Pengorbanan Terakhir Istri Kedua Sang CEO

Pengorbanan Terakhir Istri Kedua Sang CEO
HEMBUSAN NAFAS TERAKHIR


__ADS_3

Aditia bersiap pergi mencari Farida bersama Asisten Zee, karena feliing Aditia sangat kuat bahwa Farida memang berada di kampung salak. Tempat ia mencari Farida sebelumnya.


"Ayo! Zee, kita harus cepat. Aku sangat yakin bahwa Farida memang berada di kampung itu," kata Aditia pada Asisten Zee.


"Baik, tuan." Asisten Zee segera masuk kedalam mobil dan mengemudikan mobil tuan nya itu dengan kecepatan sedang.


"Do'a kan ya Zee, hari ini menjadi hari terakhir aku mencari istri dan anak ku. Aku sangat berharap kami bisa berkempul bersama lagi," ucap Aditia yang tatapannya lurus memandang jalanan yang ada di hadapannya.


"Selalu Tuan, saya selalu mendo'a kan yang terbaik untuk keluarga kecil Tuan." kata Asisten Zee sambil menyunggingkan sedikit senyumannya.


"Tanpa kau minta Tuan, aku selalu ber do'a pada tuhan. Agar tuan dan Nyoya Farida segera bersatu lagi," ucap Asisten Zee dalam hati.


***


"Aku tidak akan membiarkan kamu menemui, Farida," ucap Bara.


"Hm, kita lihat saja nanti! Aku akan membunuh wanita itu," kata Karina.


"Wanita laknat! Jahanam!" geram Bara.


Karina semakin melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi.


"Dari pada kamu menyakiti Farida lagi, lebih baik kita mati bersama di dalam mobil ini," ucap Bara.


Tangan Bara sibuk merebut stir kemudi dari tangan Karina.


"Hahaha," tawa Karina pecah di tengah-tengah melaju kencangnya mobil itu. "Aku tidak akan mati, sebelum perempuan sialan itu mati," kata Karina sambil berebut stir mobil itu dengan Bara.


Keduanya seperti anak kecil yang sedang merebutkan sebuah mainan baru.


Mobil Karina melaju dengan kecepatan tidak stabil, membuat pengendara yang ada di depan dan belakang mereka ketakutan.


Oleng, ya oleng kata yang tepat untuk mobil yang di kendarai Karina dan Bara saat ini.


Lama mereka berdua berdebat sambil berebut kemudi mobil itu, Hingga mobil itu semakin oleng dan pada akhirnya mobil yang mereka kendarai menabrak batang pohon besar yang berada di persimpangan jalan.


"Bara...!" teriak Karina.


"Kita akan mati Karina, kita akan mati.." Bara ikut berteriak.


"Aaaaaa...!" teriak keduanya bersamaan.

__ADS_1


Dubrakkkk..!


Selang beberapa menit kemudian, Jalanan menjadi macet. Karena para pengendara berebut ingin melihat kejadian na'az itu.


"Zee, coba kau lihat. Ada apa di depan sana? Kenapa jalanan menjadi macet seperti ini?" Aditia memerintah Asisten Zee untuk turun dari mobil, dan melihat kejadian yang berada agak jauh dari mereka.


"Baik Tuan," ucap Asisten Zee sambil keluar dari mobil dan berjalan menuju tempat di mana banyak orang berkumpul dan berkerumun.


Setelah sampai di tempat kejadian, Asisten Zee bertanya kepada salah seorang warga.


"Pak, permisi. Saya numpang tanya, di depan sana ada apa? Kenapa macet di jalanan ini sangat panjang?" tanya Asisten Zee.


"O, itu Mas. Di depan sana ada mobil Sedan hitam yang menabrak pohon, sebelumnya sih. Mobil yang menabrak pohon itu, melaju dengan oleng," jelas Warga tempat Asisten Zee bertanya.


"Terimakasih pak, kalau begitu saya ingin lihat kesana sebentar," ucap Asisten Zee lalu berjalan mendekat pada kerumunan warga yang berada di tempat kejadian.


"Astaga! Nyonya Karina, aku tidak salah lihat. Itu adalah mobil Nyoya Karina," kata Asisten Zee.


Lalu ia berlari sambil memanggil-manggil nama Aditia.


"Tuan Aditia.. Tuan.." panggil Asisten Zee.


"Di depan ada kecelakaan Tuan, dan kalau saya tidak salah lihat. Mobil yang menabrak itu adalah mobil Nyonya Karina," kata Asisten Zee.


Aditia langsung keluar dari mobil, dan Berlari ke tempat kejadian mendahului Asisten Zee.


