Pengorbanan Terakhir Istri Kedua Sang CEO

Pengorbanan Terakhir Istri Kedua Sang CEO
SWALAYAN


__ADS_3

"Bunda tidak bisa berbuat apa-apa, nak Adit," kata bu Ratna tanpa menatap Aditia yang terduduk lemas dan menangis di hadapannya.


"Kemana Adit harus mencari Farida, bun," ucap Aditia dengan lemah.


"Bunda tidak tahu, kamu selesaikan masalah kamu sendiri," kata bu Ratna.


Bu Ratna memegangi dadanya yang terasa sesak, ia sangat merasa kecewa dengan Aditia. Namun di sisi lain, ia juga kasihan melihat keadaan Aditia yang sangat memprihatinkan.


"Kalau begitu, Adit pamit. Adit mau mencari Farida," Dengan perlahan, Aditia bangkit dan meninggalkan panti itu.


Ia mencari keberadaan istrinya kesana kemari, hingga malam hari ia berkeliling dan mencari di tempat-tempat yang biasa di datangi istrinya. Namun nihil, istrinya tak kunjung ia temukan.


Jam sudah menunjukan pukul 01: 15 menit dini hari.


Aditia masih betah duduk di trotoar pinggiran jalan, ia menekuk lututnya dan menyembunyikan wajahnya disana.


"Kemana kamu sayang? Mas harus kemana lagi?" tanya nya, seakan-akan ia berbicara dengan sang istri.


"Mas bisa apa tanpa kamu," ucap nya lagi.


Setelah merasa lelah, ia kembali ke mobil nya dan mengendarai mobil itu menuju apartemennya yang pernah ia tempati dengan Farida dalam keadaan tenang dan damai.


Beberapa saat kemudian, mobil yang ia kemudikan sampai di depan gedung apartemen miliknya dan Farida.


Ia keluar dari mobilnya, dan memasuki apartemen itu dengan langkah gontai. Aditia berjalan menuju kamar, ia meraih foto pernikahannya dengan Farida yang terletak di meja rias Farida.


"Sayang, kenapa kamu pergi? Di mana kamu? Aku harus mencari kamu kemana?" tanya nya sambil mengelus bingkai foto pernikahan itu.


Tubuh Aditia merosot, ia terduduk lemah di lantai kamar itu. Sekitar satu jam, ia menangis tanpa suara. Akhirnya Aditia tertidur di lantai kamar yang sangat dingin itu.


***


Jam tiga dini hari, Farida terbangun dari tidurnya. Ia merasa sangat haus, dengan perlahan ia beranjak dari ranjang mini itu dan berjalan menuju dapur.


"Hm, gelap!" gumannya.


Setelah sampai di dapur, Farida mengambil gelas dan mengisinya dengan air yang ada di dalam teko kecil.


Ia segera meneguk isi gelas itu, setelah minum. Ia kembali lagi kekamar dan mendudukan bokongnya di ranjang.


"Mas Adit udah tidur belum ya?" tanya nya pada dirinya sendiri. "Maafkan bunda ya, nak. Bunda gak bermaksud pisahin kamu dari ayah," ucapnya sambil mengelus perut buncitnya.


Sejak terbangun dari tidurnya, Farida tidak tidur lagi hingga pagi. Selepas shalat subuh, ia keluar menuju dapur.


Ia melihat isi dapur nek Ijah, di sana hanya ada beras, sayuran hijau dan juga empat butir telur.


Dengan cekatan ia memasak, dan juga mengolah sayuran hijau itu, tak lupa ia menggoreng empat butir telur yang ada.


Jam enam pagi, nek Ijah dan Agus bangun dari tidur mereka.

__ADS_1


Mereka segera menuju dapur. Dan mencuci wajah mereka di kamar mandi.


"Mbak, mbak bangun jam berapa?" tanya Agus pada Farida.


"Tadi saat azan subuh." timbal Farida sambil menata makanan yang ia buat di atas meja makan yang terbuat dari kayu.


"Oo," Agus hanya ber oo ria. "Oiya mbak, mbak jangan capek-capek, Ingat! mbak lagi hamil," kata Agus.


"Iya, aku tahu!"


Nek Ijah kembali dari kamar mandi.


"Nduk, kamu sudah masak?" nek Ijah melihat masakan yang sudah tersaji.


"Sudah nek, yuk kita sarapan," kata Farida sambil menarik kursi yang juga terbuat dari kayu.


"Hm, nenek jadi gak enak," ucap nek Ijah.


"Maafkan Farida ya nek, bahan makanannya Ida masak semua," kata Farida.


"Gak papa, lagian memang belanjaan nenek sudah habis," kata nek Ijah. "Ya sudah, ayo makan! Nanti nasinya keburu dingin," sambung nek Ijah.


Mereka bertiga pun memulai sarapan mereka, namun di tengah-tengah makan mereka. Tiba-tiba Farida menghentikan acara makannya. Ia meletakan sendok yang ia pegang, hal itu membuat nek Ijah dan Agus ikut menghentikan makan mereka.


