Pengorbanan Terakhir Istri Kedua Sang CEO

Pengorbanan Terakhir Istri Kedua Sang CEO
TERBUKANYA SEDIKIT JALAN.


__ADS_3

"Turun!" perintah Bara.


Dengan takut, Farida turun dari mobil itu.


"Kenapa kita kesini?" tanya Farida kebingungan.


"Turun lah! Kau harus memakan makanan yang bergizi dan nutrisi seimbang! Kau lihat wanita kecil, tubuh mu semakin kurus padahal sedang mengandung," kata Bara sambil menarik tangan Farida masuk ke dalam supermarket.


Farida terharu melihat perhatian kecil yang di berikan Bara padanya. "Kak Bara orang yang baik, tapi kenapa kakak tega mengkhianati mas Adit?" guman Farida.


Walaupun hanya gumannan, tapi telinga Bara cukup jelas menangkap ucapan Farida.


Bara menghentikan langkahnya, "Semua orang punya kesalahan dan masa lalu, wanita kecil!" sahut Bara.


Sontak Farida menutup mulutnya, setelah itu ia kembali berbicara "Kak Bara dengar ucapan Ida tadi?" tanya Farida.


"Ya, karena aku tidak tuli!" timbal Bara.


"Ayo cepat! Beli susu dan barang-barang bergizi, setelah itu aku antar pulang!"


"Tapi, Ida gak mau pulang ke rumah mas Adit," kata Farida.


"Aku akan mengantarkan mu pulang ke rumah baru mu, aku akan memberi mu waktu untuk berfikir dulu," ucap Bara.


Dengan terpaksa, Farida membeli satu kotak susu dan berbagai macam biskuit. Sebenarnya ia tidak ingin membeli, namun Bara terus memaksa nya.


Setelah membeli makanan yang bergizi dan bernutrisi menurut Bara, Farida pun minta antarkan pulang ke rumah nek Ijah.


"Yang mana rumahnya?" tanya Bara setelah sampai di depan gang perkomplekan yang di huni nek Ijah.


"Di dalam sana! Mobil gak bisa masuk." timbal Farida.


"Ya sudah, sana pulang! Ingat! Jaga calon keponakan ku," kata Bara.


Farida hanya menanggapi perkataan Bara dengan senyuman kecil.


Setelah itu, Bara melajukan mobilnya dan meninggalkan gang peekomplekan itu.


Farida tak hentinya mengomel, nek Ijah sampai pusing mendengar omelan itu.


"Dasar pria gila! Di kiranya aku kekurangan gizi apa?" omel Farida.


"Siapa sih nduk? Yang bilangin kamu kurang gizi?" tanya nek Ijah yang semakin pusing bercampur penasaran.


"Itu nek! Kak Bara, temen nya mas Adit! Dia bilangin Ida kurus!" timbal Farida.


"Dia gak salah loh, Nduk," kata nek Ijah. "Kamu memang agak kurus dari saat pertama kamu kesini," sambungnya.


"Masa sih, nek?" tanya Farida.


Lalu ia berlari kecil, ke arah lemari kaca. Ia berputar-putar di depan lemari itu.


"Ada apa to, mbak?" tanya Agus yang baru saja pulang.


"Emang, mbak agak kurus ya, Gus?" tanya Farida pada Agus.

__ADS_1


"Iya!" timbal Agus.


"Tapi mbak makan, makanan yang bergizi loh," kata Farida.


"Nduk, sini!" panggil nek Ijah pada Farida, ia menepuk kursi rotan panjang yang ia duduki.


"Kenapa nek?" tanya Farida seraya mendekat.


"Kurus itu bukan karena tidak makan makanan bergizi saja," kata nek Ijah.


"Lalu?" tanya Farida.


"Tubuh mu menjadi kurus, karena kamu banyak fikiran dan menyimpan sejuta Beban. Nenek tahu, kamu hanya pura-pura bahagia. Senyum yang kamu berikan itu adalah senyuman palsu!" jelas nek Ijah.


"Menangis lah, mbak! Keluarkan semua keluh kesah yang ada di hati, mbak. Siapa tahu dengan menangis bisa mengurangi sesak di dada mbak Farida!" Agus ikut menimpali ucapan nek Ijah.


Tubuh Farida bergetar, nek Ijah segera merengkuh tubuh lemah itu.


"Kembali lah, nduk! Kembali lah pada suami mu! Kasian anak mu, kasian suami mu, dan kasihani lah pada dirimu sendiri! Tak usah memikirkan kebahagian orang lain, fikirkan kebahagian mu dan anak mu," ucap nek Ijah sambil mengelus punggung Farida.


"Ida ingin kembali, nek! Tapi mbak Karina pasti akan lebih terluka lagi," kata Farida.


"Fikirkan perkataan nenek baik-baik, jika kau memang ingin kembali. Segera beritahu kami, agar Agus bisa mengantar mu pulang," ucap nek Ijah lagi.


***


Dua minggu kemudian.


Entah angin apa yang membawa Aditia, hingga ia sampai di perbatasan kampung Salak dan Durian😅.


Kampung salak adalah kampung tempat tinggal Farida bersama nek Ijah dan Agus saat ini. Sedangkan kampung Durian adalah kampung tetangga.


Karena lelah, Aditia mendarat kan bokongnya di sebuah bangku panjang di pinggiran rumah seorang warga kampung durian itu.


