Pengorbanan Terakhir Istri Kedua Sang CEO

Pengorbanan Terakhir Istri Kedua Sang CEO
KARINA YANG MENYEBALKAN.


__ADS_3

"Aku harus nemuin Bara, iya Bara! Cuman dia yang ngertiin aku," ucapnya, lalu ia menancap gas mobilnya menuju kantor Bara.


Setelah menempuh perjalanan selama lima belas menit dengan kecepatan penuh, akhirnya Karina tiba di depan perusahaan Bara.


Karina memasuki lobi perusahaan itu tanpa permisi.


Resepsionis hanya memandang aneh pada sikap Kekasih bos mereka yang bersikap semaunya.


Ia sampai di depan ruangan Bara, ia langsung masuk tanpa memperhatikan kiri dan kanan. Saat sampai di dalam ruangan Bara, ia melihat Bara sedang berdiri menyusun berkas-berkas yang berada di pojok meja kerjanya.


Karina langsung berlari dan memeluk tubuh Bara dari belakang.


"Bara, aku, hiks hiks," tangisnya.


"Kenapa? Kamu kenapa sayang?" tanya Bara dengan lembut, sambil kembalikan tubuhnya agar berhadapan dengan Karina.


"Ehem," suara deheman seseorang yang berada di belakang mereka, membuat Bara tersadar bahwa dia sedang ada temu dengan client nya.


"Maaf, pak! Calon istri saya sedang ada masalah, mohon maaf atas ketidak nyamanan ini," ucap Bara sambil melepas pelukannya.


"Tidak apa-apa pak Bara, saya mengerti dan bisa memaklumi," kata client itu sembari tersenyum.


"Sayang, kamu masuk ke dalam kamar dulu ya! Aku janji gak akan lama," kata Bara sambil menghapus bulir air kata Karina.


Karina mengangguk dan segera memasuki kamar yang memang ada di ruangan kantor Bara.


Setengah jam kemudian. Client Bara sudah pulang, Bara segera masuk kedalam kamar di mana ada Karina.


"Sayang,,!" panggil nya saat sudah sampai di dalam kamar itu.


"Hmm," Karina hanya ber hmm saja.


"Kamu marah sama aku?" tanya Bara dengan lembut.


Bara mendekati Karina yang sedang asyik dengan ponsel di tangannya tanpa menghiraukan kehadiran nya.


"Karina? Ada apa? Kenapa kamu datang-datang langsung menangis?" tanya Bara.


"Aditia pulang bawa istrinya! Aku harus gimana?"


Ucapan Karina membuat Bara terkejut.


"Aditia bawa istrinya pulang?" bukannya menjawab, Bara malah balik bertanya di tengah-tengah keterkejutannya.


"Iya, kamu bantu aku buat nyingkirin perempuan itu dong!" Karina berkata sambil menatap Bara penuh harap.


"Aku gak bisa!" timbal Bara spontan.


"Kenapa? Kenapa Bara? Apa kamu gak cinta sama aku?" tanya Karina dengan kesal.


"Aku gak akan ngancurin kebahagian Aditia lagi, tapi kalau kamu mau bercerai sama Aditia. Aku bakal nikahin kamu," kata Bara dengan sungguh-sungguh.

__ADS_1


"Tapi aku gak kau cerai sama Aditia, Bara!" bentak Karina "Aditia suami ku, dan kamu kekasih ku! Aku gak mau kalian bahagia sama orang lain. Ngerti!" sambung Karina.


Bara menggeleng, dalam hatinya sangat kesal dengan kelakuan Karina yang seenaknya.


"Ya tuhan! Kenapa Karina menjadi seperti ini! Aku sungguh salah, telah mencintai dan mengganggu rumah tangga orang. Terlebih lagi, orang itu adalah sahabat ku sendiri," Bara menjerit di dalam hati.


"Kamu harus putuskan pilihan hati kamu Karina, kamu gak akan pernah bahagia kalau kayak gini!" Bara mencoba membuat Karina mengerti.


"Tapi aku gak bisa milih! Aku cinta sama kamu, tapi aku juga gak mau kehilangan Aditia. Aku harap kamu ngerti sama keadaan aku," kata Karina sambil memeluk tubuh Bara.


"Entah lah, Karina! Aku gak ngerti sama jalan fikiran kamu," kata Bara tanpa membalas pelukan itu. "Tapi maaf, aku gak bisa bantuin kamu buat nyingkirin madu kamu," sambung Bara, dan setelah berucap demikian ia pergi meninggalkan Karina di dalam kamar itu.


Setelah kepergian Bara.


"Sialan! Kenapa Bara gak mau dukung aku, apa dia gak cinta lagi sama aki," gerutu Karina.


"Aku harus nyingkirin perempuan itu, aku gak rela Aditia sama perempuan lain selain aku," kata Karina pada dirinya sendiri.


***


Seminggu kemudian


"Mas gak ke kantor!" Farida memegang tangan suaminya yang melingkar di perutnya.


