Pengorbanan Terakhir Istri Kedua Sang CEO

Pengorbanan Terakhir Istri Kedua Sang CEO
KEPERGIAN FARIDA


__ADS_3

Setelah sarapan, Aditia berangkat kekantor seperti biasanya.


Setelah berpamitan dan cupika cupiki dengan istri dan calon bayinya, ia segera berangkat ke kantor.


"Sayang, mas berangkat dulu ya! Ingat pesan mas, jangan capek-capek," ucap Aditia yang selalu mengingatkan sang istri.


"Iya mas, harus berapa kali sih mas ngulangin perkataan mas? Ida sampe bosen deh dengar nya?" Farida pura-pura sewot dengan suaminya.


"Ya maaf, mas kan takut kamu dan bayi kita kenapa-kenapa," kata Aditia.


Setelah itu, ia benar-benar pergi ke kantor.


Tanpa di sadari, sepasang mata sedang memperhatikan mereka dari balkon kamar yang ada di lantai atas.


"Hmm, sialan!" geram pemilik sepasang mata itu, yang tak lain adalah Karina. "Aku pastikan, hari ini terakhir kamu ada di rumah ini," sambungnya.


Setelah berbicara demikian, ia masuk kembali ke kamar nya. Entah apa yang di lakukan Karina di dalam kamarnya.


Di lantai bawah.


"Nduk, mau nitip apa? Mbok mau ke swalayan. Stok belanjaan sudah habis," kata mbok Yuyun kepada Farida.


"Ida minta belikan jeruk yang kulitnya masih segar dan hijau ya, mbok," ucap Farida yang sedang duduk di ruang tengah sambil menonton televisi.


"Ada lagi?" tanya mbok Yuyun.


"Udah, itu aja!" timbal Farida.


Setelah itu, mbok Yuyun bergegas pergi ke pasar.


Selepas kepergian mbok Yuyun, Karina turun dari lantai atas dengan wajah sembab dan penampilan acak-acakan.


"Mbak Karina," ucap Farida saat melihat Karina mendekatinya. "Mbak kenapa?" tanya nya.


"Kapan kamu balikin suami ku, Farida? Aku udah gak tahan lagi?"


Jlebb, jantung Farida seakan berhenti berdetag. Sedalam itukah ia melukai perasaan Karina, wanita yang menjadi kakak madunya.


"Kamu bilang, kamu bakal buat dia kembali dan adil sama aku, nyata nya apa? Sampai saat ini dia masih gak perduli!" Karina menangis, menangis pilu. Ini lah cara yang sangat ampuh untuk menyingkirkan perempuan seperti Farida.


"Ida harus bagaimana mbak?" tanya Farida yang matanya mulai memanas.

__ADS_1


"Pergi Farida, pergi! Dengan kamu pergi, maka Aditia akan kembali sama aku," ucap Karina dengan lantang.


Jduarrr..!! Bagai di sambar petir di siang bolong. Dada Farida bergemuruh hebat, ia tidak menyangka sama sekali. Kenapa kakak madunya itu dengan mudah mengatakan pergi!


"Pergi Farida, Pergi sejauh mungkin dari kehidupan Aditia. Itulah jalan satu-satunya," kata Karina selanjutnya.


Farida masih tetap diam di tempat, dengan air mata yang terus menetes. Fikiran nya bertolak belakang dengan hatinya.


Fikiran mengatakan pergi, namun hati, hatinya mengatakan jangan.


"Aku harus membulatkan tekad ku, aku harus pergi! Mungkin dengan aku pergi, semua akan membaik dengan seiringnya waktu," ucap Farida di dalam hati.


Setelah lama diam, akhirnya Farida berjalan gontai menaiki anak tangga. Ia tidak mengatakan sepatah kata pun kepada Karina.


Sekitar dua puluh menit kemudian, ia turun lagi dari lantai atas dengan menyeret koper pakaiannya.


"Mbak, Ida pergi! Tolong jaga mas Adit, Ida percayakan mas Adit sama mbak," ucap Farida sambil menyeka air matanya.


"Maafkan aku Farida, tapi aku gak punya pilihan lain," kata Karina dengan wajah yang sudah sangat berantakan.


"Maafkan Ida ya, mbak, Ida telah merebut apa yang sudah menjadi milik mbak Karina," ucap Farida tanpa mendengarkan perkataan Karina.


Karena yang ada di fikiran nya adalah perkataan Karina yang memintanya pergi jauh.


Farida tersenyum mendengar perkataan kakak madunya itu. "Mbak tenang aja, Ida pergi cuman bawa tabungan Farida semenjak jadi istri mas Adit kok, mbak," kata Farida sambil tersenyum kecut.


