
Seminggu kemudian Karina sudah di perbolehkan pulang kerumah. Sebenarnya Aditia tidak ingin membawa Karina pulang, namun Farida terus mendesak dan memaksa Aditia. Dan akhirnya Aditia pun mengizinkan Farida membawa Karina pulang bersama mereka.
"Aku izinkan dia ikut kita. Tapi aku gak mau repot, setelah dia dapat donor Kornea mata. Aku bakal langsung nalak dia," kata Aditia dengan wajah kesal.
"Iya mas.. Tapi harus nunggu Mbak Karina sembuh dulu kalo Mas mau ceria'in dia," ucap Farida.
Hari itu, Farida segera mengemasi barang-barang Karina selama di Rumah sakit. Dua orang perawat pun segera mengantarkan Karina pulang ke kediaman Aditia.
"Tolong kalian bawa dia ke lantai atas di kamar nomer Dua dari sini!" perintah Aditia kepada kedua perawat itu.
"Baik Pak." timbal Salah satu Perawat pria itu.
"Adit.. Kenapa gak kamu sih yang bawa aku ke lantai atas, kenapa mesti nyuruh orang lain. Kamu kan suami aku!" protes Karina.
"Kamu nurut aja kalo kamu masih mau tinggal di sini!" timbal Aditia dengan nada datarnya.
"Kamu jahat..!" pekik Karina.
Siang harinya, Mbok Yuyun membawakan Karina makanan ke lantai atas.
"Nyonya.. Ayo makan dulu, Habis itu minum obat," kata Mbok Yuyun.
"Saya gak lapar.. Bawa makanannya pergi dari sini!" kata Karina dengan nada membentak.
Diam-diam Farida datang dan berbisik kepada Mbok Yuyun.
Mbok Yuyun agak ragu mengatakan hal yang di sampaikan Nyonya mudanya itu kepada Karina. Namun Farida mengangguk agar Mbok Yuyun yakin.
"Kalau Nyonya gak mau makan dan gak mau minum Obat. Den Adit akan segera menceraikan Nyonya, karena Nyonya adalah Beban nya saat ini!" kata Mbok Yuyun kepada Karina.
__ADS_1
Dengan terpaksa, Karina pun menerima suapan sendok yang di berikan Farida. Iya.. Farida lah yang menyuapi Karina, bukan Mbok Yuyun. Mbok Yuyun hanya berdiri di samping Farida.
'Tulus nya hati mu Ndok.. Di jahati, di hina dan di caci maki lah kok masih mau mengurus wanita jahat seperti Karina,' batin Mbok Yuyun.
Tak terasa, isi piring itu pun habis.
"Mau nambah gak Nyon?" tanya Mbok Yuyun kemudian.
"Enggak usah Mbok. Nanti kalau Karina lapar, bakal Karina panggil lagi," kata Karina yang mulai melunak.
Ia sangat menyukai makanan itu. Tanpa ia tahu bahwa makanan itu adalah masakan Farida dan bahkan yang menyuapinya adalah Farida.
Setelah itu, Mbok Yuyun dan Farida meninggalkan kamar Karina. Farida segera kembali ke Kamarnya.
"Sayang.." panggil Aditia yang sedang tiduran di Sofa.
"Hmm.. Kenapa Mas?" tanya Farida seraya mendekat.
"Jenguk?" tanya Farida.
"Ish.. Aku mau itu!" tunjuk Aditia pada area sensitive istrinya.
"Ini masih siang Mas," tolak Farida.
"Mas kan udah lama gak jenguk anak kita, mas kan pengen dan kangen." kata Aditia dengan wajah memelas.
"Terus gimana caranya? Perut Ida kan udah besar Mas, lagian kan sebentar lagi Baby nya lahir," kata Farida yang takut terjadi sesuatu dengan kandungannya.
"Mas bakal pelan-pelan, dan mas janji gak akan kena perut kamu sayang," ucap Aditia sambil mengelus perut istrinya.
__ADS_1
Akhirnya Farida pun mengangguk. Aditia segera bangkit dari Sofa dan menuntun istrinya ke atas ranjang kamar itu.
Dengan perlahan Aditia melucuti baju hamil yang di kenakan sang Istri.
"Waoww.. Sayang, bukitnya jadi besar ya." kata Aditia sambil meyentuh perlahan bukit kembar istrinya yang masih tertutup Bra.
"Mas.. Jangan di pencet, sakit tauk.. Nanti air nya keluar," kata Istrinya yang kini bersandar di dinding Ranjang.
"Mas pelan-pelan kok.. " kini tangan Aditia mencoba meraih pengait Bra yang di kenakan sang istri.
"Emm.." lenguh Farida saat bibir suaminya menyentuh puncak bukitnya. "Mas.."
"Kenapa sayang?" tanya Aditia sambil mendongakan wajahnya.
"Jangan main di sana Ah.. Itukan punya bayi kita," protes Farida.
"Sebelum Bayi kita, ya Ayah nya dulu lah!" sahut Aditia sambil menggerayangi tubuh polos sang istri.
Aditia semakin mempercepat permainan bi*ir nya di puncak bukit itu, menyesap Air yang keluar seperti bayi yang sedang kehausan.
Farida hanya bisa mendesah nikmat dengan permainan suami nya.
"Sayang.. Mas masukin pelan-pelan ya, mas janji gak akan sakit dan gak akan lama," kata Aditia setelah puas menyesap bukit istrinya itu.
Dengan perlahan ia memulai aktivitasnya, ia menghentakan tubuhnya di atas sang istri dengan perlahan.
Akhirnya pergulatan panas itu terjadi walaupun di lakukan oleh satu pihak saja tanpa ada perlawanan dati pihak ke dua.
"Terimakasih sayang.." ucap Aditia sambil memberikan kecupan lembut di kening sang istri.
__ADS_1
Setelah pertempuran itu, Aditia dan Farida pun tidur siang bersama.
BERSAMBUNG..