat, ia akan membuka lokasi tambang baru di sebuah pulau.
Saat itu ia sedang meninjau lokasi bersama Romi dan orang-orang yang bekerja sama dengannya. Mobilnya melaju melewati pedesaan dan hutan.
Seseorang sedang menjelaskan letak lokasi tersebut.
"Di sini nantinya penggalian akan di lakukan pak. Untuk penginapan karyawan dan worksop di lokasi sebelah sana" ucap seseorang yang sedang menjelaskan letak lokasi.
Bastian mengangguk-anggukan kepalanya, tanda mengerti tentang hal yang mereka bicarakan.
Mereka berjalan kaki menyusuri lokasi tersebut sambil membicarakan pekerjaan itu.
Ada sepasang mata yang memperhatikan Bastian. Bastian tak menyadarinya. Setelah pekerjaan selesai Bastian dan rekan-rekannya kembali ke penginapan.
"Rom, bisa buatkan kopi untuk ku?" tanya Bastian,menginginkan secangkir kopi.
"Oke bos" Romi berjalan menuju dapur untuk membuat secangkir kopi.
Sementara itu Bastian yang berada di ruang tengah merasa gerah.
'Panas sekali, sepertinya aku harus mandi' Bastian. Ia pun kemudian berjalan menuju kamar.
Setelah selesai mandi Bastian mengenakan baju santai, ingin kembali ke ruang tengah untuk minum kopi bersama Romi. Ponsel Bastian berdering tanda panggilan masuk.
"Ahhh...kenapa aku jadi lupa menghubunginya? celaka ini!" ucap Bastian saat melihat layar ponselnya dan mengetahui siapa yang menelepon.
"Assalamualaikum sayang" Sapa Bastian.
"Mas, kamu sedang apa? kenapa dari kemarin belum ada menghubungi aku? kamu sudah makan? kamu baik-baik saja kan?" rentetan pertanyaan Aisyah membuat Bastian bingung harus dari mana menjawabnya.
__ADS_1
"Maaf sayang, Mas lupa...hehehe...!" Bastian tidak punya alasan.
"Kebiasaan kamu mas, kalau sudah kerja pasti lupa semuanya!" Aisyah.
"Iya, mas minta maaf. Mas baru saja sampai dari survey lokasi, mas sudah makan, mas baik-baik saja dan sekarang lagi siap diomeli tuan putri" Bastian.
"Ahh bisa saja kamu mas" Aisyah.
Mereka pun tertawa bersama menertawakan pembicaraan mereka di telepon itu. Bastian bejalan ke taman belakang penginapan sambil berbicara di telepon dengan Aisyah.
Sebuah taman luas dengan sebuah kolam renang dan kursi yang berjajar di pinggir kolam renang itu.
Bastian tidak menyadari sepasang mata yang mengintainya sejak berada di lokasi tambang tadi.
Bastian berbincang dengan istrinya di telepon. Datanglah seorang pria membawa ember berisi air dan kain pel. Kaki pria itu tersandung dan air dalam ember pun tumpah mengenai celana Bastian.
"Astagfirullah..." ucap Bastian terkejut.
"Maaf pak, maaf saya tidak sengaja" jawab pria itu.
"Iya pak, tidak apa-apa saya hanya terkejut, maaf" Bastian merasa tak enak dengan orang itu.
Bastian beranjak ke kamarnya untuk mengganti pakaiannya. Romi sudah menunggunya di ruang tengah.
"Ada apa Bas?" tanya Romi melihat Bastian berlalu kembali ke kamar.
Bastian berpaling menghadap ke arah Romi dan menunjuk bagian celananya yang basah.
Bastian telah selesai dengan urusan celananya, ia kembali menemui Romi.
"Kenapa celanamu jadi basah, kamu kecebur kolam?" pertanyaan Romi sedikit meledek.
"Enak saja kamu" Bastian.
