Pengorbanan Terakhir Istri Kedua Sang CEO

Pengorbanan Terakhir Istri Kedua Sang CEO
AWAL


__ADS_3

Di jalanan yang cukup sepi, terik matahari mulai meninggi. Tanda bahwa hari sudah siang.


Farida gadis manis penjual kue keliling, tiba-tiba melihat seorang pria tampan berjas sedang mengotak-atik mesin mobilnya, pria tampan itu tampak sudah kelelahan di tandai keringat yang keluar dari pori-pori wajahnya.


Karena kasihan kepada pria itu, Farida mendekati nya dan berniat ingin membantu.


"Ini," Farida menyodorkan air mineral kepada pria tampan itu.


Pria tampan itu mendongak kan wajahnya. "Terimakasih," kata pria itu sambil menerima air mineral pemberian Farida.


"Mobilnya mogok, om?" tanya Farida.


"Hmm," pria tampan itu hanya ber hmm sambil membuka botol air mineral itu.


"Farida bantu ya," kata Farida.


"Memang kamu bisa?" tanya pria itu.


"Bisa bantu do'a dan dorong! Hee," kata Farida lalu nyengir.


"Bengkel sekitar sini masih jauh gak sih?" tanya pria itu lagi.


"Lumayan," kata Farida "Oiya, om udah makan siang blum?" Sambung Farida.


"Belum." timbal Pria itu.


Mendengar pria itu belum makan, Farida mengeluarkan isi keranjang kue yang ia bawa. Lalu memberikan sebungkus nasi kepada pria itu.


"Apa ini?" tanya pria itu.


"Nasi buat om," kata Farida.


Pria itu memang sudah sangat lapar, terlebih lagi sejak pagi memang ia belum makan apa pun.


Ia menerima bungkusan nasi itu, lalu membuka pintu mobil bagian belakang.


"Sini," ajak pria itu pada Farida.


"Aku?!" Farida menunjuk pada dirinya sendiri.


"Iya, siapa lagi! Memang ada orang lain disini," kata Pria itu sambil mendudukan bokongnya di jok mobilnya.


Farida pun ikut mendekat kepada pria itu itu dan ikut mendudukkan bokongnya di jok mobil yang ada di samping pria itu.


Pria tampan itu membuka bungkusan nasi yang di berikan Farida, ia tersenyum saat melihat isi yang ada di dalam bungkusan itu.


"Nasi ini kamu berikan sama saya, memang nya kamu sudah makan?" tanya pria itu pada Farida.


"Om tenang aja, Farida belum laper kok," kata Farida berbohong, padahal ia juga belum makan siang.


Pria itu mulai memakan nasi dengan lauk telur balado dan orak arik tempe.


"Hmmm, enak! Saya sudah lama tidak memakan masakan seperti ini, terakhir saat umur saya masih 16 tahun waktu itu mama saya masih hidup," kata pria itu dengan mulut penuh.


"Pelan-pelan makannya, Om. Nanti tersedak!" Farida memperingati.

__ADS_1


Pria itu memperlambat makannya, Kini sendokan ke lima yang akan masuk kedalam mulutnya.


Namun tiba-tiba.


Krukk,,!! Perut Farida berbunyi.


"Kamu bohong!" kata pria itu sambil meletakan sendok yang ia pegang.


"Hee, saya bohong. Tapi cacingnya jujur," cengir Farida.


Pria itu tiba-tiba menyodorkan sendok yang berisi penuh kedepan mulut Farida.


"Ayo makan!"


"Enggak, punya om aja. Farida bisa tahan kok," tolak Farida.


"Saya gak mau kamu sakit gara-gara nolongin saya," kata Pria itu lagi.


Dengan terpaksa, Farida menerima suapan itu.


Tak lama kemudian, nasi dan lauk itu habis tak bersisa.


"Kalau begini kan, om gak kenyang dan Farida juga tanggung," ucap Farida.


"Setidaknya kan ada pengganjal perut." timbal Pria itu.


"Nama om siapa?" tanya Farida tiba-tiba.


"Nama saya Aditia Pradipta." jawab Pria itu.


Mereka berdua mendorong mobil itu ke bengkel terdekat yang jarak nya lumayan jauh.


Satu jam kemudian, sampai lah mereka di depan bengkel.


