Pengorbanan Terakhir Istri Kedua Sang CEO

Pengorbanan Terakhir Istri Kedua Sang CEO
PERTIKAIAN


__ADS_3

Makan hari nya, Aditia pulang ke kediamannya.


Ketika sampai, ia langsung di sambut oleh Karina. Bukannya senang, Aditia malah terganggu.


"Sayang, kamu udah pulang!" sapa Karina. Penampilannya malam ini sangat-sangat berbeda. Bagaimana tidak, Karina hanya mengenakan lingrie yang seperti jaring ikan.


"Kenapa kamu di kamar ini? Siapa yang mengizinkan kamu masuk!" bentak Aditia.


Bukanya ketakutan, Karina malah mendekati Aditia.


"Kenapa aku harus izin? Aku kan istri kamu," kata Karina sambil memegang tangan kanan Aditia.


"Lepas! Jangan pegang-pegang!" ketus Aditia.


"Kenapa? Kenapa kamu selalu nolak aku?" tanya Karina sambil memainkan jemarinya.


"Ku bilang lepas! Cepat pergi sebelum aku berbuat kasar, Karina!" Suara Aditia semakin meninggi.


Karina melepaskan pegangan dari tangan dan tubuh Aditia.


Kini ia pergi menuju pintu, namun bukan keluar melainkan mengunci pintu kamar itu.


"Hmm," Karina tersenyum sambil melempar kunci kamar itu ke bawah kolong ranjang.


"Apa yang kamu lakukan, Karina?" tanya Aditia, rahangnya mulai mengeras. Ingin rasanya ia mencabik-cabik tubuh Karina.


"Sederhana! Aku ingin nafkah batin darimu," ucap Karina dengan santai.


Ia berjalan mendekati Aditia, "Aku mengingkannya Aditia, aku juga tau kalau saat ini kau sedang ingin," bisiknya.


Aditia terdiam, memang sudah cukup lama ia tidak menikmati permainan ranjang. Biasanya beberapa hari sekali, ia pasti mendapatkan makan malam dari Farida.


Karina melepaskan lingeri yang ia pakai di hadapan Aditia. Aditia melihat tubuh Karina tanpa berkedip.


"Ayo, sayang!" Karina merapatkan tubuhnya pada dada bidang Aditia.


Kini dada nya dan dada Aditia saling menempel. Saat ini Aditia tidak sudah sangat tidak tahan, ia bagaikan terhipnotis oleh tubuh Karina yang hanya berbalut pakainan dalam.


Lama Karina menggoda Aditia, dan Akhirnya pertahanan Aditia mulai goyah. Kini tubuh Aditia mulai memanas, bagaimana pun Aditia adalah pria normal dan Karina masih sah sebagai istrinya.


"Farida," lirih Aditia.


Karina tetap oke, walaupun Aditia menyebut nama Farida. Bagi nya bukan masalah, asalkan Aditia mau menjamah tubuh indahnya malam ini.


"Ayo," ucap Karina sambil melepaskan kancing kemeja Aditia.

__ADS_1


Cup,,! Aditia mengecup bibir Karina sekilas.


Karina tersenyum, setelah kemeja yang di pakai Aditia terlepas. Karina beralih pada sabuk yang melilit pinggang Aditia.


Karena sudah tidak tahan, Aditia mendorong tubuh Karina dengan kasar lalu di tindihnya tubuh itu. Ia menciumi seluruh wajah Karina dengan lembut.


"Sayang, mas udah gak tahan," ucap Aditia yang tangannya menggerayangi tubuh Karina.


Karina menggeliat, setelah beberapa tahun. Akhirnya kini ia merasakan lagi sentuhan tangan Aditia yang lembut.


Lama Aditia dan Karina melakukan oral sexs. Dan kini tiba lah Aditia akan melangsungkan hubungan intim itu.


Namun tiba-tiba, ponsel Aditia berdering sangat keras.


"Siapa sih yang ganggu!" geram Karina.


Aditia segera bangkit dari tubuh Karina, ia segera mengambil ponselnya yang ada di dalam kantong jasnya yang ia pakai sebelumnya.


Ia mengakat telpon itu, yang ternyata adalah Zee dang asisten.


Panjang lebar mereka berbicara melalui sambungan telpon itu, dan Karina masih setia menunggu di atas ranjang.


Setelah mengakat telpon itu, Aditia masuk ke dalam kamar mandi tanpa menghiraukan Karina yang menunggunya.


Di dalam kamar mandi, Aditia merutuki kebodohan nya.


"Bodohnya aku! Begitu saja tidak tahan," gerutu Aditia pada dirinya sendiri. "Dasar iblis sialan!" sambungnya.


