
Akibat kecelakaan itu, Pak Doni dan keluarga harus tinggal di rumah Bastian untuk sementara waktu sampai kesehatan mereka pulih.
Bu Diana senang sekali akhirnya putra suaminya itu bisa menerimanya dengan hati terbuka, semua berkat Aisyah. Aisyahlah yang telah meluluhkan hati Bastian menjadi lembut. Hari-hari Bu Diana disibukkan dengan Abella, ia senang sekali mempunyai cucu yang cantik, pintar, dan menggemaskan.
Reysa adik tiri Bastian kurang suka tinggal di rumah Bastian. Ia kesepian, setiap hari seisi rumah itu sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing. Ia juga tak mempunyai teman di daerah itu.
Pak Abdullah juga sering mengunjungi Pak Doni dan keluarganya di rumah Bastian.
Hari itu kesehatan mereka sudah berangsur pulih. Rencananya lusa mereka akan kembali ke rumah Pak Doni. Dan hari ini Pak Doni mengajak anak dan istrinya untuk berkunjung ke pesantren Al Amin milik Pak Abdullah. Namun Reysa menolak untuk ikut, sebelum papa dan mamanya berangkat, ia lebih dulu keluar, ia akan jalan-jalan mengunjungi tempat-tempat yang ia inginkan di kota itu. Reysa pergi menggunakan taksi online yang sudah ia pesan. Ia terlebih dulu menuju pusat perbelanjaan. Ia ingin membeli beberapa barang keperluannya.
"Huh...akhirnya aku bisa melarikan diri dari papa dan mama,sepertinya di sini lebih baik daripada harus pergi ke pesantren bersama mereka" Reysa berbicara sendiri saat ia turun dari taksi tersebut.
Reysa berjalan masuk ke pusat perbelanjaan, ia menuju tempat penjualan kosmetik dan pakaian wanita. Selesai memilih dan membayar barang belanjaannya, ia dengan susah payah membawa barang-barang tersebut.
"Ahh...kenapa setiap kali belanja aku seperti orang kesurupan begini?" Reysa baru menyadari ia membeli barang begitu banyak sehingga susah untuk membawanya sendirian.
Tangan kanan dan kiri Reysa penuh dengan tas belanja. Ia berjalan menuju sebuah meja dengan dua kursi yang terletak di sudut ruangan itu. Berharap bisa istirahat sejenak dengan menikmati semangkuk es krim.
Sementara itu di rumah sakit tempat Hafiz bekerja,Hafiz telah selesai menangani pasien-pasiennya. Ia masih duduk di kursi kerjanya.
"Alhamdulillah hari ini tak begitu banyak pasien,berarti mereka semua dalam keadaan sehat, bukan begitu?" Hafiz berbicara dengan Sela yang kini dipindahkan menjadi asistennya Hafiz,karena asisten Hafiz yang sebelumnya telah berhenti bekerja akibat kecelakaan.
"Iya dok, Alhamdulillah" ucap Sela.
Sela senang sekali ketika dipindahkan menjadi asisten dokter untuk Hafiz,karena dari awal pertemuannya dengan Hafiz, ia sudah mengagumi sosok Hafiz yang cerdas, tampan, dan sholeh.
Tiba-tiba ponsel Hafiz berdering.
'Hah...ponsel dokter Hafiz,siapa yang menghubunginya?' Sela penasaran.
"Assalamualaikum abi" ucap Hafiz,ternyata panggilan dari abinya.
__ADS_1
'Oh...ternyata calon mertua ku' Sela sedikit konyol dan senyum-senyum sendiri.
"Oh iya abi hari ini Hafiz kosong"
"...."
"Baik,Hafiz akan pulang sebentar"
'Hah...pulang...?' Sela.
"..."
"Iya abi"
"..."
"Waalaikumsalam"
Panggilan telah ditutup.
"Iya dok, dokter mau pulang sebentar ya?" jawab Sela dan balik bertanya.
"Iya ada hal yang harus saya urus" jawab Hafiz dengan tersenyum. "Jika ada sesuatu cepat hubungi saya" pesan Hafiz.
"Baik dok" jawab Sela.
Hafiz pun berjalan meninggalkan ruangannya dan menuju tempat parkiran rumah sakit.
Hafiz mampir ke pusat perbelanjaan untuk membeli sesuatu yang dipesan abinya tadi. Ia masuk dengan terburu-buru dan sesekali melihat ke arah jam tangannya untuk memastikan waktu yang ia butuhkan, ia tak mau abinya menunggu terlalu lama. Tiba-tiba ada yang menabraknya, tas belanja berserakan di lantai dan kemejanya kotor terkena tumpahan es krim.
"Maaf nona..!" ucap Hafiz lalu membantu memungut belanjaan tersebut.
__ADS_1
"Kamu jalan tidak pakai mata ya,harusnya lari sambil merem aja sekalian!" Reysa marah dengan pria yang menabraknya itu.
"Maaf, maafkan saya..." ucap Hafiz lagi.
'OMG...tampan sekali dia, benar-benar pangeran dari surga' Reysa bengong ketika melihat ketampanan Hafiz.
"Ehmm...Kalo semua masalah bisa selesai dengan kata maaf, buat apa ada hukum dan polisi di negara ini?" Reysa berbicara sedikit gugup tetapi tetap berpura-pura marah.
"Sekali lagi saya minta maaf,saya sedang terburu-buru" ucap Hafiz kemudian ingin meninggalkan gadis itu.
"Hey tuan,urusan kita belum selesai" seru Reysa yang membuat langkah Hafiz berhenti.
"Lalu apa mau anda?" tanya Hafiz yang tak mau meladeni masalah kecil ini.
"Biarkan saya bertanggung jawab atas perbuatan saya!" ucap Reysa sambil membersihkan kemeja Hafiz dengan sapu tangannya.
Reysa memang gadis yang sedikit manja dan blak-blakan. Ia cantik namun tak berhijab, meskipun begitu penampilannya tetap dibatasan sopan.
"Tidak perlu nona,saya bisa membersihkan sendiri" Hafiz menolak Reysa yang mengusap kemejanya,ia merasa risih karena memang tak pernah ada wanita yang seberani Reysa untuk menyentuhnya.
"Baiklah, bersihkan pakai ini!" Reysa memberikan sapu tangannya.
"Dan anda juga harus bertanggung jawab atas kesalahan anda" tambah Reysa.
"Apalagi yang nona inginkan,bukannya nona baik-baik saja" Hafiz mulai hilang kesabaran,ia merasa dipersulit oleh gadis itu.
"Berikan kartu nama anda! saya akan memikirkan hukuman untuk anda dan menghubungi anda jika sudah memutuskan" Reysa sepertinya mencari alasan, ia ingin mengenal pria itu lebih jauh.
"Hehh...bilang saja anda mau mengenal saya" ucap Hafiz menyodorkan kartu namanya dan melangkah pergi meninggalkan Reysa.
Pipi Reysa memerah, ia ketahuan. Ia membaca kartu nama itu.
__ADS_1
'Ohh...jadi dia seorang dokter dan namanya Hafiz' Reysa senyum-senyum sendiri.
Hai readers jangan lupa read,like & vote ya,,,untuk readers baru jangan lupa juga rate 5 sebagai penyemangat author. Author sangat berterima kasih atas partisipasi kalian semua,semoga kita selalu dalam keadaan sehat Wal'Afiat dan murah rejeki...aamiin