"Mas di rumah aja, mau nemenin kamu buat kue ini," kata Aditia sambil meyandarkan dagunya di bahu sang istri.


"Mas bolos," kata Farida "Lepas dong mas, nanti kue nya gak jadi-jadi," sambung Farida.


"Mbok seneng deh! Liat den Adit seperti dulu lagi," kata mbok Yuyun yang baru datang.


"Mas, udah dong! Sana, Ida malu," kata Farida yang wajahnya berubah merah saat mbok Yuyun datang.


"Kenapa malu? Kita kan sepasang suami istri," kata Aditia.


"Anggap aja mbok gak ada nduk!" mbok Yuyun menimpali ucapan Farida dan Aditia.


"Mana bisa begitu mbok, ini ni mas Adit gak punya malu," kata Farida yang wajahnya samakin memerah.


Panajang lebar mereka bertiga mengobrol, bercanda ria di dapur rumah megah itu.


Sepasang mata menatap benci akan kebersamaan mereka.


"Aku benci sama kamu perempuan kecil! Aku gak akan biarin kebahagian kamu bertahan lama," kata Karina sambil mengepalkan tangannya.


Karena tak tahan melihat kebersamaan itu lebih lama lagi, akhirnya Karina mendekat ke arah Aditia dan Farida.


Setelah sampai di dekat Aditia dan Farida. "Hay, aku boleh gabung gak?" kata Karina berbasa-basi.


Farida, Aditia dan Mbok Yuyun menoleh bersamaan.


"Ehh, mbak Karina! Sini mbak, gabung sama kita," kata Farida masih dengan wajah cerianya.

__ADS_1


Sedangkan tawa Aditia dan mbok Yuyun, langsung menghilang setelah melihat kedatangan Karina.


"Bikin apa?" tanya Karina.


"Ini mbak, Tadi mas Aditia minta di bikinin Bolu pandan," kata Farida jujur.


"Jadi aku harus bantuin apa?" tanya Karina lagi.


"Mbak duduk di sana aja sama mas Adit, biar Ida yang nyelesai'in. Lagian bentar lagi mateng kok mbak." Farida berbicara sambil menunjuk kursi kosong di samping Aditia.


Karina tersenyum, sambil berjalan ke arah Aditia.


Aditia memalingkan wajahnya, saat Karina duduk di sampingnya. Sungguh Aditia sangat kesal dengan kehadiran Karina, begitu pula dengan mbok Yuyun.


"Kok gak kekantor mas?" tanya Karina yang berharap Aditia akan bersikap manis padanya.


"Lagi males, mas pengen nemenin calon jagoan mas bikin kue!" Timbal Aditia dengan ketus.


Sudah hampir seminggu ini, Karina mengubah nama panggilannya ke pada Aditia, ia ikut-ikutan memanggil Aditia dengan sebutan mas seperti Farida.


"Mas, mau enggak nemenin Karin keluar? Selama ini kan kita gak pernah keluar bareng," ucap Karina sambil tersenyum.


"Maaf, mas gak bisa! Akan terasa canggung kalo kita jalan bersama." timbal Aditia.


"Sayang, mas ke atas dulu ya! Mas mau istirahat," kata Aditia pada istrinya, niat hatinya ingin menjauhi Karina.


"Iya, nanti kalo kue nya udah mateng. Ida bawa ke atas," kata Farida.


Aditia pun berjalan menaiki anak tangga.


"Farida, aku nyusulin mas Adit ya!" Karina ikut pamit pada Farida.


"Iya mbak." timbal Farida dengan tersenyum lembut.


"Kamu beneran gak papa di sini!" Karina meyakinkan Farida, padahal dalam hatinya berharap. Farida akan terbakar cemburu dan marah-marah pada Aditia.


"Iya, Ida gak papa! Lagian ada mbok Yun yang nemenin Ida," kata Farida.


"Ya udah, aku ke atas dulu ya!" Karina segera menaiki anak tangga.


"Kok nduk izinin nyudulin den Adit sih!" tiba-tiba mbok Yuyun angkat bicara setelah Karina pergi.


"Mbak Karina juga kan istri mas Adit, mbok!" timbal Farida dengan enteng.


"Istri sih istri! Lah orang mas Adit aja gak pernah ngangep istri," kata mbok Yuyun dengan wajah kesal.


"Mas Adit harus belajar adil mbok, nanti dia dosa loh! Lagian emang Ida yang harus ngalah, mbak Karina kan istri pertama mas Adit. Jadi gimana pun dia yang lebih berhak," kata Farida yang membuat mbok Yuyun tercengang.


"Terbuat dari apa hati mu nduk?" tanya mbok Yuyun, ia kagum dengan ketulusan wanita muda di hadapannya ini.


"Ida cuman manusia biasa mbok, jujur! Hati Ida sakit karena harus berbagi suami, tapi mau bagaimana lagi! Sudah resiko karena Ida mengambil suami orang lain," ucap Farida dengan mata berkaca-kaca.

__ADS_1


__ADS_2