Pengorbanan Terakhir Istri Kedua Sang CEO

Pengorbanan Terakhir Istri Kedua Sang CEO
ADITIA PRADIPTA AMZARI.


__ADS_3

Farida tersenyum lagi. Bahkan memeluk tubuh Aditia yang berdiri di hadapannya dengan erat.


Siang harinya, Aditia mengajak Farida ke dokter untuk memastikan apakah Farida benar-benar mengandung atau tidak.


"Mas, kalo Ida gak hamil gimana?" tanya Farida.


"Ya kita coba bikin lagi lah." timbal Aditia yang fokus menyetir.


Dua puluh menit kemudian, Mobil Aditia sampai di depan mereka I&A yang tidak jauh dari apartemen mereka.


"Yuk sayang, kita masuk," ajak Aditia.


"Ida takut mas," ucap Farida sambil menegang lengan suaminya dengan erat.


"Mas kan selalu ada di deket kamu," kata Aditia sambil berjalan memasuki rumah sakit itu.


Sesampainya mereka di dalam ruangan tunggu, ternyata banyak pasien yang antri.


"Permisi mba, dokter Lusi ada?" tanya Aditia pada seorang perawat yang bertugas.


"Apa mas sudah buat janji?" tanya perawat itu.


"Belum mba," kata Aditia.


"Kalau mas belum buat janji, silahkan ambil nomer antriannya," ucap perawat itu dengan ramah.


"Harus Antri seperti mereka ya mba?" tanya Aditia sambil mengeryitkan dahinya.


"Iya mas, kita harus mengikuti prosedur yang ada. Kasihan dengan pasien lain yang sudah lama menunggu. Kecuali jika mas dan istri sudah membuat janji terlebih dahulu," jelas perawat itu.


"Oh ya sudah, terimakasih," ucap Aditia sambil mengambil nomer Antrian. Setelah itu dia mengajak istrinya di salah satu bangku yang kosong.


"Istrinya hamil mas?" tanya seorang ibu-ibu yang membawa balita sebut saja namanya ibu A


"Eh, ibu nanya sama saya," ucap Aditia menujuk dirinya sendiri.


"Iya mas, memang sama patung yang ada di belakang mas," kata ibu A sambil tersenyum.


"Hmm, iya ya. Tidak ada orang di belakang kami," ucap Aditia seraya membalas senyuman ibu itu.


"Sudah berapa bulan?" tanya ibu A lagi.


"Apanya bu?" tanya Aditia dengan konyol nya.


"Hamilnya mas, masa taneman padi!" timbal ibu A sambil melotot.


"Oh, baru mau periksa bu," kata Aditia sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Anak pertama ya mas?" tanya ibu A tak ada habisnya.

__ADS_1


"Iya bu, doain ya semoga istri saya positive hamil," ucap Aditia dan di amini oleh ibu itu.


"Terus ibu sendiri kenapa ke sini? Apa anak ibu sakit?" tanya Aditia sambil memegang tangan anak ibu A yang berada dalam gendongan.


"Iya mas, sudah beberapa hari ini tubuh anak saya panas dan tidak mau makan apa-apa," kata ibu A.


"Terus kata dokter anak ibu sakit apa?" tanya Aditia lagi.


"Gak tahu mas, ini juga baru mau periksa. Suami saya baru dapat uang kemarin." timbal ibu A jujur apa adanya.


Aditia manggut-manggut mendengarkan jawaban ibu itu.


"Suami ibu kerja apa?" tanya Aditia seperti menginterogasi ibu yang ada di hadapannya.


"Cuman kuli bangunan mas," kata ibu A sambil tersenyum.


Namun tiba-tiba anak ibu B tepatnya di samping Farida menangis dengan kencang.


"Ya ampun nak, kenapa?" ibu B dan langsung menggendong anaknya yang menangis.


Anak kecil itu menunjuk Farida yang memakan ice cream nya.


Farida hanya diam sambil menikmati se cup ice cream yang ia pegang.


"Aduh mas, istrinya kok aneh sih!" ucap ibu B "Anak saya kan jadi menangis," sambungnya.


Sedangkan ibu A hanya menatap heran kejadian di hadapannya.


"Sayang, kok kamu ambil ice cream anak itu," kata Aditia kepada istrinya.


"Ida pengen mas!" timbal Aditia.


"Kita kan bisa beli," ucap Aditia dengan lembut, ia takut istrinya akan menangis lagi.


"Ida gak mau beli, Ida maunya ice cream ini," kata Farida mulai kesal.


