Pengorbanan Terakhir Istri Kedua Sang CEO

Pengorbanan Terakhir Istri Kedua Sang CEO
Ponsel


__ADS_3

"Mau kemana dia? Ke kantor, tapi kenapa se bahagia itu," Karina bertanya-tanya dalam hati. "Ah, masa bodo! Kenapa aku harus perduli! Kan seharusnya aku senang karena sebentar lagi aku akan bebas kemanapun bersama dengan Bara." sambungnya.


Siang harinya.


Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Aditia segera pergi meninggalkan kantor nya. Ia pergi menuju mall yang tak jauh dari perusahaan itu, Ia berniat ingin membelikan Farida ponsel dan mainan untuk anak-anak panti.


Ia berharap, akan menjadi semakin dekat dengan Farida.


Setelah selesai membeli ponsel untuk Farida dan mainan untuk anak-anak panti, ia segera pergi menuju panti asuhan.


"Semoga Farida mau menerima ponsel ini," ucapnya sambil menjentikkan jarinya di stri mobil.


Serasa tidak sabar untuk sampai di panti, Aditia pun mengomel tiada henti karena jalanan yang cukup padat pengendaraan hingga membuat jalanan cukup macet.


"Sial, kenapa macet seperti ini!" omel Aditia.


Setelah melalui perjalan yang macet selama satu jam, akhirnya Aditia sampai di depan panti asuhan.


Ia turun dari mobil itu, dengan kaca mata hitam yang bertengger di hidung mancung nya.


"Bun, bunda! Om yang kemarin datang lagi!" teriak salah seorang anak panti.


"Om mau minta makan lagi ya!" anak kecil yang mengatakannya rakus kemarin kembali menunjuk nya.


"Kata siapa?" tanya Aditia dengan tersenyum malu.


"Buktinya om datang lagi, mobil om bagus, om ganteng dan keren tapi makannya banyak," kata anak kecil itu.


Aditia terkekeh, lalu menggendong paksa tubuh anak kecil itu.


"Kak Ida nya ada?" tanya Aditia pada anak kecil itu.


"Noh! Itu kak Ida," tunjuk anak kecil itu pada arah pintu. Dan benar saja, Farida berdiri dengan senyum manisnya di depan pintu.


"Sekarang kamu turun, dan ajak kakak yang lain buat ambil mainan di mobil om ya," kata Aditia "Tapi ingat! Jangan berebut sama teman-teman yang lain," imbuh Aditia.


Anak kecil itu mengaguk, lalu Raka membuka pintu mobil bagian belakangnya. Dan menyuruh anak panti yang sudah remaja mrngekuarkan seluruh mainan yang ia beli.


Setelah itu, Aditia mendekati Farida.


"Hay," sapa Aditia.


"Hay om, kok om kesini lagi sih!" Farida berjalan mendur.


"Pengen ketemu sama kamu! Memang nya gak boleh? Terus kenapa kamu mundur-mundur seperti itu!" Aditia semakin mendekati Farida.


Dug dug dug dug


Bunyi detak jantung Farida.


Kini Farida tidak bisa mundur lagi, karena tubuhnya sudah mepet pada tembok ruang depan panti itu.


Aditia semakin mendekatkan tubuhnya pada Farida.


Ia dapat merasakan detak jantung Farida yang seperti alunan musik disco.

__ADS_1


"Kenapa?" tanya Aditia "Kamu takut atau gugup?" bisik Aditia di telinga Farida.


Farida merinding dan hanya bisa memejamkan matanya saat merasakan deru nafas Aditia yang hangat menyentuh telinganya.


"Om, jangan kayak gitu! Ida takut," kata Farida masih dengan memejamkan kedua matanya.


"Ehemm," suara deheman berasal dari belakang Aditia.


Aditia langsung mundur saat mendengar suara itu.


"Apa yang kalian lakukan?" tanya bu Ratna yang tiba-tiba berada di belakang mereka.


"Ehh, ibu. Maaf saya hanya, em saya gak ngelakuin apa-apa sama Farida," kata Aditia.


"Benar Farida?" tanya bu Ratna beralih pada Farida yang wajahnya memerah.


Farida mengaguk cepat.


"Begini bu, saya tadi hanya ingin memberikan ini pada Farida. Tapi saat saya mendekati nya, dia malah mundur menjauh. Jadi saya bermaksud ingin menggodanya saja," jelas Aditia.


