
"Ayo dong! Semangat," ucap Bara pada Karina yang tidak bersemangat di ranjang seperti biasanya.
"Aku gak bernafsu Bara, tolong lah! Besok saja ya," Karina menolak ajakan dan permintaan Bara.
"Kamu kenapa sih? Akhir-akhir ini kamu berubah sama aku, kenapa? Apa kamu mikirin Aditia?" tanya Bara sambil menatap tajam pada Karina, yang sedang bersandar di sofa yang ada di kamar itu.
"Aku gak mikirin Aditia dan aku juga gak kenapa-kenapa, Bara!" timbal Karina. "Aku cuman capek, dan lagi gak bersemangat," sambungnya.
"Ayolah, sayang! Udah lama loh, aku gak ngerasain permainan kamu yang hebat," bisik Bara di telinga Karina.
Dengan terpaksa Karina melayani Bara seperti suami sungguhan.
"Kau bersama ku Karina, tapi raga mu entah kemana? Aku tahu kamu mencintai Aditia tapi ku rasa semua nya sudah terlambat. Rasa sakit di hati Aditia yang telah kita torehkan sudah terlalu dalam," ucap Bara dalam hati.
Malam itu, Karina dan Bara menghabiskan waktu di atas ranjang bersama.
"Karina?" panggil Bara.
"Hmm, ada apa?" tanya balik Karina.
"Bagaimana jika kita menikah?" Bara mengulang pertanyaan yang sudah sering ia katakan.
"Sudah sering ku katakan Bara, aku tidak mau bercerai dengan Aditia. Aku akan terus menjadi istrinya, karena-," ucapan Karina di putus oleh Bara.
"Karena itu adalah keinginan terakhir ayah dan ibu mu," sambung Bara dengan cepat. "Mau itu keinginan ibu dan ayah mu atau siapa pun, kunci itu hanya ada pada mu Karina, semua itu menandakan bahwa kau mencintai Aditia, kau mulai merasakan cinta itu Karina!" Sambung Bara dengan suara berat.
"A-ku aku tidak tahu Bara, maafkan aku," ucap Karina.
"Lalu bagaimana? Apakah kau sanggup terluka dengan kehadiran istri Aditia yang sekarang, wanita sederhana yang sudah mampu meluluhan gembok ES hati Aditia. Bahkan Aditia sangat mencintai wanita itu!" seru Bara sambil mengguncangkan tubuh Karina.
"Aku akan merebut hak ku, aku akan menyingkirkan wanita yang sudah merebut Aditia ku!" tegas Karina.
"Lalu bagaimana dengan ku?" tanya Bara.
"Aku juga tidak mau kehilangan mu, Rasa ku untuk mu dan Aditia sama besar. Kalian berdua adalah milik ku , milik Karina dan tidak ada yang boleh memiliki kalian selain aku," Karina memeluk tubuh Bara dengan erat.
__ADS_1
Bara membalas pelukan itu, Ia tersenyum kecut mendengar penuturan Karina yang menurutnya tidak masuk akal.
"Tidur lah, sudah sangat larut," ucap Bara sambil membelai pucuk kepala Karina yang berada di dada bidangnya.
"I miss you," ucap Karina.
"I miss you too, good naight," balas Bara.
Setelah itu mereka tertidur pulas.
***
"Mas, bangun!" Farida mengguuncang-guncangkan tubuh Suaminya.
"Hmm, kenapa?" Aditia menggeliat sambil mengerjap-ngerjap kan matanya.
"Ida laper mas," ucap Farida.
"Terus mau makan apa?" tanya Aditia yang kesadarannya mulai berkumpul.
"Aihh, jangan mi rebus! Yang lain saja ya," tawar Aditia.
"Tapi, Ida pengennya mi rebus mas," kata Farida.
"Mie instan tidak baik di konsumsi ibu hamil, makam yang kain saja ya," ucap Aditia dengan lembut.
"Enggak, ya udah kalo gak boleh. Ida tidur lagi aja," Farida membaringkan tubuhnya lalu menarik selimut dan menutupi seluruh tubuhnya termasuk kepala.
"Sayang, kok gitu sih! Emang kamu gak sayang sama ANAK kita," kata Aditia dengan menekan kata anak.
"Terus mas gak sayang sama Ida? Mas mau bikin anak kita ikeran," kata Farida tak mau kalah.
"Tapi mie instan memang gak baik lo yang, untuk ibu hamil. Nanti perut kamu begah!" jelas Aditia.
"Begah dan bahaya kan kalo terus-terusan di konsumsi mas, kalo cuman sekali kan gak papa." timbal Farida.
__ADS_1
"Ya sudah, ya sudah! Mas buatkan, tapi setengah bungkus dengan satu telur," kata Aditia, lalu ia beranjak dan pergi menuju dapur.
"Perempuan memang selalu menang dan paling hebat, buktinya saja bisa menghidupkan benda mati sekalipun!" gerutu Aditia sambil terus berjalan.
"Ida denger loh mas!" seru Farida yang masih berbaring di atas ranjang.
Lima belas menit kemudian, Aditia datang dengan semangkuk mue rebus dan segelas air minum yang ada di dalam nampan.
"Silahkan di santap princess ku yang cantik dan manis," ucap Aditia sambil meletakan nampan itu di tepian ranjang.
"Terimakasih ayah." timbal Farida menirukan suara khas anak kecil, setelah itu ia tertawa kecil.
Setelah itu, Farida mulai menyantap mie rebus yang asap nya masih mengepul itu dengan tidak sabaran.
"Sayang, pelan-pekan dong! Nanti bibir sama tenggorokan kamu kebakar!" Aditia memperingati.
"Ida udah gak sabar!" timbal Farida sambil meniup-niup sendok yang berisi kuah mie tersebut.
"Huhh, bunda saja seperti inu! Lalu bagaimana dengan anaknya nanti," guman Aditia.
"Apa mas?" tanya Farida "Ida tadi denger loh!" sambung Farida.
"Enggak, mas gak ngomong apa-apa! Ida salah denger mungkin!" kilah Aditia.
"Terus mas kira Ida ini tuli." timbal Farida masih sambil meniup-niup mie rebus nya.
Tak butuh waktu lama, Farida sudah menghabiskan semangkuk mie rebus itu.
"Ahh, kenyang," ucap Farida sambil mengusap perutnya.
Aditia tersenyum melihat tingkah istri kecilnya yang menurutnya sangat lucu dan menggemaskan.
"Mas tarok dulu ini kedapur ya," kata Aditia sambil membawa nampan dan mangkuk bekas istrinya makan.
Beberapa menit kemudian, Aditia kembali lagi. Ia berbaring di ranjang dengan posisi di sebelah kiri istrinya.
__ADS_1
"Sayang, yang sehat ya di perut bunda. Jangan nakal, kasihan bunda kalo anak ayah nakal dan rewel," ucap Aditia berbicara kepada calon bayinya. Ia mengelus perut rata Farida dengan lembut.