Mungkin memang takdir dari outhor, Farida yang lewat dengan membawa keranjang kue juga lauk pauk jualannya melewati jalan itu.


Dadanya tiba-tiba berdetag dengan kencang, ia tidak jadi lewat. Dengan segera ia bersembunyi.


"Ya tuhan! Begitu berantakannya penampilan mas Adit! Haruskah aku kembali, haruskah aku mengabaikan mbak Karina?" tanya nya pada dirinya sendiri.


"Buk, pernah lihat wanita ini enggak?" tanya Aditia sambil memperlihatkan foto Farida pada seorang ibu-ibu yang lewat di hadapannya.


"Gak pernah, mas!" timbal ibu-ibu sambil berlalu pergi.


Setengah jam, satu jam, hingga dua jam berlalu. Aditia masih betah dengan duduk nya. Begitupun Farida, ia juga masih sangat betah memandangi wajah pria yang ia rindukan satu bulan terakhir ini.


Ingin rasanya ia membelai wajah yang sudah di tumbuhi jambang halus itu dengan kedua telapak tangannya, ingin rasanya ia membenahkan kemeja suaminya yang berantakan, ingin rasanya ia menyuruh suaminya bercukur rambut.


Namun apa lah daya, ia belum sanggup untuk melihat kekecewaan dan kesedihan di wajah kakak madu jahanam nya itu.


"Mbak, tolong kasih ini sama mas yang duduk di bangku itu ya!" pinta Farida pada seorang wanita yang lewat. "Tapi jangan bilang kalau dari saya," sambungnya.


"Mas yang itu, mbak!" tunjuk wanita itu pada Aditia yang duduk bersandar di bangku panjang.


"Iya," kata Farida.

__ADS_1


Wanita itu mendekati Aditia, ia menyodorkan aqua dan juga bungkusan nasi beserta kue pemberian Farida.


"Maaf, saya tidak ingin membeli nya!" tolak Aditia, ia kira wanita itu sedang menjajakan barang dagangannya.


"Saya gak jual ini, mas! Ini di kasih," ucap Wanita itu.


"Oh, maafkan saya! Tapi saya tidak bisa menerimanya," Aditia tetap menolak, padahal cacing yang ada di perutnya sudah meronta sejak tadi pagi.


"Ayo lah, mas! Jangan menolak rezeki," ucap Wanita itu dan dengan terpaksa, akhirnya Aditia menerima bungkusan tersebut.


Setelah bungkusan itu sampai ke tangan Aditia, wanita itu segera berlalu pergi.


Karena penasaran, dan memang sudah lapar. Aditia membuka bungkusan itu, ia tersenyum saat melihat isi di dalamnya. Sama, sama seperti saat ia bertemu Farida pertama kali, telur balado dan juga orak arik tempe.


Aditia menyuap makanan itu, di kunyahnya dengan perlahan. Di rasakan nya makanan itu dan setelah tiga suap, ia beralih pada bungkusan kue lalu di makannya sepotong dari kue itu.


"Aku tidak salah! Ini makanan buatan istri ku," ucap Aditia.


Aditia meletakan semua makanan itu di bangku yang ia duduki. Setelah itu, ia bangkit dan segera mencari keberadaan Farida.


"Farida,,!" teriaknya dengan frustasi. Lelah, memang lelah, lesu memang lesu, namun semua tak ia rasakan.


Yang ada di fikiran nya adalah istrinya. Hanya Farida!


"Aku yakin, itu kamu!" teriak nya.


"Maafkan Ida, mas! Maafkan Ida," lirih Farida.


Dengan air mata yang berlinang, Farida berlari meninggalkan tempat itu.


Tak lama kemudian.


Wanita yang memberikan bungkusan kepada Aditia itu kembali lewat.


"Mbak!" seru Aditia.


"Ada apa? Mas kok masih di sini?" tanya balik wanita itu.


"Di mana orang yang memberikan bungkusan itu kepada saya tadi?" tanya Aditia dengan wajah memelas sambil menujukan bungkusan makanan yang ia letakan di atas bangku.


"Saya gak tahu mas." timbal wanita itu.


"Tolong lah, mbak! Siapa yang memberikan bungkusan itu. Saya akan memberi mbak, uang satu juta rupiah sekarang juga! Tapi tolong beri tahu saya," kata Aditia sambil mengeluarkan dompet dari saku celana berbahan dasar yang ia pakai.


Wanita itu tampak menimbang-nimbang, uang satu juta rupiah di dapat lewat wanita hamil. Ouwhh sangat menggiurkan.


"Sini dulu uangnya, mas!" wanita itu menyodorkan tangannya.


Aditia memberikan uang merah yang bergambar orang memakai kopiah kepada wanita yang ada di hadapannya sebanyak 10 lembar.


"Hm, tadi ada wanita hamil yang minta tolong pada saya, untuk memberi mas bungkusan itu!" jelas wanita yang ternyata mata duitan itu.


"Lalu kemana wanita itu sekarang?" tanya Aditia.


"Saya gak tahu! Yang saya tahu sih, wanita hamil itu penjual kue dan lauk keliling." jelas Wanita itu lagi.

__ADS_1


Aditia seperti menemukan setitik cahaya tentang keberadaan istrinya.


"Terimakasih informasinya, mbak," ucap Aditia dengan sedikit menyunggingkan senyuman nya.


__ADS_2