Bu Ratna pun mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Ya sudah, kalian boleh ngobrol! Tapi ingat batasan, kalian bukan muhrim," kata bu Ratna lalu pergi meninggalkan Farida dan Aditia di ruang depan itu.


"Om kenapa sih gangguin Farida?" tanya Farida dengan wajah kesal "Untung bunda gak marah," sambungnya.


"Palingan kita di suruh kawin sama bunda," ucap Aditia enteng "Ehh, nikah dulu ya baru kawin," kekeh Aditia.


Mata Farida melolot, tangannya reflek mencubit dan memelintir perut Aditia.


"Maaf," kata Farida sambil melepaskan tangannya dari perut Aditia.


"Ida, aku mau kasih ini buat kamu," kata Aditia sambil menyodorkan paper bag pada Farida.


"Apa ini?" Farida meraih dan membuka paper bag itu.


"Ponsel! Untuk apa?" tanya Farida.


"Untuk kamu, supaya aku bisa buat ngehubungin kamu," kata Aditia.


"Farida gak bisa om, lagian kita juga baru kenal kemarin," Farida menolak ponsel itu.


"Ida ku mohon! Terimalah, aku gak punya maksud apa-apa. Aku cuman pengen dekat sama kamu." Aditia meraih dan menggegam tangan Farida.


Farida menatap mata Aditia dalam-dalam, ia melihat ketulusan disana.


"Tapi percuma ponselnya Farida ambil, Farida gak bisa pakek ponsel," kata Farida.


"Kamu kan bisa belajar," kata Aditia dengan tersenyum manis.


"Lugu dan polos sekali kamu gadis manis, inikah yang nama nya cinta. Cinta pada pandangan pertama, kenapa selama beberapa tahun bersama dengan Karina aku tidak pernah merasakan hal seperti inu," ucap Aditia dala hati.


"Ya udah deh ponselnya Ida ambil," kata Farida.


"Disini udah ada nomer aku, nanti malam aku hubungin ya," kata Aditia.

__ADS_1


Farida pun mengaguk.


Setelah cukup lama mereka mengobrol, akhirnya Aditia pamit pulang.


"Aku pulang dulu ya, gak enak sama bunda," kata Aditia.


"Iya, hati-hati jangan ngebut. Ingat! Utama kan keselamatan," ucap Farida dengan tertawa riang.


Aditia pun ikut tertawa. Setelah itu Aditia memasuki mobilnya dan segera meninggalkan panti itu.


Malam harinya.


Aditia menghubungi nomer Farida. Tersambung tapi tidak di angkat.


Sedangkan di dalam kamar di panti asuhan itu.


"Aduh, gimana ngakatnya? kata Farida.


"Yee, gak tahu! Lagian kamu gak minta ajarin dulu tadi!" sahut salah seorang saudara panti Farida.


"Iseng deh, kita geser tombol hijau," kata Farida.


Ia pun menggeser tombol hijau, dan terdengar lah suara Aditia dari telpon itu.


"Kenapa ngakatnya lama?" tanya Aditia.


"Gimana gak lama? Orang gak bisa." timbal Farida jujur.


"Hee, tadi mau di ajarin katanya biar aja," kata Aditia dengan terkekeh.


"Ida, kok kamu jujur banget sih jadi orang! Malu taukk," kata saudara panti Farida.


"Dari pada sok tahu, dan berujung lebih memalukan lagi." timbal Farida.


Aditia di sebrang telpon menyimak pembicaraan dua orang itu.


Ia terkikik geli mendengar perdebatan kedua wanita yang menurutnya sangat lucu.


"Ehh, aku di cuekin ni!" protes Aditia.


"Maaf om, ini ni orang ngajarin Ida bohong," kata Farida.


"Tuh kan! Ida polosnya gak habis-habis," kesal Saudara Farida.


Hampir setengah jam mereka mengobrol melalui sambungan telpon, dan akhirnya Farida mematikan telpon itu.


Di kediaman Aditia.


Karina mengintip dari pintu ruang kerja Aditia.


"Siapa lawan bicara Aditia? Kekasihnya kah?" isi kepala Karina seperti berputar-putar dengan kekepoannya.


***Bersambung..!!


Happy reading..!! 😘😘😘***

__ADS_1


__ADS_2