
Setelah kejadian itu, Karina selalu mencoba meruntuhkan pertahan hati Farida.
Ia sengaja selalu mengeluarkan drama nya saat tidak ada Aditia.
Dan tak terasa sebulan telah berlalu, kini kandungan Farida sudah memasuki bulan ke enam.
"Gak kerasa, kehamilan kamu udah memasuki usia keenam bulan ya sayang," kata Aditia sambil membelai perut buncit Farida.
"Iya mas, aku gak sabar nunggu dia lahir ke dunia. Setelah dia lahir dengan selamat, Ida bisa tenang!" kata Farida tanpa memikirkan ucapannya terlebih dahulu.
"Maksud kamu tenang?" tanya Aditia, Aditia menyadari ucapan istrinya yang ngelantur.
"Eh, maksud Ida. Kan kalau anak kita udah lahir, Ida bisa tenang kemana-mana. Gak perlu gembol begini." timbal Farida sambil menggaruk kepalanya.
"Jangan bikin mas takut deh! Kata-kata kamu itu seakan-akan mau pergi jauh ninggalin mas dan anak kita," kata Aditia sambil mengusap-usap kepala sang istri. "Oiya, besok malam teman mas dan istrinya bakal datang kesini," sambung Aditia.
"Siapa mas? Apa Ida kenal?" tanya Farida.
"Itu, temen mas yang namanya Raka," kata Aditia. "Kasian dia, udah dua tahun menikah. Tapi istrinya belum hamil juga," sambung Aditia lagi.
"Suatu saat nanti tuhan bakal kasih, mas. Suruh banyak doa dan di sertai usaha," kata Farida kepada suaminya.
"Kamu mau kan masakin mereka, nanti mas bantuin!"
"Tapi, Ida takut kalau mereka gak suka masakan Ida mas," ucap Farida.
"Kamu gak usah khawatir sama mereka, Raka dan istrinya itu orang baik kok." timbal Aditia meyakinkan istrinya.
"Iya deh! Nanti Ida bakal masakin mereka masakan terbaik Ida," kata Farida.
Keesokan harinya.
Aditia dan Farida di sibukkan dengan kegiatan memasak mereka. Mulai dari belanja di siang hari, hingga mengolah bahan itu menjadi masakan di sore harinya.
"Kamu capek?" tanya Aditia "Kalau capek, biar mas dan mbok aja yang nyelesain," kata Aditia.
"Iya nduk, nanti nduk kecapekan terus sakit!" tambah mbok Yuyun.
"Ida gak capek kok, kalian tenang aja," kata Farida "Oiya, mbak Karina kemana ya?" Tanya Farida.
Pasalnya dari pagi, Karina tidak kelihatan batang hidungnya.
__ADS_1
"Tadi pagi-pagi sekali, Karuan pergi! Kayaknya si nemuin den Bara," jelas mbok Yuyun.
"Ya udah deh, gak usah difikirin!" sahut Aditia.
Farida pun diam, ia takut jika membahas masalah Karina. Akan membuat mood suaminya buruk.
Tak terasa, jam sudah menunjukan pukul lima sore.
"Sayang, kamu mandi dulu ya! Udah sore," ucap Aditia pada istrinya.
"Iya," timbal Farida. "Mbok, Ida mandi duluan ya. Nanti kalau Ida udah mandi, baru gantian mbok," kata Farida dan di angguki oleh mbok Yuyun.
Farida segera bergegas ke lantai atas, dan memulai ritual mandinya dengan secepat kilat.
Setelah itu, ia kembali ke lantai bawah lalu menuju dapur. Dan menyuruh mbok Yuyun untuk mandi.
"Mbok, sana mbok mandi dulu. Bentar lagi magrib," kata Farida.
"Mas, bentar lagi masakan kita selesai ni. Mending sekarang mas mandi juga, habis itu kita sholat magrib berjamaah," ucap Farida pada suaminya.
Pukul tujuh malam, tamu yang mereka tunggu-tunggu pun datang.
Aditia menyambut tamu mereka dengan perasaan senang.
Pasalnya, di dalam keadaan mabuk. Karina menyebut Farida sebagai pelakor.
