Pengorbanan Terakhir Istri Kedua Sang CEO

Pengorbanan Terakhir Istri Kedua Sang CEO
BUTA


__ADS_3

"Gak mungkin.. Ini semua gak mungkin!" teriak seseorang dengan histeris. "Dokter.. Dokter.. Kenapa semuanya gelap.." teriak nya kembali.


Seorang Suster berlari dengan tergesa memasuki Ruangan rawat itu.


"Kenapa semuanya gelap?" tanya nya pada diri nya sendiri.


"Tenang Nyonya.. Tenangkan fikiran Anda," ucap Suster yang sudah berada di dalam Ruangan rawat itu.


"Suster.. Kenapa semuanya gelap? Hiks.. Hiks.. " tanya nya sambil terisak.


Suster itu mencoba menenangkan pasien. Ia berusaha menjelaskan secara perlahan.


"Mohon Nyoya yang tabah.. Anda mengalami kebutaan akbibat terjadi nya kecelakaan yang Nyoya alami seminggu yang lalu," jelas Suster.


"Lalu.. Di mana orang yang bersama saya saat kecelakaan itu terjadi?" tanya Orang itu yang tak lain Adalah Karina.


"Mohon Maaf.. Teman yang berada satu Mobil bersama Anda sudah meninggal, dan di bawa dua orang Pria pulang dari tempat kejadian." jelas Suster itu lagi.


"Bara.. Tidak mungkin.. Tidak mungkin.. Semua ini tidak mungkin terjadi, hiks.." Karina tak percaya dengan apa yang terjadi.


"Ini semua salah Wanita itu.. Iya Wanita itu yang harus bertanggung jawab," kata Karina dengan penuh amarah.


***


"Mas.. Kita harus tengok'in keadaan Mbak Karina di Rumah sakit. Siapa tahu dia susah siuman," kata Farida kepada Aditia.


"Biar kan saja, kalau dia udah sadar. Pasti pihak Rumah sakit ngehubungin kita." balas Aditia.


Farida pun terdiam, dan tak lama kemudian Ponsel yang ada di dalam saku celana Aditia berdering.


Ternyata dari pihak Rumah sakit yang menghubungi.

__ADS_1


"Hallo.." ucap Aditia.


".. .. .. "


"Baiklah.. Saya akan segera kesana!" sahut Aditia.


Setelah nya, ia mematikan sambungan telpon itu.


"Kenapa Mas?" tanya Farida pada Suaminya.


"Karina sudah sadar.. Dan dia mencari Bara, dia mengamuk karena tidak bisa melihat." jelas Aditia.


"Ya udah.. Ayuk kita kesana, kasian Mbak Karina. Dia pasti sangat terpukul," kata Farida dengan wajah sedih.


Aditia dan Farida pun segera pergi menuju Rumah sakit tempat di mana Karina di Rawat.


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih setengah jam, akhirnya Mobil yang di kendarai Aditia berhenti di parkiran Rumah sakit X.


"Ayo sayang.. Hati-hati," ajak Aditia pada Farida.


"Farida.. Hati-hati, nanti kamu jatuh!" Aditia memperingati istrinya.


"Ayo Mas, agak cepat. Ida pengen lihat keadaan Mbak Karina!" timbal Farida.


"Iya, tapi tolong hati-hati. Ingat! Kamu sedang mengandung anak kita," kata Aditia.


"Iya.. Aku ingat dan tau kok." jawab Farida.


Aditia pun hanya bisa menghela nafas dengan kasar.


Kini tiba lah mereka di depan rawat Karina. Farida masuk dengan perlahan ke dalam ruangan itu, dan mendekati Karina yanh sedang tertidur.

__ADS_1


"Mbak Karina.." panggil Farida dengan lirih.


Karina terbangun dari tidurnya saat mendengar suara orang yang paling ia benci memanggil nya.


"Kamu.. Mau apa kamu kesini?" teriak Karina "Sekarang kamu puas kan? Kamu puas sudah membuat aku buta dan membuat Bara meninggal?" sambung Karina yang penuh dengan kebencian.


"Mbak Karina kok bicara seperti itu?" tanya Farida. "Ida kesini buat jengukin Mbak Karina," sambungnya dengan lembut.


"Gak usah pura-pura baik dan Iba sama aku! Sedikit pun aku gak akan pernah suka sama kamu! Dasar pelakor, wanita jahat!" maki Karina semaunya.


Air mata Farida menetes dengan sendirinya kala mendengar perkataan Karina yang sangat melukai hatinya.


"Cukup Karina!" bentak Aditia yang berada di belakang Farida. "Jangan selalu menyalahkan Farida, anggap lah semua ini teguran dari Tuhan untuk kamu, atas semua salah dan dosa yang kamu lakukan!" Sambung Aditia dengan geram.


"Kamu tu selalu belain dia..!" tunjuk Karina ke ujung nakas yang ada di sampingnya bukan pada Farida. "Harusnya kamu belain aku, yang jelas-jelas istri pertama kamu. Bukan pelakor macam dia!" kata Karina kemudian.


"Kalo kamu masih menyalahkan Farida, aku gak akan pernah nemuin kamu lagi. Biarlah kamu hidup selama nya di dalam kegelapan dan kesendirian!" ketus Aditia.


"Mas.. Udah, kasian Mbak Karina," lirih Farida.


"Hahh.. Kamu selalu kasian sama orang lain, tapi gak kasian sama Aku dan diri kamu sendiri!" timbal Aditia.


Setelah itu, Aditia pergi dari Ruangan Rawat Karina. Dengan perasaan sedih, Farida pun mengikuti langkah Suaminya.


"Aku benci kamu.. Aku benci Kamu perempuan Sialan!" maki Karina sambil mengacak-acak barang yang ada di sekiranya.


"Aku akan membunuh mu.. Aku akan membunuh mu.. Hahhhhhh.." teriak Karina.


Di luar ruangan itu, "Mas.. Mas gak boleh ngomong kasar sama Mbak Karina," kata Farida.


"Lalu aku harus gimana? Harus baik kin dia yang udah jahat sama kita?" tanya Aditia yang tak habis fikir pada istrinya itu.

__ADS_1


"Aku gak minta kamu baikkin dia, tapi se enggak nya bersikap lah lebih lembut sama Mbak Karina. Dia lagi terpukul Mas, dia butuh dukungan dari kita." kata Farida.


"Terserah.. Terserah kamu mau kayak mana? Aku capek, aku capek harus selalu ngalah sama dia!" kesal Aditia. "Aku mau pulang, terserah kamu mau ikut atau tetap di sini!" sambungnya lalu berjalan dengan cepat meninggalkan Farida yang diam mematung di luar Ruangan rawat Karina.


__ADS_2