Montir bengkel itu segera membenahi mobil pria yang bernama Aditia itu.


Tak lama kemudian, mobil itu jadi.


"Ayo, saya antar pulang!" ajak Aditia tiba-tiba.


"Tapi Farida bisa pulang sendiri, Om," kata Farida.


"Gak usah nolak, lagian saya gak mau orang yang udah nolongin saya, mengalami kesulitan," kata Aditia.


Farida pun menurut dengan ucapan Aditia.


"Kang, Farida pulang dulu ya," pamit Farida kepada salah satu montir yang rumahnya tak jauh dari panti tempat tinggal Farida.


"Iya, hati-hati Ida," kata montir itu.


Setelah itu, Farida segera masuk kedalam mobil Aditia.


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih dua puluh lima menit, akhirnya mobil Aditia berhenti di depan panti asuhan "KASIH BUNDA".


"Ayo om! mampir dulu. Kita makan sore disini, Bunda pasti udah masak," kata Farida sambil menarik tangan Aditia keluar dari mobil itu.

__ADS_1


Dengan langkah tergesa karena tangannya di tarik paksa, akhirnya Aditia memasuki rumah panti itu.


"Cie, kak Ida bawa pacar," ledek anak-anak panti.


"Huss, kalian ini! Mana mau om ini sama kakak," kata Farida masih dengan menarik tangan Aditia menuju dapur.


Sesampainya di dapur, benar saja. Makanan sudah terhidang di atas meja panjang di dapur itu.


"Ida, kamu sudah pulang nak?" tanya ibu Panti.


"Sudah bun, ini Ida bawa om Adit buat makan bareng sama kita," kata Farida sambil mengenalkan Aditia kepada Ibu panti dan saudara-saudara panti yang seumuran dengan Farida.


"Maaf merepotkan, bu," kata Aditia yang merasa tidak enak.


"Tidak apa-apa, nak Adit," ucap ibu panti yang bernama bu Ratna. "Ayo silahkan duduk, kita makan bersama," sambung bu Ratna.


Setelah itu, mereka makan bersama dengan lauk pauk seadanya, namun Aditia sangat menikmati makanan itu. Bahkan ia sampai nambah tiga kali, padahal biasanya porsi makan Aditia hanya sedikit.


Anak-anak panti sontak tertawa melihat cara dan porsi makan Aditia.


"Om Adit, lapar ya?" tanya seorang anak yang paling kecil.


Aditia mendongak kan wajahnya, dan ia menjadi malu mendengar perkataan anak kecil itu.


"Huss, gak boleh gitu! Gak sopan, puput!" bu Ratna memarahi gadis kecil itu.


"Hee, maaf," kata Aditia sambil nyengir kuda.


Tak terasa, hari sudah mulai malam.


Aditia menghitung seluruh anak panti, namun tiba-tiba. Ia di kejutkan dengan Farida yang tiba-tiba muncul di belakangnya.


"Lagi ngapain, Om?" tanya Farida.


"Ehh, enggak," kata Aditia. "Berapa orang anak-anak di panti ini?" tanya Aditia kemudian.


"Total yang anak-anak 11 orang, 4 cewek dan sisanya cowok. Dan yang dewasa ada 5, 2 cowok dan 3 cewek termasuk aku," jelas Farida.


"Oo, ya udah kalau gitu! Aku pulang dulu ya," pamit Aditia. "Oiya, aku minta nomer ponsel kamu," sambungnya.


"Farida gak punya ponsel," kata Farida jujur.


"Emm, ya sudah. Besok saya kesini lagi," ucap Aditia, lalu Ia masuk lagi kedalam panti untuk berpamitan pada bu Ratna dan yang lainnya.


Setelah itu, ia pulang menuju ke kediamannya.


Ia tersenyum-senyum sendiri saat mengingat sosok gadis yang unik seperti Farida.


"Gadis itu sangat unik," ucap Aditia. "Kenapa jantung ku berdebar-debar begini, apakah aku menyukai gadis itu," sambung Aditia.


Tak terasa, ia telah sampai di depan rumah mewah.


Yaitu rumah mewah miliknya.


Masih dengan wajah berseri-seri ia memasuki rumah itu.

__ADS_1


"Dari mana kamu?" tiba-tiba seorang wanita mengejutkannya.


__ADS_2