Tanpa menghiraukan orang-orang di sekeliling nya. Aditia yang di bantu Zee langsung berusaha membuka pintu mobil itu.


Dengan susah payah mereka berusaha membukanya, dan akhirnya pintu mobil samping kamudi terbuka.


"Bara!" pekik Aditia.


Bara yang bersibah darah Namum masih sadarkan diri itu tersenyum pada Aditia.


Melihat Bara yang masih sadarkan diri, Aditia segera menarik dan membopong tubuh Aditia ke pinggiran jalan.


Sedangkan Karina, ia di keluarkan oleh Asisten Zee dengan bantuan dua orang polisi yang baru tiba di tempat kejadian itu.


"Bara, kita kerumah Sakit sekarang," kata Aditia yang hendak menggendong tubuh Bara kembali.


Bara menggeleng lemah, ia menggengam tangan Aditia.

__ADS_1


"Aditia.. Ma-maaf kan a-aku, a-ku adalah manusia jahat. Te-ri-makasih su-sudah mau per-duli dengan keadaan ku, to-long jem-put Fa-farida di Kampung salak, tepatnya di rumah nomer 07 ber cat warna biru. Hi-hingga kini ia masih baik-baik sa-ja, ia men-cin-tai mu. Ja-jangan bi-biarkan Ka-rina menyakitinya la-gi." Setelah berkata demikian, Bara menghembuskan nafas terakhirnya di pelukan sahabatnya.


Aditia menangis, ia menangis sedih. Sungguh di lubuk hatinya yang paling dalam, ia menyayangi Bara. Sahabat satu-satunya yang ia miliki sejak kecil, walaupun Bara telah menyakiti nya, namun ia tetap menyayangi Bara.


"Tidak...! Bara, bangun!" Teriak Aditia dengan histeris.


"Ambulance, panggil ambulance! Kenapa kalian semua menjadi bodoh!" teriak Aditia pada orang di sekeliling nya.


Beberapa menit kemudian, Ambulance datang.


Dengan setia Aditia memeluk tubuh Bara, bukan tubuh Karna yang juga bersimbah darah dan tak sadarkan diri. Padahal Karina masih sah menjadi istrinya, setidak peduli itukah Aditia dengan keadaan Karina?


"Tuan, Ambulance sudah datang," ucap Asisten Zee sambil menepuk pelan pundak tuannya yang sedang menangis itu.


"Bawa Karina ke rumah sakit, Zee." perintah Aditia "Aku akan membawa jenazah Bara ke rumah untuk di bersihkan," sambungnya.


Asisten Zee menganguk, dan segera ikut naik ke mobil Ambulance yang membawa Karina.


Sedangkan Aditia, ia menggendong tubuh Bara ke Ambulance yang lain. Dan segera membawa Jenazah Bara pulang, bukan ke kediaman Bara namun ke Kediamannya.


Tak lama kemudian, mobil Ambulance yang membawa Jenazah Bara, tiba di depan kediaman Aditia.


"Astaufiraullah, siapa yang meninggal?" mbok Yuyun yang mendengar bunyi sirine Ambulance panik, ia segera berlari keluar dan melihat ke arah suara sirine tersebut.


Alangkah terkejutnya mbok Yuyun, saat melihat Aditia yang turun dari Ambulance itu dengan baju kemeja putih yang sudah di penuhi noda merah. Bahkan bukan hanya pakaiannya, melainkan wajahnya pun ikut terkena noda merah yang sudah mulai mengering itu.


"Den... Ada apa ini? Kenapa ada Ambulance? Dan siapa yang berada di dalam Ambulance itu?" tanya mbok Yuyun bertubi-tubi.


"Siapkan segala keperluan Jenazah nya, Mbok! Kita tanamkan Jenazah nya sore ini," ucap Aditia dengan wajah sembab dan tubuh lemah.


"Siapa yang meninggal, Den!?" tanya mbok Yuyun dengan rasa penasarannya.


Dua orang turun dari Ambulance itu sambil mendorong brankar mayat yang sudah di tutup dengan kain putih.


Mbok Yuyun menangis, Ia berfikir bahwa yang di tutupi kain putih itu adalah Nona mudanya.


Tanpa berani membuka kain putih itu, mbok Yuyun segera berlari masuk kedalam rumah sambil menangis terisak.


**Maaf๐Ÿ™๐Ÿ™ sudah lama tidak updateโ˜บ


AWAS BANYAK TYPO๐Ÿƒโ€โ™€๏ธ๐Ÿƒโ€โ™€๏ธ๐Ÿƒโ€โ™€๏ธ**

__ADS_1


__ADS_2