Pengorbanan Terakhir Istri Kedua Sang CEO

Pengorbanan Terakhir Istri Kedua Sang CEO
PERTENGKARAN


__ADS_3

Store harinya, Aditia pulang dari kantor dengan wajah lesunya.


Namun lesunya mendadak hilang setelah melihat senyumanan manis istrinya dengan perut buncit.


"Mas, baru pulang!" Farida berdiri di ambang pintu saatendengar seruan mobil suaminya mendekati halaman rumah.


"Iya, gimana hari ini? Anak kita nakal enggak?" tanya Aditia sambil mengelus perut buncit itu.


Farida menggeleng, dan ia segera mengajak suaminya masuk. "Ayo mas, kita masuk. Mas pasti capek!"


"Iya, mas capek tapi tadi. Setelah melihat senyuman kamu, capek mas langsung hilang," kata Aditia sambil mencubit pipi gembul istrinya.


"Mas, sakit taukk," Farida memajukan bibirnya.


"Jangan maju-maju bibirnya, entar mas makan!" Aditia terkekeh dan menggoda istri kecilnya itu.


Mata Farida mendelik mendengar ucapan suaminya.


Mereka berdua menaiki anak tangga, sampai di atas tangga. Ternyata ada Karina yang menunggu.


"Ehh, udah pulang! Sini aku yang bawain kopernya," kata Karina sambil meraih tas kerja Aditia yang berada di tangan Farida.


Farida diam, dan memberikan tas tersebut.


"Kamu mandi di kamar kita aja ya," kata Karina tak tahu malu.


"Iya mas, mas mandi di kamar mbak Karina aja ya," tambah Farida.


"Kenapa?" tanya Aditia sambil mengerutkan dahinya.


"Gak papa, Ida lagi pengen sendiri aja di kamar. Dan alangakah baiknya, mas istirahat di kamar mbak Karina dulu," kata Farida.


Sedangkan Karina, diam-diam ia tersenyum licik. Karena ia kira, Aditia akan bersedia untuk istirahat di kamar yang menjijikan bagu Aditia.


"Yuk, kita kekamar," ajak Karina.


Aditia langsung menepis tangan Karina yang menyentuh tangan kirinya. "Jangan pegang, aku mau mandi di kamar bawah aja," kata Aditia.


Ia turun lagi dari lantai atas tanpa menghiraukan Karina dan juga Farida.


"Ini semua gara-gara kamu tahu gak! Kamu gak usah pura-pura baik lagi sama aku, kamu ngomong gitu di dekat Aditia, tapi di belakang aku. Kamu pasti udah ngeracunin otak Adit biar dia benci sama aku!" Karina menunjuk-nunjuk wajah Farida, ia kesal dengan Aditia yang tidak menghiraukannya dan kekesalan nya, ia limpahkan pada Farida yang tidak bersalah.


"Maaf mbak, Ida gak yang seperti mbak fikirkan. Nanti Ida akan bujuk mas Adit, Ida pastikan malam ini mas Adit akan tidur di kamar mbak," kata Farida dengan wajah takut.


"Aku tunggu, dan akan aku tagih terus janji kamu!" Lagi-lagi Karina menujuk wajah Farida, setelah puas memaki-maki Farida, Karina pun kembali ke kamarnya.

__ADS_1


Setelah Karina pergi, Farida pun memasuki kamarnya.


Ia duduk termenung di tepian ranjang.


"Apa salah ku, ya allah? Sehingga kau buat orang-orang di sekitar ku tidak menyukai kehadiran ku! Jika dengan aku pergi, mbak Karina bisa kembali dengan mas Adit. Maka aku akan pergi jauh! Tapi jika memang mereka di takdir kan berpisah dan mas Adit menjadi milik ku, maka ku mohon berikan aku petunjukku," ucap Farida dalam hati, dan tak terasa air matanya pun jatuh membasahi pipinya.


Lama ia termenung di tepian ranjang itu, dan tanpa ia sadari, Aditia sudah lama memperhatikannya.


"Sayang," panggil Aditia.


Namun, Farida tidak mendengar. Aditia pun mendekati dan ikut duduk di samping sang istri.


"Sayang kamu kenapa?" tanya Aditia "Kok mas lihat, kamu kayak lagi banyak fikiran?" tambah Aditia.


"Ehh, mas! Ida gak papa kok." Farida menoleh pada suaminya yang ada di sebelahnya.


"Kamu bohong!" Aditia menarik tubuh gembul itu kepelukannya.


"Mas," panggil Farida dengan lirih.


"Hmm, apa?"


"Ida boleh minta sesuatu gak?" Tanya Farida dengan hati-hati.


"Minta apa?' tanya Aditia.


"Iya, mas janji! Emang istri mas mau minta apa sih? Pindah dari sini, mobil, perhiasan atau apa?" tanya Aditia.


