
Berita tentang kembalinya Nicolas, calon suami Hafizah itu sudah didengar oleh banyak orang.
Hafizah merasa tak enak hati kepada Romi, Karena Romi juga pernah melamarya. Ia berencana meminta maaf dan menjelaskan apa yang terjadi.
Hari-hari Hafizah menjadi cerah kembali, bibirnya selalu dihiasi dengan senyuman. Kesetiaannya menunggu Nicolas kembali tak sia-sia. Di saat semua orang sudah putus asa dengan keselamatan Nicolas, ia tetap percaya Nicolas selamat dan setia menunggunya kembali.
Pernikahan Hafizah dan Nicolas sudah direncanakan kembali.
Siang ini ia akan menemui Romi di kantor. Semenjak Nicolas kembali, Hafizah memang tak pernah bertemu dengan Romi. Romi seperti menghindar dari Hafizah.
Hafizah meminta bantuan Bastian agar dapat menemui Romi.
"Jadi kakak harus menahan Romi di ruangannya, aku yang akan membawakan makan siang untuk kalian" ucap Hafizah kepada Bastian di telepon.
"Baiklah, tenang saja, serahkan semua pada ku!" jawab Bastian.
Jam makan siang telah tiba, Hafizah menunggu makanan yang sudah di pesannya di resto pesan antar. Tak lama kemudian kurir yang membawa makanannya datang. Ia segera membayar dan membawa makanan itu ke ruangan Romi.
Rencana semakin sempurna ketika Aisyah datang. Sebelumnya Bastian memang telah memberitahukannya kepada Aisyah. Aisyah juga membawa makan siang untuknya dan suaminya.
Di ruangan Romi
Romi tampak muram, tak ada yang bisa disalahkan. Ia hanya sedih cintanya bertepuk sebelah tangan, ditambah lagi cinta pertamanya akan menjadi milik orang lain.
'Kenapa aku jadi seperti ini?' Romi tersenyum mengingat kesedihan yang tak seharusnya itu.
Bastian masuk ke dalam ruangan Romi.
"Rom, apa kamu ada janji makan siang?" pertanyaan Bastian membuat Romi terkejut.
"Astagfirullah..." ucap Romi terkejut dan memegang dadanya.
"Hey...! memangnya kamu tidak bisa mengetuk pintu sebelum masuk?" Romi kesal dengan kelakuan Bastian.
"Kenapa...? ini kan kantorku, di sini kan aku bosnya!" Bastian menyombongkan diri di depan Romi dengan candaan.
"Ahh...terserah! ada apa kamu kemari?" tanya Romi.
"Aku mau mengajakmu makan siang" jawab Bastian ketus.
"Hah...bukannya kamu selalu makan siang dengan Aisyahmu? dan makan siang denganku jika ada sesuatu." Ucap Romi.
"Benar! dan kali ini memang ada sesuatu. Aisyah datang kemari dengan terlalu banyak makanan, jadi kami pikir kami tidak akan sanggup menghabiskannya tanpa mu" ledek Bastian.
__ADS_1
"Kamu pikir aku tukang menghabiskan makanan?" Romi kesal.
"Ya...itu kan kamu yang bicara bukan aku" jawab Bastian lagi.
Pintu ruangan Romi diketok, tampak Aisyah sudah berdiri di depan pintu.
"Boleh saya masuk?" tanya Aisyah basa basi.
"Eh sayang...?" Bastian berjalan menyambut kedatangan Aisyah.
"Assalamualaikum sayang" ucap Aisyah dibarengi kecupan di pipi dan keningnya dari Bastian.
"Waalaikumsalam" jawab Bastian dengan tersenyum lalu bibirnya mendarat singkat di bibir Aisyah.
"Ciih.." Romi geram.
"Ya...teruskan saja kalian pamer kemesraan di depan ku, nanti jika aku berpikiran kotor kalian juga kebagian dosanya" ucap Romi kesal selalu disuguhi kemesraan setiap kali Aisyah dan Bastian bersama.
"Makanya jangan jadi jomblo sejati, cepatlah cari pengantinmu! agar kamu tak merasa iri dengan kami" jawab Bastian.
Aisyah hanya tersenyum melihat tingkah mereka, ia kemudian menutup bibir Bastian dengan jarinya, pertanda menyuruh Bastian diam dan menghentikan perdebatan dengan sahabatnya itu.
Aisyah meletakkan makanan yang ia bawa di atas meja dengan dua sofa panjang dan pendek.
"Assalamualaikum" ucap Hafizah.