"Dit, dia siapa?" tanya Raka yang tak lain adalah tamu Aditia.
"Dia istri pertama ku!" sahut Aditia.
Namun yang membuat Raka dan Aira lebih terkejut lagi, kedatangan Karina yang mabuk berat, di ikuti oleh Bara di belakangnya.
"Maaf, menggangu kenyamanan kalian!" Bara segera membawa Karina pergi menuju lantai atas.
Sesampainya di lantai atas, Bara segera membawa tubuh sempoyongan Karina kedalam kamar.
"Pelakor itu bawa temennya kesini!" cerocos Karina.
"Jangan sebut dia pelakor, dia wanita baik-baik, Karina! Kita lah yang harus di sebut penjahat disini," kata Bara yang belum tentu di sadari oleh Karina.
"Gara-gara kamu, makan malam mereka jadi kacau," kata Bara "Aku jadi semakin bersalah dengan Aditia, mereka pasti sangat malu," sambungnya pada dirinya sendiri.
__ADS_1
Karena merasa lelah, seharian menemani Karina yang oleng. Akhirnya Bara menidurkan tubuh lelahnya di atas sofa yang ada di kamar Karina.
Ia sudah tidak lagi menjamah tubuh Karina setelah Aditia menikah dengan Farida. Ia ingin memiliki Karina sepenuhnya dan dalam ikatan pernikahan yang sah.
Kini Bara sadar, bahwa hubungan tanpa adanya ikatan pernikahan adalah sebuah dosa besar. Jadi ia tidak ingin lagi menambah dan menumpuk dosa.
Tak butuh waktu lama, kini Bara menyelami alam mimpi di sofa itu.
Keesokan pagi nya, Bara terbangun. Ia melihat Karina yanng masih terlelap.
Ia segera beranjak dari sofa itu menuju kamar mandi, ia membasuh wajahnya.
Dan setelahnya,ia segera menemui Aditia yang ada di meja dapur.
"Dit, aku minta maaf. Aku gak bermaksud buat ngerusak acara makan malam kalian," ucap Bara sambil menunjukan kepanya di depan Aditia.
"Gak papa, lagian mereka bisa ngerti. Tapi masalahnya, perkataan Karina telah menyakiti hati Farida," kata Aditia tanpa menatap Bara yang ada di hadapannya.
"Sekali lagi aku minta maaf, kalo aku tahu kayak gitu! Aku gak bakal bawa Karina pulang semalam," ucap Bara lagi.
"Udah ku bilang, gak papa! Lagian yang sudah biarlah lalu, aku gak mau masalah ini terus di ingat. Masalah hubungan mu dengan Karina, aku tidak menyalahkan kalian. Karena kalian sama-sama menyukai," kata Aditia.
"Aku lah yang menyukai, tapi tidak dengan Karina. Selama ini ia hanya menjadikan aku tempat berlabuh kesepiannya saja, dia tidak pernah mencintai ku. Yang ia cintai hanya dirimu dit, hanya kamu!"
Tanpa mereka sadari, ucapan mereka di dengar oleh Farida.
"Eh, sayang! Kamu udah lama di situ," kata Aditia saat melihat Farida yang berdiri mematung di ujung ruangan makan itu.
"Belum, baru aja," bohong Farida.
"Sini, kamu pasti mau kenal sama Bara," kata Aditia.
"Ra, ini istri kecilku. Selama ini kalian belum pernah bertatap muka langsung kan," kata Aditia.
Bara menjadi semakin tidak enak dengan keadaan itu, setelah berkenalan dengan Farida. Bara pun segera pamit pulang.
"Kak Bara gak ikut sarapan dulu," tawar Farida.
"Gak usah, terimakasih. Aku bisa sarapan di rumah saja," kata Bara tak enak hati.
"Padahal Ida masak banyak loh!" Farida menujuk meja makan yang sudah ada makanan tersusun rapi.
__ADS_1
"Bukan maksud ku menolak, tapi aku lagi ada urusan mendadak," bohong Bara, setelah itu ia segera pergi meninggalkan ruangan makan itu.