Pengorbanan Terakhir Istri Kedua Sang CEO

Pengorbanan Terakhir Istri Kedua Sang CEO
SIKAP ANEH FARIDA


__ADS_3

Dua bulan kemudian.


Farida terbangun dari tidur saat merasakan perutnya bergejolak.


Ia turun dari ranjang dan berlari ke kamar mandi.


"Huekk,, huekk,," ia memuntahkan isi perutnya.


Aditia yang mendengar suara Farida di kamar mandi, langsung menyusulnya.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Aditia.


"Gak tahu mas, perut Ida mual terus kepala Ida juga pusing." timbal Farida sambil memegangi perutnya.


Lagi-lagi ia memuntah kembali, namun hanya cairan kuning yang keluar dari perutnya.


Dengan telaten, Aditia membantu menggosok punggung istri kecik nya itu.


"Kita kerumah sakit ya," ajak Aditia.


"Enggak mas, Ida gak papa kok. Mungkin cuman masuk angin." Farida menolak ajakan suaminya.


"Kamu yakin! Atau kita panggil dokter aja ya," kata Aditia.


"Enggak, Ida gak papa," kata Farida meyakinkan suaminya.


"Ya udah, yuk istirahat lagi. Biar mas beli makanan di luar aja, buat kita sarapan." Aditia memapah Farida kembali kekamar.


Aditia membantu istrinya berbaring, dan menyelimuti tubuh istrinya.


Namun saat ia hendak pergi dari kamar itu. Farida memanggil nya.


"Mas," Panggil Farida. "Temenin Ida, Ida gak mau sendirian," ucap Farida dengan manja.


"Mas mau beli sarapan sebentar sayang," ucap Aditia sambil berjalan mendekati istrinya lagi.


"Mas gak boleh kemana-mana! Ida mau di peluk," kata Farida sambil memajukan bibirnya.


"Ya udah, mas pesan di grab aja ya. Sini mas peluk," Aditia ikut membaringkan tubuhnya di samping sang istri.


"Mas, Ida mau tidur. Tapi mas jangan kemana-mana loh!" kata Farida sambil memeluk suaminya dengan erat.


"Iya, mas gak akan kemana-mana!" Aditia membelai rambut istrinya.


Beberapa jam kemudian, suara bel apartemen itu berbunyi.


Aditia beranjak dari tidurnya dan berjalan keluar untuk membuka pintu.


"Ini pesanannya pak," ucap Seorang kurir memberikan bungkusan makanan kepada Aditia.


"Ini uangnya mas, terimakasih ya!" Aditia memberikan uang kepada kurir itu lalu masuk kembali ke dalam apartemen.

__ADS_1


Ia mengeluarkan isi bungkusan itu, lalu membawanya kedalam kamar.


Sesampainya di kamar, ia meletakan makanan itu di atas nakas. Dan membangun kan istri.


"Sayang, bangun! Ini makanannya udah datang," ucap Aditia sambil mengusap wajah Farida.


Farida mengerjakan matanya, lalu beranjak dan menyandarkan tubuhnya di sandaran ranjang.


"Yuk sayang, makan dulu. Ini mas pesan nasi goreng kesukaan kamu," ucap Aditia sambil menyodorkan piring nasi goreng itu kehadapan istrinya.


"Mas, kok makanannya kayak gitu sih! Ida gak mau," ucap Farida mendorong piring makanan yang di sodorkan Aditia.


"Kenapa? Bukannya ini nasi goreng kesukaan kamu!" Aditia mengeryitkan dahinya, ia merasa aneh dengan istrinya.


"Aku gak mau, Ida mau makan siomay aja," Farida menolak nasi goreng itu.


"Siomay! Sejak kapan istri mas suka sama Siomay?" tanya Aditia.


"Pokoknya, aku mau siomay mas! Mas kenapa sih! Gak ngerti juga," ucap Farida.


"Iya-iya, mas keluar sebentar ya. Kamu tunggu disini, nanti mas pulang bawa siomay yang kamu mau," kata Aditia sambil meletakan piring nasi goreng itu.


"Tapi jangan di kasih bumbu ya mas! Siomay aja gak usah di kasih apa-apa," kata Farida, lagi-lagi Aditia di buat melongo dengan tingkah aneh istrinya.


"Kalo gak pake bumbu saus dan kecap, terus makannya gimana?" tanya Aditia.


"Pokoknya aku mau kayak gitu mas," rajuk Farida.


"Udah itu aja," kata Farida "Tapi belinya sama mamang-mamang yang jualan keliling." sambungnya


"Hedeh,,!" Aditia menepuk jidadnya.


Setelah itu, Aditia pun segera pergi mencari siomay pesanan istrinya.