"Waalaikumsalam" jawab semua yang ada di dalam.
Romi terkejut mendengar suara yang sangat ia kenali, hatinya berdebar.
'Hafizah...?' Romi.
"Eh...Fizah kamu sudah datang? kemarilah! aku sengaja mengajak mu makan siang bersama karena aku pikir makanan ini terlalu banyak untuk kami bertiga" ucap Aisyah yang sedang menyusun makanan di piring yang sudah ia ambil dari dapur kantor.
Makanan yang tadinya dipesan Hafizah sudah dibawakan Aisyah. Mereka makan bersama di ruangan Romi.
Romi tampak canggung di depan Hafizah. Selesai makan Aisyah dan Bastian berpamitan kembali ke ruangannya.
"Rom, aku merasa tidak enak hati jika harus pamer di depan mu lagi! lebih baik aku dan Aisyah kembali ke ruanganku saja. Kalian jangan berbuat dosa di sini ya!" ucap Bastian meledek Romi lagi. Kemudian ia dan Aisyah meninggalkan Romi dan Hafizah berdua.
Hafizah hanya tersenyum menanggapi candaan Bastian, dan Romi mendengus kesal.
Suasana hening beberapa saat.
__ADS_1
"Rom..."
"Fizah..."
Tanpa sengaja mereka memanggil secara bersamaan. Suasana tampak canggung, lalu Romi mengalah untuk mendengar perkataan Hafizah lebih dulu.
"Rom, aku minta maaf! maafkan aku!" ucap Hafizah lalu menunduk.
"Kenapa Fizah? apa yang harus ku maafkan dari mu?" tanya Romi dengan menatap Hafizah.
"Maafkan aku! hanya itu yang bisa aku ucapkan Rom, aku terlalu banyak menyakiti mu, aku, aku..." Hafizah tak sanggup meneruskan kalimatnya.
"Cukup Fizah! tak perlu ada yang dimaafkan. Semua bukan salahmu! mungkin aku saja yang terlalu berharap lebih kepada mu" ucap Romi.
"Tidak Rom, semua salahku! mungkin aku terkesan memberikan harapan kepadamu, jadi bukan salahmu jika kamu berharap!" ucap Hafizah lagi.
"Aku tidak bisa menjadi pendamping hidupmu" akhirnya kalimat itu bisa keluar dari bibir Hafizah.
Romi hanya tersenyum, ia sudah mengetahui semuanya.
Hafizah sedikit bingung, kenapa Romi tak terkejut sedikitpun, bahkan ia malah tersenyum.
"Fizah, lupakan saja semuanya! anggap saja aku tak pernah memintamu untuk itu. Aku hanya ingin kamu bahagia, lebih baik melihat mu bahagia bersama orang lain daripada melihatmu menderita dan menangis di dekapanku" tanpa sadar Romi menitikan air mata, cintanya kepada Hafizah memang sudah terlalu dalam, tapi apa boleh buat ia hanya ingin melihat Hafizah bahagia.
"Terima kasih Rom" Hafizah juga dibanjiri air mata, ia terharu melihat kelapangan hati Romi yang mau melepaskannya, hanya karena ingin melihat ia bahagia.
Romi mengangguk dan tersenyum.
"Ee...maafkan aku!" Romi segera menghapus air matanya dengan tisu. Lalu mengambil beberapa lembar tisu lagi untuk diberikan kepada Hafizah.
"Terima kasih" ucap Hafizah menerima tisu dari Romi dan segera menyapukan tisu itu untuk menghapus air matanya.
"Rom, aku mohon, aku mau kita tetap bersahabat seperti biasanya, aku akan sangat merasa bersalah jika kamu menghindar dari ku!" ucap Hafizah.
"Baiklah! kamu tenang saja, aku akan tetap di sampingmu sebagai sahabat!" sahut Romi.
"Janji...?" tanya Hafizah.
"Iya...!" jawab Romi.
'Maafkan aku Hafizah, aku hanya bisa berjanji untuk menjadi sahabatmu tapi aku tidak bisa berjanji untuk selalu di sampingmu. Aku akan pergi jauh darimu untuk membuang rasa ini, dan entah sampai kapan rasa ini akan hilang, sampai saat itulah aku baru bisa kembali, bahkan jika rasa ini tak kunjung hilang ada kemungkinan aku tak akan kembali' Romi.
Mereka lalu berpisah setelah Hafizah membereskan bekas makan siang di ruangan Romi. Hafizah kembali ke ruangannya, karena tak terasa jam istirahat sudah hampir habis.
__ADS_1