
Setelah Karina keluar dari kamar itu, Aditia merapatkan tubuhnya pada Farida yang bersandar di ujung ranjang.
"Sayang, baik-baiknya di dalam perut bunda! Ayah sayang sama kamu, maafin ayah karena udah bikin sakit kemarin," kata Aditia sambil mengelus perut istrinya.
Farida tersenyum, lalu tangannya mengelus kepala suaminya. Ia membiarkan calon anaknya berinteraksi dengan sang ayah.
Cukup lama Aditia mengelus perut istrinya, hingga sang istri pun tertidur.
Aditia yang melihat istrinya terlelap pun langsung membenarkan posisi tidur nya, agar lebih nyaman.
Setelah membenarkan posisi itu, ia pun ikut memejamkan mata.
Hingga sore mereka hari, mereka berdua pun belum bangun dari tidur mereka.
***
"Kamu berubah, Kar," ucap seseorang yang tak lain adalah Bara. Ia merasa Karina mulai menjauh dari nya.
"Aku harus gimana sekarang? Mempertahanin kamu atau ku lepas gitu aja, seandainya Aditia masih mencintai kamu. Aku bakal ngelepas kamu dengan tenang. Tapi sekarang, Aditia sangat membenci kamu!" Ia memandangi foto Karina di ponselnya.
Saat dia sedang asik memandangi foto Karina, tiba-tiba ponselnya berdering.
"Tumben Karina nelpon," ucap nya saat melihat nama yanh tertera di layar ponselnya.
"Hallo!" Bara menyauti Karina.
"Hallo, Bara! Hiks hiks," terdengar suara Karina menangis di sebrang telpon sana.
"Karin, kamu kenapa?" tanya Bara.
"Aku kesel sama Adit! Adit gak pernah ngertiin aku sedikitpun," ucap Karina di seberang telpon.
"Kamu minta pengertian Adit. sedangkan selama ini kamu gak pernah ngertiin dia, Karina! Seharusnya kamu sadar, yang salah selama ini adalah kita. Aditia gak salah, kita lah yang salah dan berdosa di sini," ucap Bara dalam hati.
"Bara, kamu masih di sana!" Panggil Karina, karena ia tak lagi mendengar suara Bara.
"Ehh, iya, aku masih disini!" timbal Bara yang tersadar dari lamunannya.
"Aku mau, kamu nemenin aku! Jemput aku sekarang, aku tunggu," kata Karina pada Bara.
"Ya udah, aku jemput sekarang. Kamu lagi di mana?" tanya Bara.
"Aku di rumah!" timbal Karina.
__ADS_1
"Lalu, Aditia dan istri kecilnya ada?" tanya Bara lagi.
"Ada, mereka lagi kurungan dalam kamar!" Karina tiba-tiba menjadi sangat sewot. "Cepet jemput, aku gak mau jadi nyamuk terus!"
"Iya, aku kesana sekarang. Kamu sabar dong!" Bara segera mematikan sambungan telpon itu.
Ia segera bergegas menuju kediaman Aditia. Ia selalu sabar menghadapi sikap Karina yang semaunya, padahal sudah jelas. Jika selama ini ia cuman di jadikan tempat membunang beban.
Setengah jam kemudian, Bara sampai di depan rumah Aditia. Seperti biasa, ia langsung masuk tanpa izin terlebih dahulu.
Saat ia melewati kamar Aditia dan Farida yang pintunya tidak di tutup oleh Karina saat pergi dari sana. Ia melihat pemandangan indah, yaitu Aditia yang tertidur sambil memeluk istrinya.
Bara tersenyum kecil melihatnya. "Aku senang melihatmu seperti itu Aditia," gumannya.
Setelah itu, ia segera pergi menuju kamar Karina.
Ia masuk ke dalam kamar itu, dan di lihatnya Karina sedang berdiri di dekat jendela. Bara segera menghampirinya dan memeluk Karina dari belakang.
"Sayang, aku rindu," kata Bara sambil mencium bahu Karina.
"Bara, aku benar-benar wanita kecil itu pergi dari hidup Aditia," kata Karina, dan perkataannya menghentikan kegiatan Bara. Bara segera melepaskan pelukannya dengan perlahan.