Karena hasrat yang tertahan, akhirnya Aditia menyiram dan mengguyur tubuhnya dengan air dingin.


Lima belas menit kemudian, ia keluar dari kamar mandi dengan wajah yang segar tidak sayu seperti tadi.


"Aditia, kok aku di tinggal sih!" protes Karina dengan nada manja.


"Diam!" bentak Aditia "Cepat pergi!" sambungnya.


"Gak mau! Aku mau kamu selesai kan kerjaan tadi," kata Karina.


Karena Karina yang tidak beranjak dari ranjang itu, Aditia memilih mencari duplikat kunci kamar itu. Lama ia mencari dan akhirnya ketemu.


Aditia segera membuka pintu kamar itu, saat ia ingin pergi. Karina meneriakinya.


"Aditia! Kamu mau kemana?"


Aditia tidak menjawab, ia segera berlalu pergi tanpa menghiraukan teriakan Karina.

__ADS_1


Melihat Aditia yang pergi, Karina segera memakai lingeri nya dengan cepat tanpa memakai **********.


"Aditia, tunggu!" Panggil Karina, ia berlari mengejar Aditia yang sudah sampai di depan tangga.


"Kalau kamu gak mau nerima aku lagi kayak dulu, aku bakal lompat dari sini!" ancam Karina sambil berjalan ke pinggir pembatas lantai atas rumah itu.


Aditia menghentikan langkahnya, dan menoleh kepada Karina yang tak jauh dari nya saat ini.


"Kamu mau bunuh diri?" tanya Aditia dengan tawa mengejek.


"Aku gak akan main-main sama ucapan aku, aku akan lompat!" teriak Karina. Ia fikir dengan begitu, Aditia akan luluh.


"Silahkan!" seru Aditia.


"Kamu gak percaya sama omongan aku? Aku gak main-main," kata Karina.


"Aku juga gak main-main, aku malah senang kalau kamu mau lompat dari sini kebawah," ucap Aditia dengan santai.


"Hahahaha, Kalau aku mati, kamu bakal membusuk di penjara! Karena kamu lah tersangka dan penyebab kematian ku," kata Karina sambil tertawa keras.


"Kalau kamu mati, aku akan bilang sama polisi. Kalau kamu gila, kamu gila karena ketahuan selingkuh! Hahahaha, lagian di rumah ini tidak ada CCTV jadi tidak akan ada yang tahu kalau kita bertengkar," kata Aditia yang juga ikut tertawa sumbang.


Kini Karina sudah sangat dekat dengan pembatas lantai atas rumah itu.


"Apa kurangnya aku, Aditia? Bahkan tidur gratis sama aku pun kamu gak mau!" teriak Karina.


"Kamu dengar ya! Lebih baik aku membayar pelacur dari pada tidur sama kamu," ucap Aditia.


Jduarr,,! Bagai di sambar petir siang bolong. Sakit sangat sakit yang di rasakan Karina saat ini, suaminya menganggap nya lebih buruk dan kotor dari seorang pelacur.


"Kamu jahat, Aditia! Kamu jahat!" karena sakit di hatinya, kini Karina menangis.


"Kamu bilang aku jahat! Kamu sadar enggak seberapa jahatnya kamu?" tanya Aditia pada Karina.


Karina menjadi terpojok dengan pertanyaan Aditia yang tertuju pada nya.


"Mari ku ingatkan jahat nya kamu! Pertama, kamu menodai pernikahan kita. Kedua, kamu selingkuh dengan sahabatku sendiri. Ketiga, kamu bawa dan kamu ajak dia melakukan hubungan terlarang itu disini, di rumah ku! Dan ke empat, kamu sudah membuat istri tercinta ku, wanita ku, separuh hidup ku pergi dari rumah ku sendiri," ucap Aditia panjang lebar, matanya memerah tak kuasa menahan tangis. Namun ia tahan, ia tidak mau menangis di depan wanita yang telah menoreh luka yang teramat besar dan dalam di hatinya.


Mendengar semua ucapan Aditia, Karina menjadi semakin terisak. Namun ia belum juga sadar, ia masih tidak terima dengan posisinya yang di rebut oleh Farida.


"Kamu berubah, berubah semenjak kamu bertemu dan kenal sama perempuan itu," ucap Karina.


"Aku benci perempuan itu, aku bakam cari dan membunuh dia," teriak Karina seperti orang gila.


"Berani kamu metentuh istri ku! Maka akan ku pastikan hidup kamu hancur sehancur hancurnya," geram Aditia.

__ADS_1


__ADS_2