"Gimana dong mas? Ganti!" ibu B meminta ganti ice cream anaknya yang di makan oleh Farida.


"Iya bu, saya akan ganti!" Aditia mengeluarkan dompetnya. "Sial, kenapa aku lupa narik uang tunai sih!" guman Aditia.


"Kenapa? Mas gak punya uang?" tanya ibu B. "Saya gak minta ganti lebih mas, saya cuman minta ice cream anak saya di ganti!" sambung ibu B sambil mencoba menenangkan anaknya yang menangis.


"Saya narik uang cash sebentar, ibu tunggu disini!"


Aditia yang di ikuti oleh Farida di belakangnya, hendak pergi dari ruangannya itu.


Namun ibu itu mencegahnya. "Mas sama mbak nya mau kabu ya? Tanggung jawab dong, anak saya nangis ni!" ketus ibu itu yang mulai emosi.


"Sudah bu, biar saya yang ganti ice cream anak ibu yang di makan mbak itu," ucap ibu A menengahi sambil mengeluarkan selembar uang seratus ribuan.

__ADS_1


Padahal uang ibu A, hanya itu adanya. Untuk menebus obat anaknya pun belum tentu cukup, namun kejadiannya yang di depannya membuat ia tak enak hati.


"Gak usah bu, terimakasih. Biar saya ambil uang sebentar," ucap Aditia menolak bantuan ibu A, Aditia tahu bahwa ibu itu sedang dalam kesulitan.


"Beneran mas, gak papa," kata ibu A.


"Tidak usah bu, saya juga beberan," kata Aditia.


Lalu Aditia memberikan KTP nya kepada ibu B sebagai jaminan.


Setelah itu, Aditia keluar dengan menarik tangan Farida.


Saat Aditia dan Farida sudah tidak terlihat lagi, ibu B dan ibu A melihat identitas Aditia yang tertera di KTP itu.


Ibu B membulatkan matanya.


"Aditia Pradipta Amzari, pemilik perusahaan Pradipta grup, glekk," ibu B menelan ludah dengan susah payah setelah mengetahui identitas orang yang ia maki-maki.


"Ternyata mas itu tadi pengusaha kaya ya bu," ucap Ibu A.


"Matilah saya," kata Ibu B. Sambil menggerakan-gerakan badan ya, agar anaknya berhenti menangis.


Tak lama, Aditia dan Farida kembali lagi dengan dua kantung keresek makanan di tangannya.


"Ini saya kembali kan ice cream anak ibu yang di makan istri saya," ucap Aditia sambil memberikan satu kantong kresek yang ia bawa. "Dan ini, untuk ganti ruginya bu," Aditia memberikan beberapa lembar uang seratus ribuan kepada ibu B.


Ibu B berkeringat dingin. "Maafkan saya mas, sudah bicara kasar sama mas nya. Tidak usah di ganti," ucap ibu B dengan gugup.


"Tidak apa-apa bu, ambil saja. Saya minta maaf karena anak ibu sudah di buat menangis okeh istri saya," kata Aditia sambil memberikan uang itu ke tangan ibu B.


Setelah itu, Aditia beralih pada ibu A.


"Maafkan saya mas, karena sudah menghina mas dengan memberi mas uang tadi," ucap ibu A yang tidak enak, ia takut Aditia merasa terhina.


"Saya yang berterimakasih sama ibu, karena dalam keadaan ibu seperti ini. Ibu masih perduli dengan orang lain yang ada di sekitar ibu," kata Aditia. "Tolong terima ini bu, untuk tambahan biaya berobat si kecil," sambung Aditia sambil memberikan uang kertas senilai dua juta rupiah kepada ibu A.


"Tidak usah mas, lagi pula saya menolong orang lain dengan ikhlas," tolak ibu A.


"Saya juga ikhlas memberikan uang ini untuk si kecil bu. Mohon di terima, saya juga sangat berterimakasih sama ibu, karena mau mendoakan istri saya," kata Aditia.


Ibu A menangis haru, ia tidak meyangka bahwa masih ada orang kaya seperti Aditia.


"Makasih ya mas, mas orang yang sangat baik. Terimakasih banyak," ucap Ibu A sambil menerima uang pemberian Aditia.


Farida yang sibuk dengan makanan nya ikut tersenyum. Sedangkan ibu B, diam mematung di tempatnya.


***Bersambung..!!


Happy reading..!! 😘😘😘***

__ADS_1


__ADS_2