"Maaf, Karina! Aku tidak bisa membantu mu!" timbal Bara dengan pelan namun tegas.
"Aku sayang, aku cinta, dan aku perduli sama kamu! Maka dari itu aku gak mau bantu kamu berbuat kesalahan lebih jauh lagi," kata Bara sambil memeluk kembali tubuh Karina.
Namun Karina memberontak, ia memukul dada Bara semaunya.
"Kamu jahat! Kamu gak cinta dan gak sayang sama aku!" Karina menangis sambil memukul dada bidang Bara.
Bara membiarkan aksi Karina, ia membiarkan wanita yang ia cintai itu meluapkan amarah dan kekesalannya pada dirinya.
"Pukul lah sesuka mu Karina, asalkan setelah ini kau lega!" Bara menahan sakit yang ia rasa akibat pukulan yang bertubi-tubi dari Karina.
"Kamu jahat, selama ini gak ada yang perduli sama aku! Ayah ku pergi entah kemana? Ibu ninggalin aku, Aditia dan sekarang kamu!" Karina menangis sesegukan. "Kenapa? Kenapa gak ada yang perduli sama aku? Kalian semua jahat," sambung Karina.
"Jangan pernah anggap orang di sekitar kamu gak perduli! Kamu lah yang selama ini salah, kamu selalu mengabaikan orang-orang yang ada di sekitar kamu," ucap Bara "Aku kurang apa selama ini? Semua udah aku kasih dan aku lakuin, tapi kamu gak pernah anggap aku ada," imbuh Bara.
Karina yang mendengar ucapan Bara pun menghentikan aksinya.
Ia menatap wajah teduh Bara, namun hanya sesaat. Setelah itu, ia kembali mengamuk.
"Aku bakal hancurin perempuan itu sendirian," ucap Karina sambil menatap lekat wajah Bara.
__ADS_1
Bara pun hanya bisa menghela nafas berat dan mengghembuskan nya dengan kasar.
Mau bicara seperti apa pun percuma pada Karina, Keras kepala wanita itu tiada tandanginya.
"Ya udah, terserah! Sekarang kamu maunya gimana?" tanya Bara kemudian.
"Aku gak mau apa-apa! Aku capek, mau istirahat," kata Karina.
"Kalo gitu aku pulang!" Bara berjalan kearah pintu.
"Terserah!" sahut Karina.
Di kamar Aditia dan Farida.
Aditia terbangun dari tidurnya, ia melihat jam sudah menunjukan pukul tiga sore.
Ia pun berniat turun kelantai bawah untuk menyuruh mbok Yuyun membuat makanan untuk istri kecilnya.
"Emm, udah sore! Farida belum makan apa pun, lebih baik sekarang aku kebawah," Aditia mengucek matanya lalu beranjak dari ranjang itu dengan perlahan.
Saat ia keluar dari kamar, ia bertabrakan dengan Bara.
"Maaf," ucap Bara sambil menunduk.
"Gak papa, aku juga gak lihat tadi," kata Aditia.
Mendengar Aditia yang berbicara dengannya, Bara pun mendongakkan wajahnya.
"Adit, aku minta maaf," lirih Bara, sungguh di hati kecilnya ia sangat merasa bersalah.
"I'ts oke! Aku gak papa, tapi kayaknya pasangan mu yang kenapa-kenapa!" Aditia menepuk pundak Bara, lalu ia menuruni anak tangga terlebih dahulu.
Bara terpaku di tempatnya, ia hanya menatap kepergian Aditia yang menuruni anak tangga.
"Kenapa aku baru sadar sekarang? Kenapa tidak kusadari sebelumnya?" tanya Bara pada dirinya sendiri.
"Maafkan aku, Dit. Aku janji akan melindungi Istri kecilmu dari kekejaman Karina." Setelah itu, Bara pun ikut turun ke lantai bawah.
Ia segera pulang, karena berdiam di rumah Aditia pun tak ada gunanya. Niat hati ingin jalan bersama Karina, malah pukulan bertubi-tubi yang ia terima.
Sungguh malang nasib dan takdirmu Bara😂
Nanti kita bikin mati aja si Bara ya!
__ADS_1