"Bukan maksudku gak boleh kamu bawa dan pakai, tapi Aditia akan tahu keberadaan kamu dimana kalau kamu pakai kartu itu," jelas Karina tanpa beban dan dosa.


"Selama ini, Ida emang gak pernah pakek kartu itu kok. Jadi mbak tenang aja." timbal Farida.


"Ya udah, sana pergi! Nanti mbok Yuyun keburu pulang," kata Karina.


Farida semakin tersenyum kecut, bagaimana tidak! Kepergiannya seperti menjadi kebahagian besar untuk Karina, ehh bukan seperti tapi memang.


"Farida pamit mbak, sekali lagi maaf dan tolong layani mas Adit dengan baik," kata Farida lagi sebelum ia benar-benar pergi.


Ia berjalan pelan, berharap kakak madunya itu menghentikan langkahnya.


Dan benar saja, beberapa langkah lagi sampai di abang pintu. Karina benar-benar memanggilnya.


"Farida,,!" teriak Karina dengan suara serak karena terlalu lama menangis, ehh bukan karena menangis. Tapi terlalu banyak meneguk minuman beralkohol tepatnya.

__ADS_1


Farida tersenyum saat mendengar bariton yang berasal dari mulut Karina. Dengan perlahan ia membalikan tubuhnya.


"Yang jauh, aku gak mau Aditia nemuin kamu lagi!" Bukan kata itu yang di harapkan oleh Farida. Melainkan jangan pergi.


Dengan air mata berlinang, Farida menganguk.


Setelah itu, ia benar-benar pergi.


Sesampainya di luar rumah megah itu, beberapa kali ia menoleh kebelakang. Melihat dan membayangkan kenangan indah yang tidak akan pernah ia lupakan.


Di gerbang rumah itu, ia mengelus perut buncitnya.


"Maafkan bunda sayang, bunda harus Membawa mu pergi jauh dari ayah mu. Sungguh bunda tidak ingin pergi, tapi keadaan selalu memaksa," ucapnya yang tak henti-hentinya menangis.


Ia pun berjalan menyusuri jalanan beraspal itu sambil menunggu taxi yang lewat.


Saat ia mendapat taxi, ia pun segera masuk kedalam taxi tersebut. "Jalan pak," ucap Farida pada sopir taxi itu.


Supir taxi itu segera melajukan kendaraannya.


"Loh, loh! Yang dalam mobil itu kok kayak nduk ya?" mbok Yuyun yang berada di dalam angkot sempat melihat Farida yang memasuki taxi.


"Mana mungkin itu nduk, mata sudah tua! Rabun, nduk kan di rumah," kata mbok Yuyun, ia menepis jauh-jauh fikiran buruknya.


Tak terasa, sudah hampir satu jam taxi itu melaju. Dan akhirnya, supir taxi itu menepikan kendaraannya dan memberanikan diri untuk bertanya. "Tujuan mbak mau kemana?" tanya sopir taxi itu.


"Gak tau pak." timbal Farida. Ia menangis tanpa suara, supir taxi itu tau keadaan Farida. Meski tanpa suara, tubuh Farida selalu bergetar.


"Mbak, saya tidak tahu masalah mbak seperti apa? Tapi kalau mbak tidak punya tujuan, bagaimana kalau mbak tinggal di rumah saya," tawar supir taxi itu.


Farida hanya mendongakkan wajahnya sekilas, setelah itu ia menunduk lagi.


"Mbak jangan berfikir macam-macam, saya tinggal bersama nenek saya," supir taxi itu membuka topi yang melekat di kepalanya.


Dan tambak lah, pemuda tampan yang usianya masih belasan tahun.


"Nama saya Agus mbak, saya yatim piatu dan tinggal bersama nenek saya. Dan kalau mbak mau, mbak bisa tinggal sama saya dan nenek tapi rumah kami tidak seperti rumah suami mbak," jelas Agus si supir taxi itu.


"Kamu tau tempat tinggal saya?" tanya Farida setengah terkejut.


"Siapa yang tidak tahu dengan mbak, mbak istri tuan Adit," kata supir taxi itu. "Saya janji tidak akan memberitahu tuan Adit, asal mbak tidak pergi jauh dari sini. Mbak orang baik, saya tidak mau terjadi sesuatu dengan mbak dan calon anak mbak," kata Agus.

__ADS_1


Farida nampak menimbang-nimbang tawaran dari pemuda yang ada di hadapannya.


"Ya udah, saya mau ikut kamu," kata Farida tiba-tiba.


__ADS_2