"Ida gak minta harta mas, Ida cuman minta mas adil sama Karina," kata Farida sambil melukis pada tubuh suaminya yang bertelanjang dada.


Aditia terkejut, dan langsung melepas pelukannya. "Kamu gila! Mas gak bisa! Pokoknya mas gak bisa!" Aditia kenaikan suaranya.


"Tapi mas tadi udah janji! Mas gak boleh ingkar!" timbal Farida.


"Kami boleh minta apa aja, tapi enggak sama yang satu itu!" tegas Aditia.


Farida menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya dengan kasar. "Oke, kalau mas gak mau bersikap adil sama mbak Karina. Biar Ida yag mundur mas," kata Farida dengan mata berkaca-kaca.


Jduar..!!


Bak di sambar petir di siang bolong, Dada Aditia serasa sesak.


"Coba ulangi!" kata Aditia dengan suara gemetar.


"Ida akan mundur kalau mas gak mau bersikap adil antara Ida dan mbak Karina," kata Farida memperjelas kata-katanya.

__ADS_1


"Hahaha," Aditia tertawa sumbang, setetes kristal jatuh dari kelopak mata pria tampan itu. "Karina bilang apa sama kamu? Mas mencintai kamu dan anak kita, bukan Karina!" Aditia menggerakkan tangannya kekiri dan kekanan.


"Ida tahu mas, tapi mbak Karina juga istri mas! Maa harus bersikap adil, poligami dalam islam di izinkan. Tapi semua itu ada syaratnya mas," kata Farida yang juga ikut menangis. "Mas harus izin sama istri pertama mas dulu, baru mas bisa menikahi Ida. Apa sebelum mas menikahi Ida, mbak Karina tahu dan mas minta izin? Enggak kan mas? Dan apa mas bersikap adil selama ini? Enggak kan?" sambung Farida.


Aditia bungkam mendengar dan menerima kata-kata yang keluar dari mulut istri keduanya.


"Mbak Karina! Mbak Karina juga perempuan mas, perempuan sama seperti Ida! Lalu bagaimana kalau seandainya anak kita terlahir perempuan dan setelah dia besar dia di beri tuhan posisi yang sama dengan mbak Karina saat ini? Ida tahu mbak Karina lah yang memulai semua kesalahan ini! Tapi mas gak berhak membalasnya, tuhan mas! Kita punya tuhan!" Farida mengeluarkan semua uneg-unegnya. Wajahnya memerah dan airmata nya pun mengalir tiada henti.


Karina yang menguping pertengkaran itu tersenyum bahagia. "Maafkan aku Farida, tapi aku gak mau Aditia bahagia sama kamu. Karena dia milik ku, hanya milik Karina!" lirih Karina yang berada di balik pintu kamar itu.


"Kalau itu mau kamu, oke! Mas akan ceraikan Karina! Agar tidak ada poligami lagi dalam keluarga ini!" setelah cukup lama bungkam, akhirnya Aditia angkat bicara.


Karina langsung mendelik saat mendengar Aditia akan menceraikannya.


"Mas,,! Tolong ngertiin Ida sedikit aja, mbak Karina bukan ingin perceraian, dia ingin perhatian mas. Sama seperti yang Ida inginkan!" Farida menatap suaminya penuh harap.


"Baiklah, mas akan berikan apa yang di inginkan oleh Karina!"


Mendengar Aditia yang hendak keluar dari kamar itu. Karina segera bergegas pergi.


Aditia berjalan dengan cepat dan memnanging pintu kamar itu dengan sangat kasar.


Setelah kepergian Aditia. Tangis Farida semakin menjadi.


Tubuhnya melemah, dan merosot begitu saja kelantai.


"Maafkan Ida, mas! Ida gak bermaksud ngomong gitu! Ida juga gak rela berbagi suami, tapi di sini Ida lah yang paling bersalah," Farida memukul-mukul dadanya yang terasa sesak.


"Ya allah, kuatkan aku!" Farida menengadahkan wajah nya ke langit-langit kamar itu.


Aditia membuka pintu kamar Karina dengan kasar, dan membating pintu itu sama seperti yang ia lalukan di kamar Farida, istri yang ia cintai.


"Karina,,!" teriak Aditia yang mencari keberadaan Karina.


"Karina,,! Dimana kamu?" teriak Aditia lagi.


Karina yang berada di kamar mandi pun tersenyum, mendengar suara Aditia yang manggilnya.


"Aditia, kenapa?" tanya Karina dengan selembut mungkin.


Aditia mendekati Karina yang berada di ambang pintu kamar mandi dengan wajah memerah.


***Bersambung..!!


Apa yang akan terjadi setelah ini?

__ADS_1


AWAS BANYAK TYPO🏃‍♀️🏃‍♀️🏃‍♀️***


__ADS_2