
Hari yang ditunggu-tunggu telah tiba, hari yang dinantikan sepasang mempelai dengan penuh debaran. Hari dimana dua insan disatukan dalam sebuah ikatan yang sah di hadapan Sang Khaliq. Hari yang kemungkinan akan terjadi hanya sekali seumur hidup.
Persiapan untuk pernikahan dua pasang pengantin sudah seratus persen. Dua pengantin wanita tengah berada di ruang make up.
Pernikahan Hafizah dan Hafiz diselenggarakan secara bersamaan. Pak Abdullah benar-benar merasa bahagia, kini kedua anaknya sudah sampai pada masa itu. Tugas Pak Abdullah sebagai seorang ayah sudah terpenuhi semua dengan menikahkan putrinya dan memberi bekal iman kepada putranya sebagai calon kepala rumah tangga.
Setelah para mempelai wanita selesai dengan urusan make up, Hafizah dan Reysa Keluar dari ruang make up.
Ijab qabul sudah diucapkan oleh masing-masing mempelai pria. Semua tamu undangan turut berbahagia.
Semua keluarga dan teman dekat berkumpul untuk memberikan ucapan selamat kepada kedua pasang pengantin itu.
"Alhamdulillah sayang, akhirnya Hafizah dan kak Hafiz menemukan pelabuhan hati mereka" ucap Aisyah.
"Iya sayang, tapi dari tadi aku belum melihat Romi, kemana dia?" Bastian baru menyadari ketidakhadiran Romi di acara itu.
"Iya mas...!" jawab Aisyah.
Setelah acara ijab qabul dan menerima ucapan selamat dari kerabat dekat, akan langsung dilanjutkan dengan acara resepsi.
Kedua pasang mempelai sudah mengenakan gaun pengantin khusus untuk resepsi, keempatnya berdiri di pelaminan yang sama. Kecantikan kedua pengantin wanita tidak bisa dibandingkan, keduanya sama-sama cantik luar biasa.
Pengantin pria pun juga tak kalah, keduanya tampak tampan dan gagah sesuai karakter masing-masing.
Kebahagiaan pak Doni dan istri seperti tidak tertakar lagi, putra dan putri mereka mendapatkan pasangan yang luar biasa. Tidak hanya paras yang cantik dan tampan, kedua menantunya juga orang yang soleh dan solehah. Aisyah dan Hafiz adalah sosok menantu yang luar biasa bagi keduanya.
Di sudut ruangan tampak seorang Sela sedang menatap pasangan pengantin yang duduk di pelaminan.
Sela sangat kecewa dengan yang terjadi, selama ini ia menyukai Hafiz dan berusaha mendekatinya. Namun Hafiz selalu menghindar dan tak memberinya kesempatan.
'Awas saja kamu Hafiz, aku tidak akan membiarkan kalian bahagia!' Sela.
__ADS_1
Tatapan benci tidak bisa disembunyikan dari mata Sela.
Sela merencanakan sesuatu yang buruk kepada Hafiz dan Reysa. Ia meninggalkan pesta dan keluar melalui pintu belakang, menuju sebuah taman yang di lengkapi dengan sebuah kolam renang di gedung itu.
Sela melihat seseorang yang duduk dengan posisi menunduk di taman. Ia hanya melihat sekilas orang itu.
Sela berjalan kemudian duduk di salah satu kursi taman yang sedikit jauh dari pria itu. Ia memikirkan cara untuk menghancurkan kebahagiaan Hafiz dan Reysa.
'Jika aku tak bisa memilikimu maka Reysa pun juga tidak boleh memilikimu! aku sudah cukup sabar dalam mendekatimu selama ini, aku tidak akan membiarkan wanita mana saja berada di sampingmu' Sela.
Sela tersenyum jahat, mendapatkan cara untuk menghancurkan pesta ini. Ia juga sudah mendapatkan cara menghancurkan rumah tangga Hafiz. Ia sudah bertekad untuk menghancurkan siapa saja yang berusaha merebut kebahagiaannya.
"Oke...kita akan mulai dari sini" Sela kemudian berjalan kembali masuk ke dalam gedung.
Romi sedang duduk menyendiri menata hati menyaksikan kebahagiaan orang yang dicintainya, ia melihat gerak gerik mencurigakan dari seorang wanita yang baru saja masuk ke dalam gedung. Romi pun mengikuti wanita itu.
Di tempat pesta, Bastian dan Aisyah berkeliling mencari keberadaan Romi. Mereka khawatir Romi akan berbuat aneh karena belum bisa menerima kenyataan ini.
"Aku juga tidak tau sayang! kita coba cari ke taman" Bastian dan Aisyah berjalan menuju taman. Namun mereka tetap tidak menemukan Romi.
Para pelayan berjalan kesana kemari membawa makanan dan minuman. Menambahkan makanan dan minuman yang sudah kosong di meja.
Seorang pelayan membawa dua gelas minuman dan berjalan menuju tempat dimana pasangan Hafiz dan Reysa berdiri.
"Tunggu!" Romi memanggil pelayan itu.
Romi berusaha menghentikan pelayan itu agar tidak memberikan minuman kepada Hafiz dan Reysa.
Namun pelayan itu sudah berdiri di depan Hafiz dengan dua gelas minuman.
"Romi" ucap Hafiz lirih.
__ADS_1
"Jangan diminum!" tegas Romi kepada Hafiz yang akan mengambil minuman itu.
Hafiz dan Reysa bingung dengan maksud Romi. Tiba-tiba Hafizah datang dan langsung meraih gelas minuman yang dibawa pelayan.
"Kalian kenapa?" tanya Hafizah.
Romi segera berjalan mendekat ke arah Hafizah kemudian meraih gelas di tangan Hafizah dan Reysa. Tanpa pikir panjang ia langsung meneguk habis dua gelas minuman itu.
"Romi...apa kamu kehausan...?" ledek Hafizah.
Hafiz dan Reysa juga bingung dengan tingkah Romi.
"Aku tidak akan membiarkan siapapun merusak kebahagiaan kalian, terutama kebahagiaanmu Fizah" ucap Romi.
"Memangnya siapa yang mau merusak kebahagiaanku Rom?" tanya Hafizah dengan tersenyum.
Hafizah merasa tingkah Romi sangat aneh.
'Apa Romi masih belum bisa menerima kenyataan ini? kenapa tingkahnya begitu aneh? apa dia mabuk?' Hafizah.
Selama ini Hafizah selalu berhasil mencegah Romi berbuat nekat, ia tak mau terjadi sesuatu kepada Romi.
"Ehh...tidak ada, mungkin hanya perasaanku saja, kalian harus bahagia!" ucap Romi kemudian membalikan badan meninggalkan Hafizah, Hafiz dan Reysa.
"Ada sesuatu yang tidak beres!" ucap Hafiz.
"Ada apa sayang?" tanya Reysa.
Hafizah masih menatap kepergian Romi, tiba-tiba Romi pingsan saat berjalan. Hafizah sontak berlari menghampiri Romi.
"Romi..." teriak Hafizah.
__ADS_1
Semua orang melihat ke arah suara Hafizah. Nicolas yang sedang bercengkerama dengan kedua orang tua dan mertuanya juga melihat ke arah suara istrinya itu. Ia melihat Hafizah mengguncang tubuh Romi yang berada di pangkuannya, karena Hafizah berhasil meraih tubuh Romi sebelum jatuh ke lantai.