Bastian kemudian menceritakan yang dialaminya kepada Romi. Romi merasa ada yang aneh, namun ia tak tahu apa itu.
Malam telah tiba, malam ini adalah malam kedua Bastian berada di luar kota. Aisyah gelisah, entah kenapa malam ini ia tak bisa tidur, tidak seperti malam sebelumnya.
__ADS_1
Aisyah berniat menyusul Abella di kamarnya. Ia ingin tidur bersama putrinya, mungkin itu bisa membuatnya lebih tenang.
Namun tetap saja, matanya tetap terjaga sepanjang malam. Ia mengambil air wudhu kemudian melaksanakan shalat malam. Sampai matanya benar-benar lelah untuk terjaga, Aisyah baru tertidur.
Di penginapan, Bastian telah tertidur lelap karena badannya terasa capek. Penginapan yang ditempati Bastian adalah penginapan perusahaan bukan hotel. Penginapan yang sengaja dibangun untuk para tamu perusahaan.
Romi dan Bastian tentunya tidur di kamar terpisah. Ada seseorang yang menyelinap di kamar Bastian.
'Bastian, hidupmu selalu dipenuhi keberuntungan. Karir yang semakin maju, istri yang cantik, kekayaan yang berlimpah, tapi aku pastikan semua itu akan menghilang dari kehidupanmu' seseorang itu tersenyum jahat.
Orang itu mendekat ke tempat tidur Bastian, ia akan berbuat jahat kepada Bastian. Namun ketika tangannya hendak menyentuh tubuh Bastian, tiba-tiba Bastian terjaga karena ia sedang mimpi buruk. Seketika orang itu terkejut dan melarikan diri. Bastian melihat banyangan yang melintas di depan jendela kamarnya, dan jendela terbuka.
"Hah, siapa itu?" Bastian beranjak dari tempat tidurnya dan berlari mengejar bayangan itu. Namun orang itu berhasil lolos.
Bastian gelisah, kunjungan kerjanya baru selesai hari ini. Itu berarti dia harus menginap satu malam lagi di tempat ini.
"Ahh tidak, aku harus kembali hari ini juga!" ucap Bastian sambil mondar-mandir di depan tempat tidurnya.
Pagi pun tiba, ia segera melaksanakan shalat subuh, setelah itu mempersiapkan dirinya untuk pertemuan hari ini. Ia ingin semua segera selesai dan kembali ke rumahnya, ia khawatir dengan anak dan istrinya di rumah.
"Wahhh, tumben sekali kamu Bas! Ada angin apa?" ledek Romi saat masuk ke kamar Bastian dan melihat Bastian sudah rapi sepagi ini.
"Kita harus menyelesaikan semua ini secepatnya, dan kembali hari ini juga!" ucap Bastian.
"Kenapa tiba-tiba Bas? oh...apa kamu sudah terlalu merindukan Aisyah?" ledek Romi lagi.
"Tadi malam aku melihat ada yang menyelinap ke kamar ku, tapi sejujurnya memang iya, aku sangat merindukan Aisyah ku...!" Bastian membalas ledekan Romi, karena Romi belum mempunyai seorang istri.
"Bas aku mohon jangan biarkan jiwa jomblo ku meronta...hahaha..." Mereka tertawa bersama.
Dua sahabat itu selalu kompak baik dalam candaan ataupun pekerjaan. Mereka benar-benar menyelesaikan pekerjaan secepat mungkin dan langsung kembali setelah semua selesai.
Saat di perjalanan pulang, tiba-tiba mobil mereka di hadang sekelompok orang. Dalam perkiraan Bastian, orang-orang tersebut adalah segerombolan perampok.
Bersambung...
Untuk para readers semoga kalian suka ya....
__ADS_1
Jangan lupa like komen positif dan votenya
Author sangat berterima kasih atas semua dukungan kalian,tanpa kalian author bukan apa-apa,,,thanks!!! Love you readers!!!