Setengah jam sudah ia berkeliling komplek sekitar apartement itu, namun ia tidak menemukan penjula siomay. Hingga ia mencari penjual siomay lebih jauh lagi.


Aditia menepikan mobilnya di pinggir jalan, tempat banyak pedagang kaki lima sering mangkal berjualan.


Ia mengelilingi tempat itu. Namun tiba-tiba seseorang memanggilnya.


"Adit! Aditia kan?" Seseorang pria yang memanggil nama Aditia mendekatinya.


"Iya, kamu siapa?" tanya balik Aditia.


"Ini aku Raka, dulu waktu kuliah kita satu kampus!" jelas Raka mengingatkan. (Raka belenggu gairah ceo tampan)


"Raka,,!" Aditia nampak berfikir. "Ouwhh, ya aku ingat! Apa kabar mu?" sambungnya setelah mengingat Raka.


"Aku baik, lalu apa yang kau cari di sini pagi-pagi?" tanya Raka.


"Aku, begini! Istri ku minta di belikan siomay tidak pakai bumbu. Tapi harus beli di penjual yang pakai gerobak." jelas Aditia. "Aku tidak mengerti, kenapa tingkahnya aneh sekali!" keluh nya.

__ADS_1


"Apakah istri mu sedang mengandung?" jika kau mau, ikut lah dengan ku. Aku akan tunjukan penjual siomay terenak di sekitar sini," kata Raka.


"Mengandung, mungkinkah!" wajah Aditia berubah semangat 45. "Ayo, akut takut istri ku Farida akan lama menunggu." sambung Aditia.


"Tunggu! Tunggu! Farida katamu? Bukankah kau menikah dengan Karina?" tanya Raka sambil menarik turunkan alisnya.


"Hmm, iya. Farida istri ku, Jika kau ingin tahu! Datanglah ke apartemen ku," kata Aditia sambil menyerahkan nomer telponnya dan juga alamat apartemen nya.


Singkat cerita, kini Aditia pulang dengan kantong kresek berisi siomay pesanan istrinya.


"Sayang! Maaf ya, mas lama," ucap Aditia sambil meletakan Siomay itu di atas nakas.


"Gak papa mas, sini! Ida mau makan siomay nya," kata Farida sambil beringsut dari tidurnya.


"Sayang, kita periksa ya udah ini! Kata teman ku tadi mungkin kamu hamil," ucap Aditia dan hal itu membuat Farida langsung tersedak.


"Ehh, sayang. Makannya hati-hati dong!" Aditia menyodorkan segelas air putih yang ada di sampingnya.


"Masa sih mas, Ida udah isi?" tanya Farida.


"Itu sih kata temen mas, makanya kita periksa ya," ajak Aditia.


Farida mengaguk, ia tersenyum manis saat mendengar kata mengandung.


Dengan cepat Farida menghabiskan sepiring siomay tanpa bumbu itu.


"Enak, sayang?" tanya Aditia.


"He'em! Mas gak makannya?" tanya Farida.


"Mas makan nasi goreng ini aja deh! Lagian mas udah kenyang lihat kamu makannya lahap," ucap Aditia sambil tersenyum.


"Mas gak selera makan lihat aku makannya banyak!" Farida tersinggung dengan ucapan Aditia.


"Loh! Kok kamu nanggepinnya kayak gitu sih yang?" Aditia mendekati istrinya.


"Mas jangan pegang-pegang! Ida tahu, mas gak suka sama Ida," ucap Farida dengan mata berkaca-kaca.


"Kamu kenapa sih yang? Kok malah marah dan nangis?" tanya Aditia yang bingung sendiri dengan tingkah istrinya.


"Mas jahat! Mas gak sayang sama Ida," kata Farida dengan menangis tersedu-sedu.


"Mas minta maaf ya, kalo mas salah bicara. Mas beneran deh gak punya maksud apa-apa ngomong gitu! Maksud mas tadi, mas kenyang karena kamu kenyang. Dan mas seneng, mungkin kamu beneran hamil makanya makan banyak," jelas Aditia sambil menyentuh dagu istrinya dengan lembut.


Farida mendongak kan wajahnya yang menunduk. "Beneran? Mas sayang sama Ida?" tanya Farida saat ia sudah mendongakan wajahnya dan menatap wajah Aditia. "Yuk kita periksa, siapa tahu Ida beneran hamil," sambungnya.


Aditia mengangguk sambil menghapus air mata istri kecilnya.


Farida tersenyum lagi. Bahkan memeluk tubuh Aditia yang berdiri di hadapannya dengan erat.


***Bersambung..!!

__ADS_1


Happt reading😘😘***


__ADS_2