"Kamu ingat sama suami kamu, nduk?" tanya nek Ijah.


"Tolong tenangkan fikiran mu mbak, kasian anak yang mbak kandung. Kalau mbak terus-terusan terpuruk seperti ini," kata Agus.


Dengan terpaksa, Farida kembali memakan sarapannya.


Agus dan nek Ijah tersenyum kecil kepada Farida.


"Oiya, emang nenek gak punya magic com apa?" tanya Farida setelah makan.


"Dulu punya, tapi rusak. Dan sekarang gak ada," kata nek Ijah "Agus mau beli, tapi kata nenek gak usah. Mending uangnya di tabung buat biyaya kuliahnya nanti," sambung nek Ijah.


"Pasar atau toko jauh gak dari sini, Gus?" tanya Farida pada Agus.


"Enggak mbak, keluar gang komplek ini kan ada pertigaan. Nah di ujung pertigaan itu ada toko-toko." timbal Agus "Gak usah beli yang aneh-aneh ya, mbak. Tugas mbak disini, hanya makan dan bersantai aja," sambung nya.


"Aku gak beli yang aneh-aneh kok, aku cuman mau beli alat-alat buat bikin kue," kata Farida nenimbali perkataan Agus.


"O, buat apa, mbak?" tanya Agus.


"Kalau aku jualan kue, kira-kira laku gak, Gus, nek?" tanya Farida pada Agus dan nek Ijah.


"Laku kayaknya, mbak. Soalnya di sini jarang yang bikin kue, warga komplek ini semuanya pada kere!" sahut Agus sambil terkekeh.


"Iya nduk, di sini gak ada yang jual kue. Kalaupun ada, orang luar komplek yang keliling." tambah nek Ijah.

__ADS_1


Sekitar jam sembilan pagi, setelah berbenah dan membersihkan diri. Farida mengajak nek Ijah ke pasar, mereka menaiki angkutan umum.


Tak membutuhkan waktu yang lama, mereka Berdua sampai di swalayan.


Swalayan itu nampak ramai, nek Ijah menggenggam tangan Farida dengan erat.


"Nduk, jangan jauh-jauh dari nenek, nanti kamu hilang," kata nek Ijah.


Farida tersenyum, "Ida bukan anak kecil nek!" timbal Farida.


"Walaupun bukan anak kecil, kamu harus tetap hati-hati. Yang bukan anak kecil kan kamu, tapi bayi yang ada di perutmu," kata nek Ijah. Hal itu membuat Farida sadar, bahwa ia tidak sendiri.


"Em, nek! Kita jualan kue dan sayur siap saji ya," kata Farida.


Nek Ijah hanya menganguk, toh ia hanya memiliki uang 200 ribu. Pemberian Agus untuk belanja minggu ini. Bukan karena Agus pelit kepada sang nenek, namun segitu adanya yang dapat Agus kumpulkan untuk makan setiap minggunya.


"Bu, saya beli kacang panjangnya dua kilo, kangkung, toge, wortel, brokoli dan ini," kata Farida kepada ibu-ibu penjual sayuran itu.


"Iya nduk," kata ibu itu.


"Nem, titip di sini dulu ya," kata nek Ijah "Putu ku (cucuku) Mau keliling dulu," sambung nek Ijah.


"Iya mbok, tak bungkus dulu semua." timbal ibu-ibu yang di panggil nek Ijah dengan sebutan Nem.


Farida dan nek Ijah berkeliling, mereka membeli banyak bahan makanan. Mulai dari beras sampai ke lauk pauknya.


"Nduk, kamu beli segitu banyak. Nanti uang mu habis, nenek jadi tidak enak," kata nek Ijah sambil memandang semua belanjaan yang di beli oleh Farida.


"Farida ada nek, nenek tenang saja. Uang Farida uang halal kok, nanti kalau kiranya mendesak. Ida punya sesuatu yang bisa kita jual atau gunakan," kata Farida seraya tersenyum.


Nek Ijah hanya geleng kepala, setelah itu ia memanggil kuli buruh pasar untuk mengangkut semua belanjaan yang di beli oleh Farida.


"Em, nenek mau beli apa?" tanya Farida.


"Tidak, tidak! nenek tidak mau beli apa-apa," kata nek Ijah.


Mata Farida melihat penjual mukenah. Ia pun menarik tangan nek Ijah menuju penjual pakaian muslim itu.


"Nek, lihat! Bagus yang mana?" tanya Farida sambil memegang dua mukenah.


"Yang ini, nduk!" tunjuk nek Ijah. Ia tidak tahu Farida membeli mukenah itu untuk siapa.


Siang harinya, nek Ijah dan Farida sudah kembali ke rumah.


"Nah! Ini mukenah untuk nenek," kata Farida sambil menyerahkan bungkusan mukenah itu pada nek Ijah.


"Kenapa untuk nenek, nduk? Nanti kalau kamu shalat gimana?" tanya nek Ijah.


"Farida bawa dari rumah mas Adit kok, nek," kata Farida "Ini Ida beli memang buat nenek," kata Farida.

__ADS_1


__ADS_2